Senin, 27 Mei 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
NAMA BUS YANG MENGANDUNG DOA
 
11 November 2012


(Jakarta – haltebus.com) Selamat menjalankan tugas buat: Bayu-Wisnu-Manikmoyo-Ismoyo-Narodo-Aswan-Aswin-Antaboga-Wisanggeni-Bimo-Ontoseno-Ugroseno-Puntodewo-Nakulo-Baruno. Semoga tiba sampai tujuan dengan selamat hingga kembali ke ksatrian. Seperti nama-nama yang ada kenal di dunia pewayangan?

Begitulah status yang ditulis Proboyuwono di laman pribadi miliknya di jejaring sosial dunia maya suatu hari di bulan Oktober. Nama-nama wayang itu sengaja disematkan pada setiap unit bus yang terparkir di garasi yang disebutnya sebagai ksatrian PO. 99Tranjaya, Yogyakarta. “Saya sengaja memberi nama-nama pada setiap bus agar lebih mudah mengenalinya,” kata Proboyuwono saat menjelaskan maksud statusnya itu pada haltebus.com Jumat (19/10/12) lalu.

Bus-bus milik Proboyuwono sendiri sebenarnya sudah memiliki ciri khas Jawa. Grafis batik di lampu kanan depan, serta di sisi kiri-kanan bagian belakang bus membuat siapapun yang melihatnya mudah mengenalinya. Namun, dia masih membutuhkan pengenalan khusus seiring dengan perkembangan jumlah armadanya. Jika pada umumnya pemilik bus mengenali busnya dengan menghafalkan plat nomor, pria asli Yogyakarta ini lebih memilih memberi nama pada setiap busnya.

Bagi sebagian orang, nama identik dengan harapan dan doa. Kebetulan, Proboyuwono termasuk salah satu dalam sebagian orang yang percaya dengan pandangan ini. Ibarat doa, ada harapan pada nama-nama yang disematkan di setiap unitnya. Siapapun dengan mudah mengenali nama-nama bus dari stiker yang ditempel di kaca depan bagian bawah, tepat di sisi pengemudi. “Yang Ksatria Pandawa atau Dewa Njonggring Saloko. Nanti kalau ada tambahan pakai nama prajurit kera, biar lebih gesit cari rizki-nya,” katanya.
 


Proboyuwono mengaku mengenal wayang sejak kecil, saat kakeknya mengajaknya menonton wayang kulit. Darah Jawa yang mengalir tersirat dari unit-unit bus-nya. Tak hanya memberi nama di bagian bawah kaca depan busnya, masih ada wayang yang dipajang di dalam bus.

Tak sembarang nama diberikan Proboyuwono untuk armadanya. Ada kategori khusus untuk setiap bus-busnya. Untuk bus sedang ada dua ketegori sesuai jenis chassis-nya. Nama-nama ksatria dalam pewayangan, misalnya seperti Wisanggeni, Bolodewo dan Bimo, disematkan untuk bus Mercedes-Benz. Sedangkan untuk chassis Mitsubishi, menggunakan nama prajurit kera seperti Sugriwo. “Untuk bus besar biasa menggunakan nama-nama Dewa seperti Hyang Bayu, Hyang Wisnu, Hyang Manikmoyo dan lain-lain,” ujarnya.

Alumnus jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ini tak hanya menggunakan nama-nama pewayangan. Proboyuwono juga menggabungkan unsur religius dalam lambang-lambang yang digunakannya. Coba tengok logo bus berwarna dasar putih itu. Ada angka 99 dalam gunungan wayang. Menurut dia, ada arti tersendiri dalam logo yang terlihat sederhana itu. “Melambangkan Asmaul Husna (nama-nama Allah),” kata dia singkat.

Harapan dan doa Proboyuwono cukup beralasan. Merintis usaha di tahun 2007 dengan satu unit bus, kini armadanya telah berkembang hingga 20 unit. Dalam kurun waktu lima tahun keuletan mengelola operasional bus dan dibarengi dengan doa sudah terlihat. Menurut dia, doa dan usaha yang keras menjadi kunci berkembang usahanya. (naskah : mai/foto : dok. 99Tranjaya)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013