Minggu, 25 Juni 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
TRANSMISI PENGATUR PERILAKU PENGEMUDI
 
14 Desember 2011


(Yogyakarta – haltebus.com) Jika kita naik bus dan memperhatikan bagaimana pengemudi menjalankan bus, maka kita akan melihat kelincahan tangan dan kaki si pengemudi dalam mengendalikan busnya. Tangan kiri bersiap memindah tuas transmisi, diimbangi kaki kiri yang menginjak pedal kopling dan kaki kanan menginjak pedal gas. Begitu berulang saat bus melaju kencang ataupun melambat. Kelincahan ini seringkali disebut pengendalian si pengemudi terhadap kemampuan mesin, dan kebutuhan akan laju kendaraan.

Nah, lalu bagaimana jika fungsi-fungsi ini berubah? Mengemudikan bus hanya cukup dengan kaki kanan yang menginjak pedal gas dan rem, sesekali dibantu jari tangan untuk memindahkan transmisi. Inilah gambaran yang didapat haltebus.com saat mengikuti uji coba transmisi otomatis pada bus di Yogyakarta, Rabu (7/12/11) lalu.

Bagi sebagian kalangan, mungkin terasa asing, kok ada ya transmisi otomatis untuk bus? Sementara, bagi pemerhati bus transmisi otomatis pada bus bukanlah barang asing. Transmisi ini sudah dikenal sejak dekade 1980-an di Indonesia dengan masuknya bus-bus tingkat, yang umumnya digunakan sebagai bus kota.

Seiring dengan perkembangan teknologi pada bus, di dekade pertama 2000 ini, aplikasi transmisi otomatis mulai berkembang. Lagi-lagi, aplikasinya diawali oleh bus kota. Seperti bus-bus Transjakarta, yang mulai mengaplikasikan transmisi otomatis sejak Koridor I beroperasi hingga Koridor X.

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, penggunaan transmisi otomatis mulai merambah bus-bus antar kota. “Keunggulan transmisi otomatis adalah, kinerja mesin lebih terjaga karena beban kerjanya diatur sedemikian rupa, sehingga cukup effesiensi untuk menekan biaya operasional,” kata Stevan Wangsasinarta, Sales Manager Dieselindo Utama Nusa, distributor transmisi otomatis Allison di Indonesia di sela-sela uji coba.

Uji coba sendiri dilakukan di jalur Yogyakarta – Kaliurang, yang menanjak, menurun dan berkelok-kelok. Pada jalur seperti ini, akselerasi perpindahan gigi transmisi bisa diuji. Tertarik untuk mengetahui keunggulan transmisi otomatis, beberapa pengusaha bus ikut mencoba mengemudikan langsung. Sementara sebagian lainnya asyik menyimak layar monitor yang menampilkan performa mesin secara langsung saat bus berjalan.

Kurnia Lesani Adnan, Direktur PO Siliwangi Antar Nusa (Bengkulu) yang mencoba mengemudikan bus bertransmisi otomatis, terlihat kaku. Dengan mimik serius dia memperhatikan jalan, sesekali melihat indikator putaran mesin dan membuka jendela di sisi pengemudi. Kepalanya dicondongkan ke arah jendela yang terbuka. Kaki kanannya menekan pedal gas, sambil satu dua kali sedikit mengayunkannya.

Biasanya dia menguji kemampuan bus-bus bertransmisi manual. Kalaupun mengemudikan kendaraan bertransmisi otomatis, hanya sebatas mobil, bukan bus. “Agak kesulitan juga waktu menyesuaikan injakan pedal gas, melihat RPM mesin sambil mendengar suara mesin di belakang. Saya masih mengira-gira, memastikan injakan pedal gas pas, posisi gigi transmisi dan kebutuhan tenaga mesin untuk menyalip kendaraan di depan,” katanya.

Meski Sani, panggilan akrab Kurnia, kerap mengemudikan sedan bertransmisi otomatis dan mahir mengemudikan bus, dia membutuhkan waktu lebih dari 30 menit harus beradaptasi dengan transmisi otomatis pada bus. Itu pun tergolong belum ‘menguasai’ bus sepenuhnya.

Setali tiga uang, Tri Cahyo Edi Wibowo, Manager PO. Bimo (Yogyakarta) juga kikuk saat mencoba bus tanpa tuas transmisi. Kaki kirinya sesekali terlihat seperti menjejak lantai bus. Aksi lirak-lirik indikator RPM pada dashboard juga dilakukannya. Di jalan menurun panjang, sesekali tangan kirinya memainkan tuas retarder, untuk membantu mengurangi laju kendaraan. “Nyaman sih, cuma butuh adaptasi. Maklum biasa injak kopling,” kata dia.

Rekan duet Sani yang kerap ikut menjajal kemampuan bus, Andreas Dian Widjaya Manager PO. Blue Star (Jakarta) terlihat lebih santai. Ini adalah kali ketiga, dia mencoba bus bertransmisi otomatis. Di jalan tangannya lincah memainkan tuas retarder. Sementara pandangannya cenderung fokus ke depan. “Karena sudah pernah mencoba, saya sudah mengerti karakternya,” ujar Manager Operasional PO. Blue Star ini singkat.

Bus yang mereka kendarai adalah bus Mercedes-Benz tipe terbaru di pasaran, yakni OH-1526 dengan mesin OM-906LA. Sejatinya, OH-1526 yang dijual di pasar Indonesia tidak dilengkapi dengan transmisi otomatis, namun elektrifikasi pada mesin ini, memungkinkan pemasangan transmisi otomatis. Seperti dua bus yang diujicobakan hari itu. Stevan mengatakan, transmisi otomatis bisa diaplikasikan pada bus-bus tipe terbaru yang beredar di Indonesia saat ini.

Prinsip kerja transmisi otomatis untuk bus pada dasarnya tak jauh berbeda dengan aplikasi pada kendaraan kecil. Hanya saja, ada opsi retader yakni alat yang bisa mengatur perpindahan gigi transmisi dari posisi tinggi ke rendah. Retarder ini memungkinkan pengereman dengan bantuan putaran mesin.

Stevan, menjelaskan, pada transmisi otomatis putaran mesin diatur dengan perangkat elektornik layaknya Electronic Control Unit (ECU) pada mesin bus. Perangkat yang dinamai Transmission Control Module (TCM) ini memungkinkan gigi transmisi berpindah dinamis mengikuti batas putaran mesin yang ditentukan. Biasanya di kisaran dua ribu RPM. “Dengan TCM karakter pengemudi juga bisa diketahui, sejauh mana dia beradaptasi dengan mesin bertransmisi otomatis,” kata dia.

Kondisi ini memaksa pengemudi untuk menyesuaikan diri dengan putaran mesin bus. Harry Song, pengemudi yang mengemudikan bus bertransmisi otomatis mengakui, butuh kesabaran dalam beradaptasi. Dia mengungkapkan, di awal mengemudikan busnya seringkali kaki kirinya ikut ‘main’ karena sudah terbiasa menginjak kopling. Tapi, lambat laun, dia membiasakan diri. “Setelah terbiasa dan bisa adaptasi, ternyata gak jauh berbeda dengan mengemudikan yang berkopling. Yang pasti kerja saya lebih ringan,” ujar pria yang satu setengah tahun terakhir membawa bus transmisi otomatis ini.

Harry yang sudah menguasai busnya terlihat lincah mengemudikan bus bertenaga 260HP, baik dijalan menanjak maupun menurun yang penuh kelokan, meski lebih dari 15 tahun, dia mengemudikan bus bertansmisi manual. Alhasil, bus Safari Dharma Raya yang dikemudikannya melesat meninggalkan bus Universitas Semarang, yang hari itu dicoba kemampuan transmisi otomatisnya. (naskah: mai/ foto-foto: mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013