Senin, 27 Mei 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PEREMAJAAN KOPAJA, MENGAPA TIDAK?
 
22 Oktober 2012


(Jakarta – haltebus) Suatu siang, di Terminal Senen terlihat empat unit bus berada di urutan terdepan di lajur pemberangkatan bus Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) P-20 di Terminal Senen. Dua diantaranya adalah bus Kopaja AC yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta saat itu Fauzi Bowo Juli lalu. Hanya satu-dua kursi yang tersisa di bus berpendingin ruangan yang parkir di urutan paling depan.


Sesekali bus-bus Kopaja P-20 non AC ‘melompati’ giliran berangkat bus AC. “Kalau penumpang gak penuh gak berangkat pak,” ujar Ade seorang pengemudi dari salah satu bus AC itu.

Bus Kopaja AC masih menjadi barang mewah di kalangan pengemudi bus Kopaja, khususnya yang melayani jalur P-20. Padahal, menurut salah seorang pemilik bus Kopaja AC P-20, Herwien Agung Wicaksono, jika dihitung dalam satu bulan pendapatan bus Kopaja AC dan yang non-AC sama. “Rata-rata dalam setiap bulan pendapatan dari satu unit bus non AC Rp. 7 juta, sementara dari Kopaja AC sisa setoran cicilan jumlahnya kira-kira juga sekitar itu,” kata dia saat dihubungi haltebus.com Senin (22/10/12).

Herwien menjelaskan, jika dihitung rinci investasi untuk bus baru seperti Kopaja AC miliknya cukup menjanjikan keuntungan. Cicilan Rp. 7,8 juta per bulan melalui Kredit Usaha Rakyat yang disediakan pengurus Kopaja, kata dia, cukup membantu. Dia mengungkapkan, target setoran setiap hari Senin-Jumat Rp. 750 ribu dan Rp. 500 ribu untuk Sabtu-Minggu bisa tercapai. Secara kasar, perhitungan pendapatan per bulan minimal Rp. 15 jutaan.

Keuntungan lain, lanjut Herwien, pemilik bus bisa menambah armada baru dalam kurun tiga tahun dengan perhitungan yang ada sekarang ini. Pemilik lima unit Kopaja itu mengaku tertarik untuk menambah armadanya. “Bulan ini sudah siap satu unit lagi, busnya sudah selesai dari karoseri,” ujarnya dengan semangat.

Rumus apakah yang diterapkan oleh pengurus Kopaja? Ketua Umum Kopaja Nanang Basuki mengaku tak memiliki rumus atau resep khusus untuk peremajaan ini. Dia hanya menjalin kerjasama dengan salah bank BUMN yang mau memberikan fasilitas Kredit Usaha Rakyat. “Pada pihak bank kami menjelaskan perhitungan-perhitungan yang logis bahwa bus Kopaja bisa menjanjikan keuntungan,” katanya.

Nanang lalu memaparkan, melalui pendekatan yang panjang, pihaknya mendapat bantuan pinjaman dari KUR untuk setiap pembelian bus sebesar Rp. 350 juta. Sebagai gambaran, untuk membeli bus dan chassis, butuh dana hingga Rp. 423 juta. Pemilik bus lama, kata dia, bisa menjual busnya untuk menambah uang muka pembelian unit baru sebesar Rp. 46 juta. Selain itu, masih ada kesempatan meraih pendapatan dari pemasangan iklan Rp. 15 juta per tahun.

Skema peremajaan yang dilakukan Kopaja ini cukup masuk akal. Apalagi menilik pernyataan Herwien yang menyebutkan pendapatan yang diperoleh bus lama non-AC dan bus baru ber-AC tak berbeda jauh. Peremajaan 1.479 unit bus Kopaja bukanlah hal yang mustahil. “Sementara ini kami uji coba di S-13, P-20 dan P-19,” kata Nanang.

Herwien berharap pemerintahan baru yang dipimpin Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama bisa menata transportasi kota Jakarta dengan baik. Tak hanya menambah seribu armada bus, tetapi juga menata jalur agar tak bersinggungan satu sama lain. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013