Selasa, 19 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SOSIS ATAU PESAWAT YA?
 
30 Mei 2012


(Jakarta – haltebus.com) Sekilas bentuknya seperti pesawat. Berwarna merah sesuai dengan produk yang dipromosikannya. Jika kita bandingkan dengan kebanyakan bus, bus milik Rumah Sosis ini tentu tak lazim. Dindingnya membulat di sisi kiri dan kanan. Di bagian belakang tak ada sudut lancip. Wajahnya pun terlihat seperti memiliki pipi yang menggelembung. Satu-satunya yang mengindikasikan bus hanya bentuknya yang panjang tanpa sayap. ”Sengaja kami membuatnya seperti ini karena bentuknya seperti produk kami, sosis,” ujar Manager Divisi Bus Rumah Sosis, Asep Mara kepada haltebus.com, Minggu (27/5/12).

Pagi itu, bus Rumah Sosis, Bandung, tengah mengikuti acara promosi sebuah bank milik pemerintah di bilangan Jl. Jend. Sudirman, Jakarta. Bus ini, menurut Asep rutin diikutsertakan oleh pihak bank untuk meramaikan acara hari bebas kendaraan yang digelar setiap bulan di pekan terakhir.

Asep menjelaskan, pemilik Rumah Sosis Perry Tristianto sengaja membuat sarana promosi yang unik. Idenya, membuat orang tertarik. Basisnya membuat kendaraan serba guna, yang tak hanya digunakan sebagai sarana menjual produk, tetapi juga bisa sekaligus mempromosikan produk. “Pak Perry ingin sesuatu yang baru, yang tak mudah ditiru orang, dan sekaligus bisa menarik perhatian orang banyak,” kata dia.

Akhirnya, Januari 2011 Asep yang pernah bekerja di PT. Dirgantara Indonesia ini menyodorkan konsep yang unik, yakni bus sosis. Berbekal pengetahuannya di bidang material alumunium, dia menyulap bus yang aslinya berbentuk kotak menjadi nyaris tak bersudut tajam. Menurut dia, butuh waktu kurang dari tiga bulan untuk membentuk sebuah bus menjadi sosis.

Dari sisi warna, bus berbasis Mercedes-Benz OH-1521 lansiran tahun 2004 ini memang terlihat sangat menarik. Dengan dilabur warna merah di dinding luar, logo Rumah Sosis dengan warna kuning menyala membuat siapapun yang melihat tak melepaskan pandangannya. Interior bus juga disesuaikan dengan tampilan luar. Dinding dilapis warna kuning dan merah pada meja pengunjung. Dinding bagian bawah dibuat serasi dengan warna lantai kayu.



Menurut Asep, busnya sering disebut pesawat darat. Dilihat tampilan depannya memang mirip pesawat, mengingatkan kita pada CN-235 buatan PT. DI atau pesawat angkut C-130 buatan Boeing. Maklum, bentuk sosis yang bulat nyaris mirip dengan struktur pesawat yang dindingnya juga diwarnai bidang lengkung.


Perbandingan antara bus konvensional dengan bus sosis terlihat dari penambahan lebar bus di semua lini, kecuali bagian depan. Yang paling menyolok jika kita melihat pilar-pilar kaca bus. Sebenarnya, basis kerangka bus menurut Asep sama dengan bus pada umumnya. Hanya saja ada penambahan bidang antara kerangka utama dengan dinding di sisi kiri dan kanan akibat dinding yang melengkung. Selisih terlebar sekitar 20 cm tepat di tengah-tengah bus antara titik atas dan titik bawah.

Uniknya, penambahan bidang ini dimanfaatkan sebagai meja. Selisih antara rangka utama bus dengan dinding tengah lebih dari 20 cm. Selain menjual sosis dalam kemasan, kru bus juga menghidangkan sosis panggang. Seperangkat alat panggang dan meja disiapkan di sisi kiri bus. Dua buah pintu besar yang tak lain adalah dinding bus menjadi ‘payung’ mereka. Pintu camar sengaja dibuat untuk sirkulasi udara di dalam bus, juga sebagai daya tarik tersendiri.



Di dalam bus berlantai kayu itu tersedia dua unit lemari pendingin khusus untuk daging berukuran sedang. Masih ada dua lemari pendingin ukuran kecil berpintu kaca geser. Satu untuk menempatkan es krim dan satu lagi untuk memajang sosis. Meski memiliki generator untuk mempertahankan pasokan listrik, sosis berjalan ini membutuhkan pasokan listrik terpisah di saat parkir untuk berjualan.

Di sudut belakang di sisi kanan, terdapat sebuah meja kasir. Penempatan meja ini untuk mempermudah pembayaran yang dilakukan pengunjung, sebab satu-satunya pintu yang bisa digunakan adalah pintu belakang. Pintunya juga unik, pintu geser yang sengaja dipilih agar pengunjung leluasa naik-turun. Sementara di sudut lainnya ada kitchen sink, tempat mencuci piring, letaknya tepat di balik kabin pengemudi.

Saat berjalan bagaimana ya? Asep Wahyudin, pengemudi bus sosis mengaku saat awal mengemudikan bus ini cukup canggung akibat badan bus yang lebih lebar dari bus umum. Dengan bantuan lima kaca spion di bagian depan, pandangan situasi di luar bus cukup bisa dijangkau. Spion dirangkai dengan besi layaknya spion-spion pada truk yang lebar.

Di sisi kanan terpasang satu spion di atas dan satu spion dibawah. Sementara di sisi kiri selain dua spion serupa di sisi kanan, ada satu spion khusus untuk bagian depan bus. Spion di bawah di sisi kiri dan kanan cukup menjangkau dinding bagian bawah yang melengkung. “Untuk mengemudikannya sama dengan bus biasa sih, cuma karena bentuknya gak seperti bus umum saya harus hati-hati,” ujarnya.

Di jalan bebas hambatan, bus sosis bisa melaju hingga kecepatan 80 km/jam. Di saat-saat tertentu jarum speedometer bisa mencapai 90 km/jam. Dengan alasan keamanan, pria yang biasa mengemudikan bus Cirebon-Bandung itu hanya membatasi pada kecepatan 80 km/jam. “Hambatan angin dari depan sangat terasa karena bentuk depan yang melebar,” katanya lagi.

Asep Mara yang menjadi kapten perjalanan dan enam orang kru lainnya terlihat bersemangat melayani setiap pengunjung. Mulai pengunjung yang serius membeli sosis, es krim atau minuman dingin atau hanya sekedar melihat-lihat bus. Menurut dia, selama setahun beroperasi, banyak yang tertarik dengan bus sosis-nya.

Di waktu-waktu tertentu, bus sosis membantu pemasaran untuk dua toko Rumah Sosis d Cirebon dan Bekasi. Tak jarang pula mereka ikut serta dalam acara-acara di luar ruang yang dilakukan mitra Rumah Sosis, bahkan Sabtu siang mereka melayani pesta di Bandung sebelum ke Jakarta pada hari Minggu. “Alhamdulillah target dari perusahaan bisa kami capai setiap bulannya,” kata dia

Cara berpikir out of the box memang diterapkan Perry Tristianto dalam mengembangkan usahanya. Dalam situs pribadinya, pengusaha yang dijuluki Raja Factory Outlet itu menyebut ide yang unik sebagai cara pemasaran yang effektif. Orisinalitas ide sangat dibutuhkan agar tak mudah kalah dalam bersaing. Pemikiran itu jelas dapat dilihat dan dirasakan dalam sebuah bus, sosis atau pesawat ya?.(naskah: mai/foto: mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013