Kamis, 22 Agustus 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DEMI TAMPIL MENARIK, RELA MENUNGGUI BUS KESAYANGAN
 
28 Oktober 2011


(Jakarta – haltebus.com) Tidak ada bus yang spesifik sama. Itulah keunikan yang bisa kita temukan jika mengamati lebih detail bus-bus yang kerap bersliweran di jalan raya. Entah itu interior, eksterior, perlengkapan bus, maupun asesorisnya. Meskipun berasal dari karoseri yang sama ada saja perbedaan, meskipun perbedaan itu kecil. Dalam banyak hal, perbedaan disebabkan adanya pesanan khusus dari pemilik bus, yang ingin busnya tak sama dengan bus lain.

Begitu juga yang dilakukan oleh Firman Fathur, pemilik Scorpion Holiday, yang mengkhususkan diri pada bus Pariwisata. Demi busnya terlihat menarik, dirinya sengaja menunggu proses pengerjaan busnya. Dari tiga unit bus miliknya, tampilan luarnya memiliki karakter yang tak sama satu sama lain. ”Saya senang bus kami bisa memiliki ciri khas,” katanya kepada haltebus.com, Selasa (25/10/11).

Bus pertamanya, dengan registrasi Scorpion Holiday (SCH) 711 sekilas terlihat serupa dengan bus-bus lain. Berkaroseri Adiputro, bus dengan warna dasar putih dengan stripping abu-abu metalik dan gradasi hijau terlihat bersih. Jika dicermati, model lampu depan dan lampu belakang tak sesuai. Kedua lampu itu tidak dibuat dalam seri produk yang sama, lampu belakang adalah seri terbilang baru di tahun 2009 saat bus itu dibeli Firman. Padahal, chassis-nya keluaran tahun 2003.

Saat lampu bus menyala di malam hari, ada yang menambah perbedaan yang menyolok dengan bus lainnya. Lampu hijau menghiasi bus baik di depan, bodisamping hingga bagian belakang. Warna hijau menjadi warna ‘kebangsaan’ bus-bus milik Firman.

Bus keduanya, SCH 712, tak kalah unik. Bus Mercedes-benz OH-1521/60 ini tak terlihat seperti bus berumur. Bodi keluaran Adiputro tahun 2010 yang membungkus chassis tahun 2000 pun memiliki keunikan. Jika tak cermat, sekilas bus terlihat benar-benar baru. “Saya minta khusus....ada lubang angin di kap mesin bagian belakang...mirip bodi khusus untuk chassis seri terbaru. Interior lampunya juga perlu ijin khusus dari yang punya desain,” ujarnya tanpa mau menyebut sang desainer.

Kurang dari setahun, bus Firman bertambah dua. Dan di tahun kedua, 2011 ini busnya bertambah satu lagi. Dia menyebutnya dengan bus eksperimen. Berbekal chassis bus Mercedes-Benz 1521 tahun 2005, dia mulai mencari bodi yang cocok untuk busnya. Di Satria Motor, karoseri bawaan diganti dengan karoseri lain. Basis bodi diambil dari karoseri buatan tahun 2000. Rehab bodi pun dilakukan, hasilnya seperti desain bus yang benar-benar baru. ”Kami menyebutnya Zonda bus,” kata dia.

Dengan tangan dingin Winarno Ahmad, pemilik Satrio Motor Magelang dimulai proyek eksperimen ini. Butuh waktu dua setengah bulan pengerjaan dan satu bulan sempat terhenti. “Ada beberapa kendala, sehingga kami membutuhkan waktu,” kata dia.



Win, panggilan akrab Winarno Achmad mengungkapkan, ide awal membangun karoseri SCH-713. Dia hanya menjabarkan, kemauan Firman. Kecermatan Satrio Motor, terlihat pada Zonda bus ini. Desain bagian depan, samping dan belakang tak ubahnya hasil karoseri. Misalnya, detail lekuk bagian depan bus yang menyatu dengan lampu membutuhkan ketelitian untuk membentuk konturnya. Belum lagi menyatukan karakter bodi bus model lawas, dengan lampu belakang model terbaru yang beredar di Indonesia.

Kita bisa terkecoh saat pertama melihat dan tak mengira jika bus ini sebenarnya hasil rombakan atau rehab bodi semata. Cara merombak bus di bengkel rehab bodi bus, diakui Firman, agar bus miliknya sesuai dengan harapan. Hal yang sulit dipenuhi karoseri yang memproduksi bus secara massal. “Dua minggu terakhir, karena tak sabar, saya rela menunggu, dan sesekali membantu mas Win mengelas,” ujarnya sambil terkekeh.

Kebiasaan Firman menunggui busnya sudah berlangsung sejak bus pertamanya dibeli. Bukan tak percaya pada pembuatnya, semata-mata demi bus kesayangan. Maklum, dia juga seorang penggemar bus. Dia berharap, dengan cara seperti ini, busnya bisa sesuai karakter yang diinginkannya. Elegan, bersih dan sederhana.

Apa yang dilakukan oleh Firman, Menurut pengamat dan praktisi transportasi Rudy Thehamihardja, membuat busnya berbeda dari bus kebanyakan, adalah hal yang lumrah. Khususnya, di kalangan pengusaha bus Pariwisata. Dia menyatakan, bus Pariwisata harus bisa menarik pelanggannya. Karena itu, harus ada tawaran layanan untuk pelanggan, dan membuat penampilan bus yang berbeda cara yang mudah dilakukan. “Biasanya mereka membentuk karakter bus sesuai dengan target pasar yang dituju,” kata dia.(mai/foto-foto: dok. SCH)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013