Rabu, 20 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SI MISTERIUS DARI ADIPUTRO
 
24 September 2012


(Jakarta – haltebus.com) Saat pertama kali berkeliaran di jalan, bus berwarna oranye dengan ‘kepala’ hitam mengundang banyak tanya. Pun saat dipamerkan di arena Indonesia International Motor Show (IIMS) ke-20 di Kemayoran, Jakarta. Tak seperti pendahulunya, yang diberi label Jetbus, bus yang diparkir di stand Karoseri Adiputro itu tanpa ada embel-embel. “Bus ini adalah kolaborasi ekslusif kami dengan Daimler,” kata David Jethrokusumo saat ditemui haltebus.com di sela-sela pameran Kamis (20/9/12).

Memang dilihat sepintas bus ini keluar dari pakem Adiputro. Tidak ada garis desain yang melekat seperti yang terlihat pada produk Royal Coach kebanggaan Adiputro. Desain yang boleh dibilang sama sekali baru. Menurut David, desain seluruh bagian bus sepenuhnya adalah rancangan yang diajukan oleh pihak Daimler yang berkantor di Singapura.
 
David menambahkan, keberadaan bus ini di pameran IIMS, untuk melihat respon dari pasar baik operator bus yang menjadi pelanggan Adiputro maupun masyarakat umum. Sayangnya, meski hasil kolaborasi, pria berkacamata itu menolak memerinci bentuk kerjasamanya. “Masih terlalu dini untuk membicarakan kerjasama ini. Kami ingin melihat dulu respon pasarnya seperti apa. Bus ini masih prototype,” katanya.

Desain bus berbasis OH-1830 dengan lantai tinggi itu terbilang unik, khususnya di bagian belakang. Kaca samping mirip dengan desain bus-bus Eropa di era 90-an. Garis menurun dari arah belakang ke depan di kaca pertama mengingatkan kita pada Mercedes-Benz O-404. Garis yang sempat menjadi tren desain bus di Indonesia saat itu. Pada bus prototipe Adiputro garis menurun ini diberi aksen bodi berwarna silver untuk mempertegas tampilan.
 
Masih di bagian depan, ‘wajah’ bus tanpa nama ini lebih mirip Mercedes-Benz Travego dengan lampu orisinil Hella jika dilihat dari depan. Bedanya, saat dilihat dari sisi samping. Jika kaca depan Travego cenderung tegak, pada prototipe Adiputro ada sudut kemiringan. Bagian bawah terlihat sedikit maju dengan spion bus yang uga minimalis. Ada yang menonjol dibagian grill dan bumper bus. Lekuk-lekuk di bagian ini mengingatkan kita pada bumper mobil. “Kami membuat prototype ini sesuai dengan standar yang diajukan, semua assesories mulai lampu-lampu hingga spion buatan Eropa,” ujarnya.

Di bagian belakang, lengkung sudut yang menyatukan kaca samping dan kaca belakang prototipe ini mengikuti tren bus di Asia dan Eropa yang muncul di tahun 2000-an. Kaca belakang yang kecil minimalis menambah kesan tinggi pada bus. Di ujung kaca samping bagian belakang atau kaca penghabisan memperlihatkan kedekatan dengan  Travego. Desain lampu belakang juga dibuat minimalis. Tiga buah lampu bulat ditempatkan dalam ‘rumah’ lampu berwarna perak.

Interior bus prototipe yang dipamerkan, menurut David, sengaja masih dibuat standar bus Adipturo yang kini banyak beredar. Dia mengatakan, pihaknya lebih mengedepankan masukan dari sisi desain luar bus. Apapun yang diungkapkan pengunjung, dia mengaku siap menerima masukan sebagai bahan penyempurnaan model ini. “Kita lihat nanti masukannya seperti apa di akhir pameran,” ujarnya.

Secara keseluruhan, bodi bus terlihat tinggi, dengan kaca depan yang tinggi, juga sisi kiri kanan yang ditopang lambung bus yang lebar. Dua pintu pneumatic, satu di depan dan satu lagi di tengah dengan desain di bawah garis kaca, ikut andil mempertegas ketinggian bus.

Mario Dwiputra, seorang pengunjung menilai tak ada yang istimewa dari tampilan bus tanpa nama itu. Dia menyayangkan mengapa karoseri bus sekelas Adiputro menampilkan model bus yang terlihat tidak mengikuti tren sekarang. Pria penggemar bus ini menyoroti tampilan depan dan belakang bus prototipe yang tak sesuai. Di sisi samping, bus juga tak menunjukkan keistimewaan bagi Mario. ”Sayang busnya terlihat biasa. Lampu belakang bentuknya bulat-bulat, kesannya model lama ya,” katanya.

Lain Mario, lain pula pendapat Didik S. Setyadi. Menurut Didik, bus prototipe Adiputro ini cukup elegan. Dia mengatakan, meski terlihat old style, secara model apa yang dipamerkan karoseri asal Malang itu bakal tak lekang oleh waktu. ”Bagus sih. Ini awal tren menuju model klasik lagi,” ujar pria yang pernah mengelola sebuah PO bus.

Didik bahkan mengaku terkesan dengan bentuk ’wajah’ yang menurutnya berkarakter. Lekuk-lekuk grill dengan lambang Mercedes-Benz terlihat serasi. Karakter ini, kata dia, dipermanis dengan garis-garis dan lekukan bagian bawah bumper.

Namun, Didik menyayangkan bentuk bagian belakang bus. Dia berharap Adiputro bisa membuat tren model bus yang sama sekali baru, seperti halnya di bagian depan. ”Di bagian belakang sayang kurang senang, mirip-mirip (Hino) S’elega atau Irizar (pembuat bus asal Spanyol),” kata dia.

Jika benar nantinya bus prototipe Adiputro diproduksi, maka bisa menambah semarak model-model bus yang beredar di Indonesia. Apalagi, perkembangan insfratruktur di Jawa dengan dibangunnya tol Jakarta-Surabaya dipercaya berbagai kalangan pelaku transportasi bus bisa menambah gairah bisnis jasa transportasi bus. “Yang jelas kami siap untuk membuat jalur produksi khusus untuk bus dengan standar Eropa,” kata David mantab.(naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013