Sabtu, 16 Desember 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SEDIAKAN PENYEDUH KOPI UNTUK TEMAN PERJALANAN
 
19 Desember 2011


(Bogor – haltebus.com) Bus-bus Pariwisata biasa menempuh berbagai jenis perjalanan sesuai dengan kebutuhan pelanggannya. Tidak jarang bus pariwisata digunakan untuk wisata antar pulau. Wajar jika, kenyamanan di dalam bus harus dijaga. Bagaimana menjadikan pelanggan betah di dalam bus inilah yang menjadi perhatian PO Kerub. “Kami menyediakan kemudahan pelanggan kami untuk memperoleh air panas pada seluruh bus kami, ada pula beberapa bus kami yang tersedia lemari pendingin,” ujar pemilik PO. Kerub, Ferdinand Hartanto, kepada haltebus.com Rabu (14/12/11).


Menurut Ferdinand, pihaknya menyediakan coffe maker (alat penyeduh kopi) untuk menyuplai air panas selama perjalanan. Fasilitas ini sengaja disediakan di dalam busnya karena kebutuhan air panas menjadi salah satu kebutuhan dasar saat perjalanan. Pelanggan dengan mudah menyeduh teh, kopi, maupun mie instan di kala pagi saat masih dalam perjalanan. Dia mengatakan, salah satu tipikal perjalanan wisata adalah waktu perjalanan, jarak tempuh dan waktu tiba di tempat tujuan tergantung pelanggan. Tak jarang, disaat-saat waktu istirahat makan, melalui daerah-daerah yang tidak ada rumah makan yang memadai.


Ferdinand mengungkapkan, pada saat awal PO Kerub beroperasi fasilitas yang disediakan di dalam bus 10 unit busnya adalah lemari pendingin. Atas masukan pelanggan alat penyeduh kopi mulai dipasang pada tahun 2006. Sebagai percobaan, satu alat ini dipasang di salah satu armada. Maklum, harga penyeduh kopi saat itu ada di kisaran Rp. 3,5 juta. “Karena tanggapannya positif, akhirnya semua kami pasang. Kami pun menyebut bus kami sebagai bus eksekutif,” kata dia.

Mengapa penyeduh kopi, bukan dispenser yang bisa menyuplai air lebih banyak? Soal yang satu ini, Ferdinand punya jawaban singkat, "Dijamin airnya lebih panas dari dispenser." Dia mengaku pernah mencoba menggunakan dispenser, namun pada suatu saat pelanggan komplain karena susu bayinya tidak bisa 'matang' karena airnya kurang panas. akibatnya, si bayi harus dibawa ke dokter akibat buang air yang tak normal. Sejak, saat itu dispenser ditinggalkannya.

Dengan 40 unit armada bus, Ferdinand mantab melabeli bus-bus terbarunya dengan Maestro. Bus yang lengkap dengan fasilitas elektronik yang unik. Mulai dari penyeduh kopi, sebagian bus berkotak pendingin, sebagian berlemari pendingin dan fasilitas audio-visual yang prima tak kalah dengan peralatan home theater di rumah. Satu lagi, di beberapa bus ada pula kursi pemijat.

Berbagai fasilitas itu memungkinkan dipasang. Kini, peralatan penyeduh kopi mudah diperoleh. Di pasaran, harga satu unitnya hanya di kisaran Rp. 1 juta saja. Sayang, kata dia, untuk lemari pendingin yang di pasaran saat ini tipe kompresornya tak cocok untuk bus karena tak tahan guncangan, sebagai gantinya dia lebih memilih kotak pendingin.

Pria kelahiran Bogor ini tak kesulitan untuk memasang peralatan eletronik di dalam bus. Pasokan listrik, cukup menyediakan aki sesuai kapasitas kelistrikan. Kebetulan, bus-bus besarnya menghasilkan 80 Ampere dan terpakai keperluan dasar bus hanya 30 Ampere. Sementara, untuk tiga fasilitas itu hanya menghabiskan 25-30 Ampere. Khusus untuk audio, agar hasilnya maksimal, Ferdinand menyediakan inverter 250 watt dan alternator 12 volt. “Kami pilihkan jenis audio yang terbaik, bagaimana pelanggan masih bisa ngobrol di dalam bus tanpa terganggu suara musik yang terlalu keras. Kuncinya di tata suara,” kata lelaki yang mengaku pernah menekuni bisnis accu ini.


Utak-atik peralatan elektronik ini seperti hobi di dalam hobi. Ferdinand mengaku menggeluti bisnis jasa transportasi bus adalah bagian dari hobinya. Mendandani bus-busnya, mungkin bisa dipadankan dengan kegemaran modifikasi mobil atau motor seperti yang dikenal masyarakat umum. Saat haltebus.com berkunjung ke kantornya, dia terlihat asyik mencermati penyeduh kopi, lemari pendingin dan peralatan lainnya untuk bus-bus kesayangan. Bahkan, untuk soal detail salesman ‘diajari’ tentang peralatan elektronik yang cocok untuk bus.

Fasilitas tambahan, tentu bukanlah jaminan mendatangkan pelanggan setia. Tawaran itu tak berpengaruh banyak tanpa komitmen untuk melayani pelanggan. Untuk yang satu ini, Ferdinand punya strategi tersendiri. Peremajaan bus lima tahun sekali, jaminan bus tersedia, pelayanan yang ramah, dan kru bus yang bersahabat.


Tuntutan melayani pelanggan 'memaksanya' ikut terlibat langsung dalam mengelola usaha. Boleh dibilang, setiap masalah yang ada, temasuk masalah karyawannya tak ada yang luput dari pantauan. Kedekatan dengan jajaran karyawan menjadi kunci utamanya. Meski awalnya merasa kerepotan, Ferdinand merasakan bergaul dengan karyawannya ibarat belajar psikologi. Berbagai karakter harus dihadapinya. Urusan 'mencocokkan' karakter pengemudinya dengan karakter pelanggan, termasuk salah satu yang menjadi perhatiannya.

Untuk sementara ini, Ferdinand membatasi armada bus-nya hanya 40 unit. Alasan utamanya, mempermudah pengendalian manajemen. Tak hanya soal sumber daya manusia, melainkan juga masalah teknis. “Contoh gampangya, kalau bus kami mogok. Bukan saja biaya kompensasinya untuk pelanggan yang mahal tetapi juga kredibilitas pelayanan menjadi taruhannya. Tanggungjawab ini ada di semua lini,” ujarnya dengan mimik serius.(naskah : mai/foto-foto : mai/dok. PO Kerub)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013