Sabtu, 08 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MELIRIK BISNIS TATA SUARA DAN INTERIOR BUS KHUSUS
 
09 April 2012


(Jakarta – haltebus.com) Sepuluh tahun lalu perangkat tata suara hanya dianggap sebagai kebutuhan sekunder dalam dunia transportasi bus. Namun belakangan, untuk bus pariwisata peralatan ini dinilai sebagai kebutuhan. Bisa dibilang, peralatan tata suara menjadi nilai tambah yang bisa ditawarkan operator bus pariwisata kepada pelanggannya. “Peralatan audio yang baik bisa menemani perjalanan pelanggan kami, karena itu kami memilih dengan teliti peralatan audio yang baik. Pelanggan kami nyaman, kami pun senang,” ujar pemilik PO Kerub Ferdinand Hartanto pada haltebus.com akhir tahun lalu.

Kenyamanan untuk penumpang membuat beberapa operator bus pariwisata pun ‘mempersenjatai’ armadanya dengan peralatan tata suara yang lebih dari standar yang disediakan pihak karoseri. Rupanya tren dilihat sebagai peluang yang belum tergarap oleh Bahagia Audio, sebuah rumah modifikasi tata suara mobil yang bermarkas di Kemayoran. “Awalnya kami diminta menganalisa masalah pada peralatan audio sebuah PO Pariwisata di Jakarta. Setiap kembali ke garasi, busnya tak mau di-stater saat mau berangkat lagi,” ujar pemilik Bahagia Audio, Jonathan Pratama.

Jonathan mengaku sempat kebingungan, saat pertama kali diminta memperbaiki masalah audio dan pasokan listrik pada bus enam tahun silam. Sebab, sumber tenaga listrik yang diperlukan untuk peralatan tata suara selalu tersedot, meski bus dalam keadaan diam. “Kesulitannya cukup tinggi. Pertama, tingkat goncangan tinggi pada peralatan audio, lifetime peralatan juga tinggi. Bus baru masuk garasi keluar lagi istirahat 4-5 jam paling lama. Ini heavy duty, mulai kabel hingga socket-nya harus diperhatikan,” katanya.

Soal rumitnya penataan perangkat tata suara pada bus diakui oleh Ferdinand. Dia mengungkapkan, sebelum menemukan ramuan yang pas untuk busnya, beberapa kali harus membongkar interior bus untuk menemukan masalahnya. Menurut dia, instalasi dan kebutuhan kelistrikan harus diperhitungkan dengan benar. “Saya pernah bongkar sendiri peralatan audio karena instalasi yang gak pas. Repotnya bukan main. Butuh waktu juga untuk mempelajari masalah tata suara ini,” ujarnya dengan mimik serius.

Dengan memahami kunci ini, peralatan tata suara bisa menghasilkan suara yang prima. Tak perlu speaker besar dan banyak, suara yang dihasilkan cukup kuat untuk menciptakan suasana yang lebih hidup di dalam ruangan. Suara rendah alias bass, berimbang dengan suara nyaring atau dikenal dengan treble. Penempatan peralatan juga berpengaruh untuk membuat suara merata ke seluruh kabin. “Saya menggunakan beberapa speaker kecil, dan satu subwoofer. Soal suara silahkan coba,” ujar Ferdinand

Berhasil menguasai masalah, memasuki 2012 ini, Jonathan mengukuhkan diri untuk terjun dalam bisnis audio-video dan interior bus. Bahagia Audio tak sendiri, ada pula rumah modifikasi Baze yang merambah bisnis tata interior bus yang juga berangkat dari tata suara.

Peluang bisnis di tata suara bus masih cukup terbuka lebar. Coba tengok berapa banyak bus yang diproduksi sebuah karoseri setiap bulannya? Berapa banyak PO pariwisata yang tumbuh dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini? Dalam catatan haltebus.com, kapasitas produksi karoseri di Indonesia cukup beragam, rata-rata bisa menghasilkan 200-900 unit bus setiap tahunnya.

Baze telah memproklamirkan diri sebagai rumah modifikasi interior bus sejak lebih dari empat tahun lalu. Bari Setiadi, menyulapnya kabin bus seperti apa yang kita rasakan di rumah atau sering disebut bus karavan.

Pria berkacamata ini berkenalan dengan bus saat menangani tata suara bus pada tahun 2005. Di tahun berikutnya, ada tawaran terlibat dalam pembuatan sebuah bus caravan. Pada 2007 dia mengaku memberanikan diri merambah interior bus. “Sekilas memang terlihat mudah ya. Banyak orang bilang menata kabin bus karavan seperti menata interior rumah, tetapi banyak juga yang tidak mengerti bahwa kebutuhan untuk bus yang berjalan tak sama dengan yang ada di rumah,” kata pemilik Baze ini.

Apa yang disampaikan Bari, juga dirasakan Ferdinand yang juga melengkapi bus-busnya dengan kulkas dan coffe maker. Dia mengaku membutuhkan waktu untuk mencari peralatan yang cocok. Coffe maker dan kulkas yang ada di pasaran tak bisa sembarang digunakan di dalam bus. Salah memilih peralatan, kata dia, ada saja masalah, mulai coffe maker yang meleleh, sekring yang putus atau meleleh hingga kulkas yang tak cepat dingin.

Tingkat kerumitan dan ketelitian pemasangan peralatan dan perlengkapan cukup tinggi. Sebagai ilustrasi, pada bus konvesional, pemasangan bagasi atas, plafon maupun panel dinding di kabin bus yang tak sempurna kerap menimbulkan bunyi-bunyian yang mengganggu. Pada bus karavan atau bus khusus, sekecil apapun bunyi-bunyian tidak bisa ditolerir. Maklum, bus-bus karavan memang menyasar segmen premium.

Pertumbuhan permintaan segmen ini, menurut Bari cukup signifikan. Tahun 2008-2009, dia mengaku hanya mengerjakan bus khusus itu satu unit di setiap tahunnya. Tahun 2011, ada 10 unit bus besar dan kecil yang bisa diselesaikannya. Tren bus karavan mulai muncul di tahun 2006, dan hingga kini rata-rata pertambahan pertahunnya mencapai dua-tiga unit. Penggunanya dari berbagai kalangan, ada operator bus pariwisata yang menyediakan bus karavan untuk disewakan, ada pula yang memesan bus jenis ini untuk keperluan perusahaan dan pribadi.(naskah: mai/foto : bay/dok)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013