Sabtu, 25 Mei 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PROYEK ISENG BERWUJUD BUS APRON
 
16 Oktober 2012


(Sukoharjo – haltebus.com)
Empat orang mekanik tampak mengeliling sebuah chassis yang tak biasa di garasi PO. Siliwangi Antar Nusa (SAN), Sukoharjo, Jateng, Senin (24/9/12) sore. Tak lama berselang, M. Abdurrahman salah seorang dari mereka, duduk dibalik kemudi. Sejurus kemudian, dia menghidupkan mesin dan mulai menjalankan chassis yang sepintas mirip rangkaian besi berjalan. Chassis itu hanya dijalankan maju-mundur beberapa meter di dalam garasi. “Tadi baru dipasang sistem elektronik untuk transmisi otomatis, didampingi teknisi perwakilan ZF di Singapura,” kata pria yang sehari-hari bertugas sebagai Kepala Mekanik PO SAN.

Hari itu menjadi hari bersejarah bagi PO. SAN, sebab chassis yang mereka siapkan selama setahun terakhir, akhirnya bisa dioperasikan. Saat dipindah dari garasi ke workshop yang letaknya bersebelahan, barulah terlihat jelas perbedaan chassis yang dikemudikan Abdurrahman dibandingkan chassis bus yang biasa dibuat oleh PO yang berdiri di Bengkulu ini. Tinggi lantai chassis tak lebih dari 25 cm dari tanah, lebar 2,7 meter dan panjang 12,7 meter. Sungguh tak lazim untuk sebagian orang.



Adalah pemilik PO. SAN, Hasanuddin Adnan yang memulai ide membuat chassis bus berlantai rendah, khusus untuk kebutuhan bandara. Bagi sebagian operator bus, membuat sendiri sebuah bus dimulai dari nol sangat menguras biaya dan tenaga. Namun, bagi Hasanuddin, merakit sebuah bus bak merakit mainan. Lebih dari 30 chassis bus spaceframe mereka buat untuk kebutuhan operasional melayani penumpang Jawa-Sumatera. “Idenya sederhana saja, bangsa kita bisa membuat bus kalau mau. Kami buktikan dengan membuat chassis mulai dari awal hingga jadi bus,” ujar dia.

Hasan panggilan akrab Hasanuddin Adnan mengaku sering kerepotan saat dalam perjalanan menggunakan pesawat, harus turun-naik bus di apron bandara. Menurut dia, hampir semua bus yang digunakan sebagai bus apron tidak menggunakan
chassis bus yang memang khusus untuk apron bandara. Tidak jarang chassis bus untuk perjalanan jauh berlantai tinggi hilir-mudik di bandara. Padahal, dengan jarak tempuh relatif pendek, naik-turun bus bisa menjadi masalah bagi sebagian orang.

Dibantu Kepala Mekanik PO. SAN Abdurrahman dan pemilik Satrio Motor Winarno Ahmad dimulailah proyek hobi ini setahun yang lalu. Butuh waktu lebih dari enam bulan untuk merangkai besi-besi menjadi ‘landasan’ bus. “Sempat terjadi miskomunikasi dalam menuangkan ide menjadi sebuah
chassis,” ujar Hasan.

Abdurrahman menjelaskan
chassis ini dirangkai dari susunan besi hollow setebal 3,2 milimeter. Sebelum dirangkai, berbekal kemampuan las besi dari Winarno, mereka menghitung kebutuhan besi, dimensi dan mencocokkannya dengan gambar yang telah dibuat. Abdurrahman mengaku sempat kesulitan membuat desain sesuai gambar. Beberapa kali perubahan harus dilakukan. “Sempat terhenti karena ada kesibukan persiapan angkutan lebaran, selain itu susah juga membuat bentuk yang pas,” kata dia.

Agustus lalu, tak tahan meninggalkan proyek nyeleneh yang digagas Hasan yang tertunda Abdurrahman dan Winarno Ahmad mulai mengutak-atik. Beberapa perubahan dari gambar yang direncanakan mereka ambil. Hasilnya, dimensi
chassis yang diinginkan akhirnya tercapai.

Selesai merangkai
chassis, bagi Abdurrahman berarti selesai menyusun rangkaian paling rumit merakit bus berlantai rendah. Sebab, untuk urusan mesin pria yang tak sempat mengenyam SLTA berpengalaman bongkar pasang mesin. Tentu saja, dibawah pengawasan Hasan yang juga pendiri PO SAN. Sejak tahun 2004, operator bus yang berbasis di Bengkulu ini mulai menggunakan mesin-mesin asal China demi memenuhi kebutuhan peremajaan mesin-mesin busnya. Mulai saat itulah mereka kerap bereksperimen dengan mesin. Tak sekedar mengganti mesin, rasio gardan-transmisi-tenaga mesin menjadi pokok utama eksperimen mereka. “Mulai mesin 240HP, 260HP hingga 300 HP kami sesuaikan rasionya dengan medan yang dilalui bus-bus kami,” ujar Abdurrahman.

Benar saja, saat haltebus.com menengok
chassis itu, dua orang dari perwakilan ZF Asia Pasific Asisstant Manager Service Sng Beng Huat dan Teknisi Clearance Gan tengah mengecek rangkaian transmisi ZF yang dipasang Abdurrahman. Axle depan dan belakang pada chassis menggunakan ZF begitu juga dengan transmisi otomatisnya. Clearance menilai rangkaian axle, transmisi dan mesin sudah terpasang dengan baik sesuai petunjuk ZF. “Nanti saat bus beroperasi, semakin jauh bus berjalan maka nanti sistem komputer pada transmisi membaca kinerja mesin dan kerja transmisi akan menyesuaikan sendiri dengan kinerja mesin,” katanya usai pengecekan.

Menurut Hasan, transmisi otomatis ZF digunakan untuk mendukung kinerja operasional mesin, disamping untuk kenyamanan penumpang. Dia berharap, saat bus beroperasi mesin Yuchai YC6G270-20 bertenaga 270HP yang terpasang bekerja optimal dan laju bus bisa berjalan mulus saat perpindahan persneling. Mesin juga ditata sedemikian rupa agar kinerjanya tak terganggu. Pendingin mesin diletakkan di sebelah kanan, dan dudukan mesin dibuat lebih ke kiri demi mendekatkan gardan dengan axle ZF yang unik. Letak penggerak pada axle ‘tipis’ ini ada di sisi kiri, tak seperti axle bus pada umumnya yakni di bagian tengah

Ada pula fitur suspensi udara yang dipasang pada chassis. Lagi-lagi fitur ini mengadopsi teknologi yang ditawarkan ZF pula. Dudukan setiap balon suspensi yang terpasang, dibuat sendiri. Begitu juga dengan penyusunan rangkaian selang kompresi udarayang terlihat rumit. Rupanya, Hasan mendapat tawaran menarik dari pabrikan yang terkenal dengan transmisinya itu. S
teering system yang digunakan juga menggunakan merk yang sama.



Satu paket yang ditawarkan harus ditebus senilai lebih dari Rp. 1 miliar. PO SAN menjadi pelanggan pertama yang memasang transmisi otomatis ZF pada sebuah bus berlantai rendah di Indonesia. Pemasangan rangkaian seperti ini jarang dilakukan oleh perwakilan ZF di Indonesia. “Alhamdulillah pemasangannya berjalan mulus, dan bus bisa beroperasi sesuai dengan yang kami harapkan,” kata Hasan.

Meski sudah terhitung sukses mengoperasikan bus berlantai rendah yang dibuatnya, Hasan masih harus menempuh jalan panjang sebelum busnya bisa beroperasi layaknya bus-bus lain. Berdasarkan regulasi Kementerian Perindustrian chassis bus harus menjalani uji tipe. Jika sertifikat uji tipe berhasil diraih, bukan tidak mungkin
chassis bus berlantai rendah ini menjadi chassis bus khusus apron bandara diproduksi secara massal. “Saya tidak menutupi, jika ada kesempatan untuk produksi secara massal mengapa tidak? Saya ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu merakit bus model apapun,” ujar Hasan dengan bersemangat.(naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013