Selasa, 23 Juli 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KETIKA GELORA BUNG KARNO BERUBAH MENJADI TERMINAL
 
17 Agustus 2012


(Jakarta – haltebus.com)
Kawasan Gelora Bung Karno Rabu (15/8/12) mendadak ramai. Ribuan orang terlihat lalu-lalang baik berjalan kaki maupun mengendarai kendaraan pribadi. Tak ketinggalan di beberapa sudut areal parkir, berjajar rapi bus-bus dari berbagai operator bus. Hari itu, empat instansi swasta dan satu partai politik memberangkatkan pemudik nyaris bersamaan. Tak heran tempat yang sehari-harinya dimanfaatkan warga Jakarta untuk berolahraga, tak ubahnya seperti terminal bus.

Pemandangan yang paling menyolok ada di kawasan pintu Barat Stadion Gelora Bung Karno. Partai Amanat Nasional memberangkatkan 190 bus yang mengangkut tak kurang dari 10 ribu orang. Bus berjajar parkir dengan rapi, dijalan yang melingkari stadion itu. Pemudik pun tampak sibuk hilir-mudik dengan barang bawaan berupa tas dan kardus-kardus berukuran besar. Mereka berdatangan sejak pukul 06.00 meski bus baru diberangkatkan jam 10.00.

Suasananya mirip terminal-terminal yang ada di Jakarta. Mereka menunggu secara bergerombol. Duduk melingkari tas-tas dan kardus berukuran besar, sambil menanti pemberangkatan. Sebagian dari mereka sibuk mencari lokasi parkir bus yang akan mereka naiki. Satgas Simpatik PAN, terlihat bersusah payah mengatur agar pemudik menunggu di tenda yang sudah disediakan. “Maklum semua kami atur sendiri,” kata anggota DPR dari Fraksi PAN Teguh Juwarno.

Di Plaza Timur Gelora Bung Karno, ada kemeriahan lain dari pemudik gratisan ini. Sebuah gerai swalayan menyiapkan 100 unit bus untuk mengangkut 5 ribu pemudik yang sudah terdaftar sebelumnya. Pengaturan keberangkatan mereka terlihat rapi. Bus-bus yang ada dibagi dalam dua kelompok, yakni di lokasi parkir tunggu dan di lokasi parkir keberangkatan. Musik hiburan juga dihadirkan untuk sekedar melepas kepenatan menunggu keberangkatan. “Kami sengaja mengatur ini supaya memudahkan pemudik,” kata Christin Hutagaol, koordinator acara.

Briptu Candra dari Polsek Tanah Abang yang tengah memantau acara mudik bersama mengaku ada lebih dari 400 unit bus yang parkir di kawasan Gelora Bung Karno. Dia menyebut, selain PAN dan gerai swalayan itu, masih ada bank BUMN dengan 80 unit bus, produsen papan gypsum dan operator seluler masing-masing dengan 30 unit bus. Pemudik yang diangkut diperkirakan mencapai lebih dari 20 ribu orang.



Tentu anda bisa membayangkan bagaimana hiruk pikuknya suasana di beberapa titik pemberangkatan pemudik. Sebagia besar keberangkatan juga dimulai pada saat yang hampir bersamaan. Bank BUMN misalnya memberangkatkan pemudik pada pukul 08.30, produsen papan gypsum jam 08.00, sementara gerai swalayan juga memberangkatkan bus-busnya di jam yang hampir berimpitan. Alhasil pejabat seperti Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang ikut melepas, harus berpindah dari satu titik ke titik lainnya.

Namun, tak semua penyelanggara mudik bersama bersifat gratis melalui pendaftaran sebelumnya. Produsen papan gypsum misalnya, masih membuka loket penjualan tiket. Sebagian besar pemudik bersama mereka memang berangkat dengan gratis, syaratnya terdaftar di jaringan agen mereka di seputar Jabodetabek.

Menurut seorang penjaga loket, Laras, karena masih tersedia kursi kosong pihaknya juga menjual ke pada masyarakat umum di lokasi pemberangkatan. Mereka mematok tarif Rp. 120 ribu untuk Purwokerto dan Rp. 140 ribu untuk Yogyakarta dan Solo. Mahal? “Setiap pembeli tiket masih mendapat merchandise berupa kaos, tas, snack dan sekali makan untuk waktu berbuka puasa,” katanya.

Sugeng Susilo, seorang pemudik mengaku lebih senang pulang ke kampung halamannya di Solo melalui acara mudik bersama. Walau dia harus merogoh uang Rp. 140 ribu dari kantongnya. “Lewat mudik bersama ini lebih aman dan tidak semahal kalau di terminal, saya pernah punya pengalaman buruk pulang dari terminal,” kata pria yang pulang kampung seorang diri ini.

Banyak instansi swasta memanfaatkan momen tradisi pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri dari tahun ke tahun. Umumnya ajang ini dimanfaatkan sebagai ajang promosi sekaligus pelayanan untuk pelanggan atau orang-orang yang telah mendukung usaha mereka. Salah satu produsen jamu misalnya, tahun ini memberangkatkan penjual jamu dan masyarakat umum untuk yang ke-23 kalinya. Dengan acara mudik bersama pemudik tetap diuntungkan, bisa pulang ke kampung halaman dengan nyaman dan aman tentunya. (naskah : mai/foto: mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013