Senin, 27 Januari 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MENGATUR OPERASIONAL DENGAN SATU KOMPUTER?
 
20 April 2012


(Jakarta – haltebus.com) Divisi operasional dalam sebuah Perusahaan Otobus (PO) adalah urat nadi perusahaan. Bagaimana mengoperasikan armada, sejak pembeliaan unit baru, pemberangkatan, perawatan hingga pengaturan kru ada dalam divisi ini. Untuk sebuah PO yang memiliki armada tak lebih dari 10 unit, kegiatan operasionalnya bisa ditangani satu-dua orang. Logikanya, untuk PO yang memiliki armada di atas 20 bahkan hingga ratusan unit, tentunya dibutuhkan staf dan sistem pengawasan yang rumit.

Percayakah anda pengawasan operasional bus dalam beberapa tahun terakhir ini bisa disederhanakan dalam aplikasi sistem komputer? Cukup dengan menempatkan alat dalam unit-unit bus yang terhubung dengan aplikasi sistem komputer, jadwal operasional bus, perawatan bus, hingga jadwal kerja kru bus bisa dilakukan oleh satu-dua orang saja. Pengawasan seluruh unit bisa dilakukan secara real time baik saat unit itu bergerak maupun diam. “Awalnya memang Global Positioning System atau GPS sebatas mengetahui posisi sebuah kendaraan, kini berbagai opsi bisa diterapkan,” ujar Jayatriadi, Direktur lacak-mobil.com kepada haltebus.com Kamis (29/3/12) lalu.

GPS sejatinya adalah alat bantu untuk menentukan posisi sebuah obyek. Namun, seiring perkembangan teknologi, fitur-fitur di alat ini berkembang. GPS ini terhubung dengan jaringan satelit dan berbasis jaringan GSM/GPRS yang disediakan oleh operator telepon seluler. Kita bisa memilih operator seluler yang cocok dengan kebutuhan jaringan yang diperlukan.

Data yang disajikan di monitor GPS, di-input oleh provider GPS, yakni pergerakan obyek. Nah, fitur paling sederhana dari alat ini adalah menentukan titik obyek. Sebagian pengguna GPS, biasanya memfungsikannya untuk mencari alamat yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Dari fungsi penentuan titik obyek ini, fungsi lain GPS kemudian berkembang menjadi tracking atau pelacakan obyek. Menurut Jayatriadi, untuk fitur tracking yang lebih sederhana tersedia fitur-fitur standar pemantauan kendaraan saat mesin dinyalakan hingga dimatikan. Fitur yang tersedia adalah, posisi kendaraan, kecepatan kendaraan, pengemudi yang mengoperasikan dan odometer kendaraan. Semua disajikan secara real time dalam satu aplikasi komputer yang memantau pergerakan kendaraan. “Dari pemantauan ini ada rekaman data perjalanan, sehingga perilaku pengemudi, terkait kecepatan kendaraan bisa terpantau. Saat pengemudi melewati batas kecepatan yang ditentukan alarm secara otomatis berbunyi,” katanya.

Fitur tambahan yang lebih detail dari pelacakan adalah fitur konsumsi bahan bakar dan kamera. Jayatriadi menjelaskan, dalam aplikasi pemantauan bisa ditambahkan fitur yang bisa mendeteksi posisi bahan bakar yang ada di tangki kendaraan. Sehingga posisi jarum penunjuk bahan bakar yang ada di dashboard kendaraan bisa dipantau dari jarak jauh. “Semua tergantung pengguna, selagi dibutuhkan bisa diformat, termasuk juga fitur snapshot camera,” ujar Jayatriadi.

Nah, untuk memantau pergerakan obyek, biasanya provider GPS menyediakan alamat pemantauan tertentu, biasanya di sebuah website, yang hanya bisa diakses oleh perusahaan pengguna jasa. Cara ini dilakukan untuk keamanan perusahaan pengguna jasa GPS. Melalui alamat yang ditentukan, perusahaan pengguna jasa GPS hanya tinggal mengakses internet ke alamat yang dimaksud di mana sana dan kapan saja, meski hanya lewat komputer jinjing.

Dengan pemantauan melalui GPS, perilaku pengemudi yang terkait dengan konsumsi bahan bakar mudah dideteksi. Semakin stabil cara mengemudi, konsumsi bahan bakar bisa stabil. Dan satu lagi, mesin lebih terawat karena perilaku pengemudi yang terkontrol.

Sayangnya, masih banyak pengusaha bus belum mengetahui detail fungsi GPS ini. Berdasarkan informasi yang dihimpun haltebus.com, selama ini baru perusahaan angkutan barang, dan persewaan mobil yang banyak menggunakan jasa provider GPS. Untuk perusahaan angkutan barang GPS berguna memberikan informasi posisi kendaraan, sehingga perhitungan waktu sampai di tujuan bisa diperkirakan. Dengan informasi itu mereka bisa menjelaskan posisi kiriman barang pada konsumen.

GPS ternyata sangat membantu memberikan keputusan cepat, terkait operasional sebuah perusahaan jasa angkutan. PO Nusantara adalah salah satu operator bus yang menginvestasikan modalnya untuk memasang GPS. Mereka  menggunakan sistem pemantauan kendaraan jarak jauh ini nya sejak tahun 2001.

Awalnya, menurut Manajer Operasional PO Nusantara Andy Darmawan A, banyak yang menilai aneh melihat perusahannya menggunakan GPS. Tahun 2001, GPS belum dikenal luas dan dianggap barang mewah. Andy pun mengenang, “Kami melakukan trial GPS tahun 2001 dengan lima vendor, hingga akhirnya satu vendor yang sesuai kriteria yang kami butuhkan. Saat itu orang mengganggap GPS tidak berguna, sekarang Dinas Perhubungan menganjurkan untuk menggunakannya.”

Andy menambahkan, GPS sangat membantunya dalam memantau operasional bus-bus milik PO Nusantara. Dengan cara seperti ini, komunikasi yang menyangkut pergerakan kendaraan dapat berjalan tanpa mengganggu pengemudi. Maklum, operator bus mengoperasikan bus-busnya boleh dibilang 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Pria berkacamata ini mengakui, sistem yang dibangun dengan basis GPS sangat membantu optimalisasi penggunaan kendaraan. Pengaturan operasonal bus sudah bisa ditata dengan mudah. Bus-bus mana yang siap berangkat, atau sedang dalam perbaikan dapat diketahui. “Jika ada bus yang mengalami kerusakan di jalan, kami dapat melihat bus yang terdekat sehingga bisa membantu. Kami juga bisa mengetahui bila ada kemacetan, dan kami dapat secepatnya mengubah rute bus-bus kami untuk menghindari kemacetan,” kata Andy.

Namun, setiap kemudahan dengan teknologi pasti diiringi dengan biaya. Menurut Jayatriadi, harga sebuah alat GPS berkisar antara dua hingga tiga juta rupiah per unit. Setiap provider memiliki tawaran untuk pelanggannya. “Hanya dengan berlangganan Rp. 75 ribu dan pembelian alat GPS, tanpa biaya pemasangan, fitur standar fungsi GPS bisa dinikmati pelanggan,” ujarnya.

Soal hitung-hitungan, Andy Darmawan mengaku investasi awal cukup besar. Sayang dia tidak menyebutkan berapa dana yang dibutuhkan. Namun, Andy sedikit berbagi, “Sekarang biaya operasional cukup murah hanya Rp.5 ribu per hari per unit. Kalau dikalikan rata-rata 30 hari kerja Rp. 150 ribu per unit per bulan.”

Untuk membangun sebuah sistem yang terkoordinasi, GPS bisa sangat membantu. Ini setidaknya yang dirasakan oleh Ferdinand Hartanto, pemilik PO Kerub, Bogor. Membagi tugas operasional menjadi lebih mudah dengan pemantauan operasional busnya. Effesiensi operasional, kata dia, bisa dilakukan dengan maksimal. “Kami memiliki mekanisme operasional untuk pembagian tugas pengemudi. Kami selalu bisa menyiapkan satu pengemudi cadangan yang standby jika dibutuhkan sewaktu-waktu untuk mem-back-up armada kami yang tengah di luar kota,” kata dia.

Dengan perhitungan operasional pula Ferdinand mengaku, kemampuan handling armada miliknya bisa terukur. Dia mengungkapkan, saat ini hanya membatasi armadanya tak lebih dari 50 unit. Pria kelahiran Bogor itu beralasan, dengan ukuran 50 unit ini, semua pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih rapi, termasuk dalam melayani pelanggan. Baginya, tidak ada alasan bagi armada yang gagal berangkat. Kegagalan, berarti siap kehilangan pelanggan.

Pemanfaatan GPS dalam operasional bus selama ini, menurut Andy, sangat bergantung pada seberapa jauh manajemen operator bus mengenal teknologi yang diusung GPS. Pilihan penggunaan opsi yang tepat, tentu bisa membantu operasional.(naskah: mai/foto: dok. lacak-mobil/wikipedia)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013