Sabtu, 25 Januari 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
ZONDA, LAHIR DARI ILMU POREM
 
07 November 2011


(Jakarta – haltebus.com) Tidak banyak bengkel rehab bodi bus yang bisa membentuk bus seluwes lekuk bodi bus aslinya. Seperti halnya body repair pada mobil, merehab bodi bus juga membutuhkan ketelitian. Ilmu ini yang diterapkan Winarno Ahmad, pemilik Satrio Motor di Magelang. Berbekal kemampuannya, dia merehab bodi bus lama menjadi bus yang terlihat benar-benar baru yang diberi nama Zonda bus. “Saya cuma menerapkan ilmu porem, ilmu keluwesan,” kata dia saat dihubungi haltebus.com via telepon Sabtu (5/11/11)

Zonda bus, sejatinya adalah bus yang dibuat berdasarkan pesanan Firman Fathur, pemilik Scorpion Holidays, operator bus pariwisata di Jawa Barat. Dilihat sekilas dari depan atau belakang, Zonda mirip dengan seri terbaru Royal Coach dari Adiputro dengan lampu Royal atau yang biasa dikenal dengan Jetbus. Jika dilihat sepintas dari samping, maka akan terlihat jelas perbedaannya. Yakni kacanya yang lebar dan list berwarna silver antara kaca samping pertama dengan pintu depan. Zonda menurut pemiliknya, perpaduan desain Jetbus dan Aeroqueen.

Siapapun yang baru pertama kali menilik Zonda bus tak mengira jika bus ini dibangun dari karoseri yang dibuat tahun 2000. Sebelum diubah, jangan bayangkan, bodi bus dalam keadaan siap digunakan. Saat diambil dari sebuah PO bus ternama, bodi bus dalam keadaan teronggok. Kondisinya jauh dari layak. “Saya potong semua rangka bawah bus, dan saya hitung ulang konstruksi seluruh bodi,” kata Winarno bersemangat.

Win, sapaan akrab Winarno, menempatkan Zonda bus sebagai proyek eksperimennya. Menurut dia, belum pernah ada yang menyodorkan desain utuh sebuah bus untuk dibangun di Satrio Motor, selain yang disodorkan Firman. Dia menamai model bus ini sebagai Zonda, terinspirasi dari sebuah pabrikan bus dari China. Dibutuh waktu 2,5 bulan untuk pengerjaan sejak desain disodorkan Firman, hingga bus siap dioperasikan. Karena ada kendala teknis, kata dia, pengerjaan sempat vakum sebulan. Sehingga waktu effektif hanya 1,5 bulan. Salah satu kesulitannya adalah, menemukan bodi bus yang cocok untuk dirombak.

Lelaki kelahiran Magelang ini belajar secara otodidak untuk menghitung berat bodi bus. Mengawali karirnya dari tukang las, Win mempelajari satu per satu pekerjaan-pekerjaan yang terkait membangun bus. Seperti membuat chasis monocoque, mengelas dan memotong bodi bus hingga membentuk serat fiber pada interior. Bahkan, untuk mengecat bus, kerap dikerjakannya sendiri. “Saya percaya mas Win karena bus saya yang pertama juga dirombak disini, saya puas karena pekerjaannya rapi,” kata Firman.

Untuk membentuk lampu depan, dan lampu belakang bukanlah hal yang sulit bagi Win. Ilmunya satu, porem. Apa itu? “Ilmu keluwesan bodi. Entah itu mobil, entah itu bodi bus pasti menerapkan porem ini biar terlihat bagus. Mungkin gampangnya porem sama dengan ilmu desain,” ujarnya.

Ilmu porem dipelajari Win sejak hampir tujuh tahun lalu. Saat dirinya mulai mengelas plat besi. Intinya, menyelaraskan permukaan bodi bus. Setiap lekuk yang ada pada permukaan bodi bus harus sejalan dengan bentuk bodi secara utuh. Kepiawaiannya terlihat dari hasil lekuk bodi yang sulit dibedakan dengan buatan karoseri. Coba tengok lampu Royal sangat pas mempercantik bagian depan bus. Di bagian belakang, lampu yang besar menyatu dengan bodi, tanpa terlihat ‘dipaksakan’. Penggarapannya cukup detail. Lampu belakang yang besar, bisa 'masuk' selaras dengan garis lengkung bodi hanya dengan memotong plat bodi belakang bus.
Bumper belakang juga terlihat pas dengan 'wajah' bagian belakang ini.



Pekerjaan lain yang cukup detail adalah membuat pintu depan, baik di sisi kiri maupun kanan. Tidak hanya membentuk lengkung kaca untuk mempermanis tampilan pintu, Win juga mengikuti tren kaca geser di bagian ini. Kaca geser yang dibuatnya, tak ubahnya seperti bus-bus buatan karoseri besar. Detail penggarapan menjadi kekuatan pria yang hanya menamatkan pendidikannya sampai STM.

Perhitungan Win cukup cermat, untuk ukuran bengkel rehab bus. Dari samping tampilan Zonda bus cukup elegan, dengan kaca lebar yang dipermanis dengan list silver. ”Kuncinya adalah bus harus seimbang dimensinya, baik dari atas ke bawah, depan ke belakang maupun samping kiri dan kanan, tidak hanya dimensi ruang tapi juga berat,” katanya.

Kepada haltebus.com Firman menyatakan kepuasannya bus yang dibuat Win terlihat lebih bagus dari desain yang disodorkannya. Bahkan, dia mengaku tidak menyangka ilmu membangun bus Win juga menyangkut interior bus. “Saya sempat bilang, ini interiornya bagaimana? Dia cuma bilang …gampanglah, eh gak taunya dia juga bisa cetak mulai plafon sampai rak-rak bagasi di kabin,” katanya sambil menggeleng.

Meski pemilik bus mengaku puas, Win menyatakan, dirinya belum sepenuhnya puas. Menurut dia, kepuasan bisa tercapai  jika dirinya bisa membangun bus dengan konstruksi yang pas.
Bagi ayah dua putri ini, bodi bus yang baik adalah yang bisa sesuai dengan chasis baik dimensi ruang maupun beratnya. Apapun jenis dan tipe chasis-nya karena, menurut dia, tiap chasis memiliki karakter yang berbeda. “Zonda bus adalah proyek pertama saya untuk mewujudkan konsep bus yang saya cita-citakan,” ujar Win.

Wah bercita-cita membangun karoseri sendiri? “Sampai saat ini, saya belum membuat bus baru. Masih belajar. Kalau sudah sampai ilmunya untuk membuat bus baru, saya baru bisa memulai berpikir membangun karoseri sendiri,” kata Win. Semoga cepat membuat bus baru. (mai/foto-foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013