Sabtu, 08 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
EFFESIENSI DIMULAI DARI MELURUSKAN ARAH BAN
 
16 November 2011


(Jakarta – haltebus.com)
Spooring dan balancing untuk mobil harus dilakukan ketika kita mengganti ban. Selain untuk menyeimbangkan arah keempat roda dan ban sehingga keseimbangan mobil terjaga saat melaju dalam kecepatan tinggi, spooring dan balancing juga bisa menjaga keawetan ban. Keausan ban yang tidak merata bisa menandakan keempat roda dan ban yang tidak seimbang.

Hal ini juga berlaku untuk sebuah bus. Pernahkah anda membayangkan bagaimana
spooring dan balancing ban bus yang berdiameter satu meter?

Untuk menyeimbangkan roda dan ban bus ternyata gampang-gampang susah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keseimbangan roda dan ban pada bus. Dalam sebuah kesempatan, Jumat (11/11/11)
haltebus.com melihat dari dekat bagaimana menyeimbangkan roda dan ban pada bus milik Blue Star, sebuah perusahaan bus pariwisata.



Pertama tim dari Indo Retreading, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen perawatan ban bus dan truk, memeriksa ban depan bus.
Dengan metering khusus, mereka mengukur kelurusan ban depan dengan sumbu belakang bus. Peralatannya cukup unik. Selain peralatanspooring yang menempel pada ban, ada tongkat meter yang ditempelkan ke chassis yang menjadi penunjuk kelurusan.

Cara mengukurnya cukup menggunakan sinar infra merah yang diarahkan ke tongkat metering itu. ”Sinar ini menunjukkan arah roda yang kita tempelkan alat spooring. Kalau ada di titik nol berarti seimbang,” kata Harianto, mekanik dari Indo Retreading.

Saat roda depan diukur ternyata ada selisih kelurusan pada kedua roda. Cara meluruskan roda pun harus manual. Roda dicopot dari sumbunya, lalu dibawa ke alat
balancing portable. Indo Retreading yang biasa melayani jasa spooring dan balancing panggilan membawa alat balancing dalam mobil box. Dengan pemutar manual, sensor digital yang ada pada alat membaca tingkat keseimbangan. Sama seperti mekanisme penyeimbangan pada mobi, untuk menyeimbangkan roda bus batangan timah direkatkan ke velg. ”Kebanyakan untuk balancing seperti ini menggunakan alat manual seperti ini. Keakuratannya lebih baik dari digital,” kata Harianto sambil merekatkan timah ke velg.



Masalah agak berat ditemukan Harianto saat mengukur roda belakang. Pergeseran roda bus cukup signifikan. Bahkan dia dan asistennya harus dua kali lakukan pengukuran. Ternyata arah roda belakang bergeser ke kiri. Roda kiri bergeser lima centimeter ke belakang, dan roda kanan bergeser lima centimeter ke depan.


Manager Operasional Blue Star Andreas Dian Widjaya mengakui, busnya baru mengalami perbaikan di bagian suspensi belakang. ”Bus ini jalannya agak ’
ngesot’ di bagian roda belakang. Setelah perbaikan, saat di test tidak ada masalah. Begitu jalan beberapa kilometer masalah itu timbul,” kata dia.

Bus yang seharusnya bertugas melayani pelanggan hari itu, terpaksa diperbaiki. ”Ada masalah karena sumbu as roda bergeser, jadi harus disetel ulang, suspensi harus dilonggarkan untuk menempatkannya pada posisi lurus,” ujar Harianto.

Harianto butuh waktu lebih dari tiga jam untuk menyeimbangkan as roda belakang. Tingkat kesulitan cukup tinggi. Sumbu as roda dilepas dari 'ikatan' antara chassis dengan sistem suspensi, baik per daun maun peredam hidroliknya. Bahkan tim Mercedes-Benz Indonesia sempat melihat proses ini. Untuk bus besarnya, Blue Star menggunakan
chassis Mercedes-Benz terbaru OH-1526. ”Kami sering berkonsultasi untuk masalah teknis dengan pihak Mercedes-Benz,” ujar Andreas.

Dihubungi terpisah, Khamim Tohari Tire and Alignment Specialist dari Indo Retreading menjelaskan, titik yang kerap menyebabkan arah roda yang tak lurus adalah ‘kaki-kaki’. Sistem suspensi pada bus yang umumnya terdiri dari per daun dan peredam hidrolik yang tidak pas dudukannya berakibat pada melencengnya arah roda. “Iitu sebabnya kami menjadikan chassis sebagai patokan kelurusan arah bus sehingga mudah ditemukan dimana letak masalahnya,” ujarnya.

Khamim yang juga kerap memberikan jasa analisa dan teknis perawatan ban pada PO-PO menyatakan, tanpa spooring dan balancing umur penggunaan ban bus lebih pendek. Penggunaan ban hanya mencapai 45 – 50 ribu Km. Dengan spooring dan balancing, lanjut dia, bisa mencapai 90 – 80 ribu Km. Namun, ada ban tertentu yang bisa mencapai 125 ribu Km. Bisa dibayangkan berapa lama penggunaan ban jika bus harus berjalan sejauh 1.000 Km setiap dua hari.

Manajemen analisa dan perawatan ban, menurut Khamim, sangat membantu effisiensi biaya operasional sebuah PO Bus. Jika dibandingkan harga ban bus yang mencapai Rp. 2 juta per unit, jasa spooring dan balancing Rp. 300 ribu terbilang murah. “Kami terpaksa mengikat kontrak dengan klien karena dalam sehari belum tentu dua bus bisa ditangani. Kami juga menyediakan analis kami yang ditempatkan pada klien untuk mempermudah analisa,” kata dia.

Pentingnya memperhitungkan operasional bus, diakui pula oleh Andreas. Menurut dia, biaya perawatan mengambil porsi cukup besar pada biaya operasional. Blue Star mengikat kontrak 6 bulan untuk jasa analisa dan perawatan ban. “Biasanya kami baru bisa menghitung beban perawatan di belakang. Memperhitungkan effesiensi pada perawatan, bisa meringankan beban opersional kami,” katanya.(mai/foto-foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013