Sabtu, 08 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DIMINATI KARENA MASUK KE JANTUNG KOTA
 
03 Oktober 2011


(Jakarta – haltebus.com) Siang itu haltebus.com menyambangi Stasiun Gambir. Tak bermaksud naik kereta, tetapi melihat dari dekat satu-satunya bus dari Lampung yang masuk ke jantung kota Jakarta. Ya, apalagi kalau bukan bus PERUM DAMRI. Sayangnya, sejak dua tahun terakhir bus-bus DAMRI jurusan Lampung – Jakarta tak lagi parkir di areal stasiun. “Nanti menjelang keberangkatan, jam 16.00 biasanya baru datang,” ujar seorang porter stasiun.

Tak terasa perjalanan DAMRI Lampung – Gambir memasuki dekade kedua sejak pertama kali beroperasi di pertengahan awal 1990-an. Bus putih bergaris-garis biru yang khas ini cukup memikat penumpang Lampung – Jakarta. Hari itu, enam bus dari beberapa kota di Lampung seperti Metro, Pringsewu, Bandar Jaya dan Bandar Lampung terparkir di areal parkir stasiun DAMRI di Jalan Kramat, Jakarta Pusat. Bus-bus yang berbasis di Stasiun DAMRI Lampung itu melayani pemberangkatan malam hari.

Menurut seorang pengemudinya, Sungkowo, di saat ramai bus-bus DAMRI tidak ada yang parkir. Biasanya langsung kembali ke Lampung, dengan lama perjalanan rata-rata delapan jam, termasuk penyeberangan ferry Merak-Bakauheni.

Menilik keberadaan dan jumlah bus yang berangkat setiap hari, DAMRI Lampung – Gambir tergolong langgeng. Pilihan jam pemberangkatan cukup banyak 08.00, 09.00 dan 10.00 di pagi hari, serta 20.00, 21.00 dan 22.00 di malam hari. Dengan asumsi jam pemberangkatan dan kota tujuan di Lampung sedikitnya 24 bus berangkat dari Lampung dan 24 bus dari Jakarta. Tarifnya mulai Rp. 115 ribu hingga Rp. 160 ribu untuk bus kelas AC Bisnis dan Eksekutif. Semua bus Lampung – Gambir ber-AC.

Sungkowo mengakui, selama 15 tahun melayani jalur Lampung – Gambir, mayoritas penumpang memilih DAMRI karena tujuan akhir di Jakarta cukup strategis, yakni di pusat kota. Begitu juga di Lampung, berangkat dari stasiun DAMRI dari empat kota. Meski menurut Sungkowo, tarifnya tergolong mahal dibanding yang lain, setiap akhir pekan dan di musim liburan busnya selalu penuh. “Pengalaman saya, bus kami ini diminati orang-orang sepuh dan anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk berlibur ke Jakarta atau ke Lampung, nanti di tujuan sudah dijemput,” kata dia.



Faktor naik dan turun di luar terminal di Lampung, menurut Sungkowo, masih dinilai langkah yang paling aman bagi penumpang. Maklum, terminal Rajabasa kurang diminati penumpang karena alasan keamanan.

Belakangan, di era Dirjen Perhubungan Darat Iskandar Abubakar, DAMRI Lampung masuk dalam angkutan pemadu moda. Maksudnya, penumpang beberapa jenis moda angkutan umum bisa melakukan perjalanan hanya dengan satu tiket. Misalnya, dengan membeli satu tiket dari Surabaya, penumpang KA bisa menyambung naik KA ke Palembang. Caranya, setibanya di Stasiun Gambir penumpang melanjutkan perjalanan dengan bus DAMRI ke Stasiun Tanjungkarang lalu naik KA tujuan Palembang. Begitu juga dengan penumpang asal kota-kota lain yang turun di Stasiun Gambir.

Menurut Iskandar Abubakar saat itu, pemadu moda mempermudah orang berpergian. Dia berharap, pemadu moda ini bisa menjadi model transportasi Indonesia. Saat ini, pemadu moda baru bisa dilakukan diantara perusahaan transportasi pemerintah. (mai/ foto-foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013