Sabtu, 08 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
GAJI PENGEMUDI TRANSJAKARTA NAIK 2,5 KALI LIPAT
 
05 November 2011



(Jakarta – haltebus.com) Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta berencana menaikkan gaji pengemudi bus-bus Transjakarta. Kenaikan ini mulai diterapkan akhir tahun ini. “Ini adalah bentuk perbaikan pelayanan sekaligus kesejahteraan para pramudi," ujar Kepala BLU Transjakarta, M Akbar Kamis (3/11/11) seperti dikutip republika.co.id.

Akbar mengungkapkan, gaji pengemudi bus Transjakarta akan naik dari Rp. 2 juta menjadi Rp 5 juta per bulannya atau naik 2,5 kali lipat. Namun, kenaikan Gaji mereka akan naik dari Rp 2 juta menjadi Rp 5 juta. Namun, kenaikan gaji itu disertai syarat pendidikan pengemudi, yakni Sarjana S-1. “Kalau S1 diberi gaji Rp 2 juta, mereka tidak akan mungkin tertarik,” kata dia.

BLU Transjakarta berharap kenaikan ini bisa memotivasi kinerja pengemudinya. Akbar berpendapat, jika pengemudi digaji Rp 5 juta, mereka akan berpikir dua kali untuk bekerja tidak profesional. Dia menambahkan, kenaikan gaji juga bertujuan untuk menekan angka kecelakaan yang disebabkan kelalaian supir.

Dalam kesempatan itu, Akbar menjelaskan, kebijakan kenaikan gaji ini masih membutuhkan waktu. Sebab, saat ini mekanisme penggajian pengemudi sudah berjalan setidaknya 7 tahun sejak koridor pertama beroperasi. Sebab, ada kontrak antara BLU Transjakarta dengan opertaor dan peraturan-peraturan terkait yang perlu dikaji sebelum dapat diubah. “Perlu adanya perubahan dari segi regulasi dan administrasi,” ujarnya.


Karena itu, kenaikan upah ini rencananya diterapkan mulai Koridor XI (Pulogebang-Kampung Melayu) yang beroperasi akhir tahun ini. Di koridor ini rencananya akan beroperasi 44 unit bus gandeng.

Dalam perbincangan dengan haltebus.com, seorang penanggungjawab operasional salah satu operator Transjakarta mengeluhkan rencana adanya pembedaan gaji ini. Menurut sumber yang menolak disebut namanya ini, adanya perbedaan gaji bisa memicu eksodus pengemudi dari koridor yang sudah ada ke koridor baru. “Itu pasti terjadi, secara alamiah orang akan mencari tempat yang dengan pendapatan lebih tinggi sementara jenis pekerjaannya sama,” ujarnya

Dia juga menyebut, tak mudah mencari pengemudi bus Transjakarta jika sampai eksodus terjadi. Dengan pekerjaan relatif sama dengan bus antar kota antar provinsi, tuntutan menjadi pengemudi bus Transjakarta sangat tinggi. Sementara mencari pengemudi yang mau terikat peraturan-peraturan yang menjadi standar Transjakarta tidak mudah.

Menurut dia, sepintas mengemudikan bus dengan jalur khusus lebih mudah, namun jika ditilik lebih jauh jalur seperti ini membutuhkan kualifikasi psikologi yang cukup tinggi. Trek khusus dilalui sehari-hari, dengan aturan kecepatan maksimum, cara mengemudi, jarak antar bus yang diatur dirasa memberatkan. “Coba bayangkan bagaimana tingkat kejenuhan mereka, dan itu berlangsung setiap hari. Nah sayangnya, sulit mencari pengemudi dengan kualifikasi seperti ini, belum soal tingkat pendidikan,” kata dia.

Persoalan lain lainnya yang tak kalah penting, kata dia, adalah pengemudi bus gandeng. Tidak seperti single bus, mengemudikan bus gandeng butuh keahlian khusus. Tidak mudah mengendalikan sumbu gandengan pada bus. Dia mengingatkan, di Indonesia tidak ada sekolah khusus untuk mengemudikan bus, padahal ke depan bus-bus Transjakarta jenis single bus akan diganti dengan bus gandeng. “Yang paling dekat ya pengemudi truk trailler. Tetapi tingkat kesulitan mengemudikan bus gandeng masih lebih tinggi dibanding truk trailler,” katanya.

Berdasarkan keterangan Kepala BLU Transjakarta, M Akbar, haltebus.com mencatat hingga akhir 2013 tak kurang dari 130 unit bus gandeng ditargetkan beroperasi di Jakarta. (mai/foto ilustrasi: mai)

 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013