Senin, 27 Mei 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MENIKMATI BUS DI RUMAH MAKAN?
 
04 Februari 2013


(Jakarta – haltebus.com) Sebuah bus pariwisata bertuliskan Nirwana di dindingnya, terselip diantara bus-bus antar kota-antar provinsi di Terminal Rawamangun, Sabtu (2/2/13) siang. Bukan karena ramainya penumpang PO. Pahala Kencana, saudara sekandung Nirwana Pariwisata, tetapi ada yang menyewanya secara khusus. Saat bus berangkat, hanya 21 tempat duduknya yang terisi. “Kami sengaja menyewa Nirwana untuk berkumpul dalam rangka kopi-darat (pertemuan) anggota Pahala Kencana Sejati, tujuannya Rumah Makan UUN di Jalur Pantura,“ ujar moderator grup Pahala Kecana Sedjati (PKS) di situs jejaring sosial Facebook, Didik S. Setyadi kepada haltebus.com.


Bagi kebanyakan orang, tentu akan memilih tempat wisata yang santai untuk menggelar pertemuan. Namun bagi PKS yang merupakan kumpulan orang yang menggemari bus PO. Pahala Kencana, RM UUN yang terletak di Jalan Raya Cikampek-Cirebon, Pamanukan, Subang, Jabar, lebih menarik. Di sini semua bus PO. Pahala Kencana, yang menuju ke arah Timur Jawa dan P. Bali, beristirahat sore. Sudah bisa ditebak, puluhan bus berkelir kuning dengan kombinasi warna menyolok rapi berjejer di halaman parkir rumah makan itu. Jejeran bus lebih bisa mereka nikmati dibandingkan dengan berwisata di tempat-tempat lain.

Perjalanan Rawamangun – Pamanukan nyaris ditempuh tiga jam. Kemacetan akibat perbaikan jalan, sempat membuat gundah para penumpang Nirwana. Mereka khawatir tak bisa melihat bus-bus gelombang pertama yang berangkat dari Jabodetabek dan sekitarnya menuju ke Timur.

Benar saja, tak lama mereka tiba di sana, langsung berhambur menuju jejeran bus jurusan Madura yang berangkat dari berbagai titik di sekitar Jabodetabek. Mereka asyik berdiskusi, mulai pengalaman naik bus PO. Pahala Kencana hingga pengemudi yang mereka kenal. Beberapa di antara mereka mengeluarkan ‘senjata’, apalagi kalau bukan kamera. Sejurus kemudian, bus-bus itu mereka potret.

Saat senja mulai turun, mereka berkumpul di sudut rumah makan. Diskusi pun digelar. Dalam kesempatan pertemuan yang baru pertama kali diadakan itu, Didik kembali menegaskan independensi grup PKS. Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan di jejaring sosial di dunia maya dia kerap memuat berbagai macam ketentuan, khususnya netralitas PKS yang nota bene juga penumpang bus Pahala Kencana.

Mereka sebenarnya banyak juga yang tergabung dalam komunitas penggemar bus yang bersifat umum. Ketertarikan mereka terhadap  bus PO. Pahala Kencana membuat mereka dengan mudah membaur. “Kita ini penggemar PO. Pahala Kencana, silahkan kalo ada yang mau menyampaikan saran kritik. Kita ini satu-satunya grup penggemar yang tidak melarang posting kecelakaan bus, sepanjang itu sesuai fakta,” katanya.


Dengan semangat Didik mengatakan, sepanjang disampaikan dengan santun, setiap kritikan apapun bentuknya menjadi masukan yang berharga untuk perbaikan manajemen. Menurut dia, tidak sedikit orang-orang di manajemen PO. Pahala Kencana memantau segala informasi yang didiskusikan anggota PKS. “Satu-dua kali ada beberapa orang dari manajemen Pahala Kencana menanyakan informasi yang berkembang di grup PKS,” ujar dia.

Pertemuan semakin menghangat saat pembagian souvenir dari PO. Pahala Kencana. Dua buah helm, beberapa topi dan payung mereka perebutkan. Caranya pun unik. Mereka diminta untuk memanggil penumpang bus yang busnya akan diberangkatkan kembali setelah beristirahat. Syaratnya satu : Harus dalam bahasa Jawa. Beberapa orang mengikuti tantangan ini.

Stefanus Yudianto Widi Satrio menjadi peserta pertama yang maju, saat pengurus PO. Pahala Kencana di RM. UUN menginformasikan ada bus tujuan Ponorogo yang siap diberangkatkan. “Pengumuman kagem poro penumpang bis Pahala Kencana ingkang tindak Ponorogo….monggo….dipun mlebet bis…bis lajeng diberangkatkan,” ujarnya terbata-bata.

Tak disangka, sejumlah penumpang yang terkejut dengan pengumuman berbahasa Jawa itu ikut menyimak apa yang diucapkan Rio, panggilan akrab Stefanus Yudianto Widi Satrio. Dia sempat kebingungan mencari padanan yang tepat untuk kalimat naik ke dalam bus. Begitu selesai pengumuman dibacakan Rio, tepuk tangan anggota PKS dan beberapa penumpang pun terdengar riuh di ruang makan.

Perjuangan Rio tak sia-sia karena peserta perebutan helm yang lain ternyata ciut nyalinya saat melihat Rio terbata-bata. Mereka langsung menyerah, dan helm pun diraih Rio. Sebuah helm lainnya, akhirnya diserahkan untuk Ryan Indryan yang sengaja datang dari Cirebon untuk ikut bersama-sama rombongan berangkat dari Terminal Rawamangun. Padahal, ada beberapa anggota PKS lain yang memilih bertemu langsung di RM. UUN.

Pertemuan semakin seru saat serombongan punggawa PO. Pahala Kencana dari empat unit bisnis di Jakarta ikut bergabung. Secara kebetulan, mereka tengah melakukan tes pada pengemudi baru yang akan bergabung.

Eko Hariyanto, pengurus Unit Bisnis yang membawahi bus-bus yang melayani kota-kota di pantai Selatan Jawa mengajukan sejumlah pertanyaan, untuk mengetes kesejatian anggota PKS. Pertanyaan pun beragam, mulai pengetahuan tentang nama Kepala Perwakilan di Solo dan Bandung, hingga pertanyaan detil plat nomor bus yang melayani jurusan tertentu. Tentu saja, anggota PKS sekuat tenaga menjawab semua pertanyaan sulit itu.

Didik menyatakan, mereka memilih tak ingin diakui secara resmi oleh manajemen PO. Pahala Kencana sebagai satu-satunya wadah penggemar PO. Pahala Kencana. Namun, keakraban di antara PKS dan manajemen PO. Pahala Kencana cukup terasa. Menurut Didik, meski mereka menggemari PO. Pahala Kencana, mereka tak ingin menjadi corong bagi perusahaan. Sebaliknya, karena kecintaannya pada PO. Pahala Kencana. “Kami ingin Pahala Kencana bisa maju, kami ingin ikut memperbaiki dengan kritikan dan masukan supaya pelayanannya bisa semakin baik,” kata dia.(naskah : mai/foto: mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013