Sabtu, 25 Januari 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MARI BERDOA BERSAMA SEBELUM BERANGKAT
 
05 Mei 2012


(Jepara – haltebus.com) Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 saat satu persatu bus-bus bertuliskan New Shantika di dindingnya ini mulai memasuki garasi. Sebelumnya, lebih dari sepuluh bus keluar garasi Rabu (11/4/12) siang mengambil penumpang di Jepara dan sekitarnya. Tak lebih dari setengah jam kemudian, Awaluddin Rifan mengumpulkan seluruh kru bus yang hari itu berangkat. “Bapak-bapak sudah paham dengan aturan di Shantika, layani penumpang dengan baik,” ujarnya.

Di tengah-tengah penumpang yang menunggu bus diberangkatkan, tiga puluhan orang kru bus tampak serius memperhatikan apa yang disampaikan Lutfi, panggilan akrab Awaludin Rifan. Ritual menurut dia, menjadi keseharian bagi mereka. Sekedar mengingatkan kru bus agar lebih berhati-hati di jalan dan tidak mengabaikan pelayanan pada penumpang. Mereka lalu berdoa sejenak. Tak sampai 20 menit mereka berkumpul, seluruh kru kembali ke masing-masing busnya. “Berdoa bersama sebelum berangkat itu wajib hukumnya bagi kami,” katanya singkat.

Seorang penumpang yang naik dari Sambung Oyot, Jepara, mengaku heran bus yang dinaikinya singgah di garasi. Empat-lima bulan kelewat, kata dia, bus Shantika langsung ke terminal Kudus. “Biasanya kalau ada operan yang di jalan, gak di garasi seperti ini,” ujar pria yang tak mau menyebutkan namanya itu.

Budaya seperti ini diakui, Juned pengemudi yang mengabdi sejak PO Shantika berdiri tahun 2007 lalu, baru beberapa bulan dilakukan. Sebelumnya tidak ada ritual briefing sebelum berangkat, apalagi berdoa bersama. “Ya kami sih ikut kebijakan kantor saja mas sepanjang untuk kebaikan,” katanya singkat.

Mengapa mereka melakukan ritual itu? Adalah Nur Salim yang mulai melakukan pembenahan beberapa bulan terakhir. Pimpinan PO Shantika itu menilai, budaya religius sangat penting untuk mengingatkan kru-kru busnya dalam menjalankan tugas. Dalam pandangan pria yang akrab disapa pak Haji di lingkungannya ini, prinsip-prinsip keagamaan perlu ditanamkan kepada seluruh jajarannya.

Cara berpikir Salim cukup sederhana, jujur dan bekerja keras, tanpa meninggalkan doa. Dia beralasan, dengan menegakkan prinsip agama, semua yang usahanya bisa berjalan lancar karena mendapat ketenangan. Pria penggemar topi ini menyatakan, kecurangan hanya akan menghancurkan usaha. “Saya sering diskusi dengan kru kami, apa sih yang mereka cari? Nafkah untuk keluarga atau apa? Kalau cari nafkah untuk keluarga harus jujur biar dapat rejeki halal,” katanya dengan mimik serius.

Prinsip mengutamakan ajaran agama ini tergambar dalam di lingkungan garasi. Pengamatan haltebus.com, di papan pengumuman yang terpampang di garasi tertempel berbagai macam peringatan. Mulai peringatan menegakkan solat, setiap bus wajib berhenti untuk memberikan kesempatan penumpang solat Subuh, larangan mengambil penumpang di jalan, hingga melayani penumpang dengan baik.

Salim juga mengaku punya cara sendiri untuk menyaring setiap kru bus-busnya. Setiap orang disodori perjanjian kerja. Setelah berjanji, biasanya masing-masing kru dibekali UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Itu sengaja dia lakukan agar para kru mengetahui aturan lalu-lintas di jalan, sehingga jika terjadi sesuatu, hanya tinggal menyodorkan perjanjian. “Jadi gampang saja tho? Saya tinggal bilang, apa yang kamu janjikan dulu? Lha ini tertulisnya,” kata Salim sambil memperagakan tangan kanannya seolah-olah menyodorkan kertas.

Alasan Salim mengedepankan prinsip agama sederhana saja. “Semua unit yang saya kelola ini bukan milik saya, coba lihat di bagian bawah pintu. Tulisan BP itu kependekan dari Bangun Perkasa,” kata Salim lagi.

Pria yang malang-melintang lebih dari 20 tahun di dunia transportasi bus ini tak ingin melanggar amanah yang diberikan mitranya, PT. Bangun Perkasa, perusahaan jasa konstruksi asal Kudus. Wajar saja, dia menularkan prinsip kejujuran yang dianutnya pada bawahannya, demi sebuah amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Hasilnya, tak sedikit penumpang Shantika yang mengaku puas. Setidaknya ini terlihat saat haltebus.com mengikuti proses persiapan armada hingga keberangkatan bus-bus Shantika, hampir semua bus terisi penuh saat berangkat dari garasi. “Saya dan istri naik bus ini sejak kami kuliah. Selain busnya bagus, pelayanannya juga cukup baik,” begitu penuturan Joni Erlangga yang sore itu menumpang bus tujuan Lebakbulus, Jakarta.

Tak banyak operator bus yang melakukan briefing singkat setiap hari, menjelang kru-kru busnya berangkat mengantar penumpang ke tempat tujuan. Salim berpendapat, dengan cara seperti ini awak bus selalu diingatkan untuk memberikan yang terbaik bagi penumpangnya. Sebab, dia percaya, segala sesuatu yang dilakukan dengan alasan dan tujuan yang baik, hasilnya pasti baik. Dengan cara seperti ini pula, dia menularkan disiplin pada semua karyawannya. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013