Senin, 27 Mei 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SI MANCUNG ANDALAN DAMRI DI JAKARTA
 
11 Februari 2013


(Jakarta – haltebus.com) Bentuknya menyerupai peluru. Kaca depan melengkung, mengingatkan kita pada bus-bus di era 1980-an. Bedanya, bus yang didatangkan dari negeri tirai bambo ini jauh lebih modern. Bentuknya juga futuristik. Djawatan Angkutan Motor RI (DAMRI) mendatangkan 66 unit bus gandeng dari pabrikan Zhongtong untuk Transjakarta di Koridor I (Blok-M – Kota) dan Koridor VIII (Lebakbulus – Harmoni).

Sejak pertama diujicoba untuk Koridor I, bus gandeng ini sudah mengundang perhatian banyak orang. Di situs jejaring sosial, banyak pemilik akun yang memasangnya sebagai foto profilnya. Tak salah jika Direksi DAMRI memilihnya sebagai armada untuk menarik minat warga Jakarta agar naik transportasi umum. “Kami sengaja memilih model ini, karena bentuknya yang menarik. Kami ingin armada kami menjadi perhatian siapapun yang melihatnya,” ujar Direktur Utama DAMRI Agus S. Subrata, Selasa (15/1/13).

Sejumlah keunggulan pun disebutkan Agus, seperti mesin Doosan GL11K tipe terbaru dan berstandar emisi gas buang Euro V dengan tenaga 340 HP. Tipe mesin yang diklaimnya lebih baik dibanding generasi sebelumnya yang kerap mudah panas. Dia optimistis bus Zhongtong berseri LCK6180GC menghadirkan pelayanan yang maksimal untuk warga Jakarta.

haltebus.com mencoba menilik lebih jauh keunggulan bus gandeng yang didatangkan secara utuh ini. Selain tampilannya yang menarik, sejumlah fitur yang menjanjikan kemudahan operasional disediakan pabrikan asal provinsi Shandong itu.

Dari sisi interior, bus ini terlihat sederhana. Di kabin penumpang nyaris tak jauh berbeda dengan bus-bus Transjakarta lainnya. Namun di balik itu, ada beberapa hal yang tergolong baru di Indonesia. Plafon AC, misalnya, bisa dibongkar pasang dengan mudah. Kabel-kabel untuk keperluan jaringan elektronik di kabin penumpang ditempatkan dalam plafon ini.

Di negeri asalnya, bus Zhontong diproduksi berlantai rendah, tiba di Indonesia, lantai bus dibuat tinggi menyesuaikan halte Transjakarta. Tempat duduk yang disediakan untuk penumpang yang duduk ada 40 buah, dengan satu ruang untuk kursi roda. Bus ini bisa mengangkut 130 penumpang. Ruang untuk penumpang juga telah dipisahkan, khususnya ruang untuk penumpang wanita yang ada di kabin penumpang bagian depan. Ada tiga kamera pengawas di dalam kabin penumpang yang bisa dilihat oleh pengemudi. Dua kamera lainnya juga terpasang mengarah ke depan dan belakang bus.

Uniknya, saat transmisi berpindah ke posisi berjalan mundur, layar monitor kamera yang menampilkan situasi empat kamera lainnya berganti ke kamera yang ada di belakang bus. Tak jauh berbeda pada fungsi kamera parkir pada mobil penumpang.

Bus dengan panjang 18 meter ini memiliki keistimewaan lain. Beragam fitur yang tersemat dalam bus-bus modern saat ini ada pada Zhongtong LCK6180GC. Ada Automatic Braking System, pengaturan kinerja mesin lewat Electronic Control Unit, juga ada transmisi otomatis yang dilengkapi retarder untuk menopang kerja mesin yang halus. Satu lagi, suspensi udara juga melengkapi kenyamanan penumpangnya.

Meski dilengkapi kontrol eletronik yang terkesan rumit, pengoperasian bus ini sangat mudah. Semua bisa dikontrol dari kabin pengemudi. Dashboard-nya yang sederhana menyembunyikan kemudahan-kemudahan. Semua kontrol elektris bisa dimonitor dari kursi pengemudi hanya dengan memencet beberapa tombol.

Layar pada dashboard bisa menampilkan kontrol mulai fungsi pintu, tekanan udara pada udara, Automatic Braking System, kontrol mesin, hingga tranmisi. “Semua masuk dalam control automatic network atau CAN,” ujar Rifky Oktaviano, Senior Engineer PT. Mobilindo Armada Cemerlang, perwakilan Zhongtong di Indonesia kepada haltebus.com.




Dua unit terminal menjadi pusat pengendali fungsi otomatis yang ditampilkan di dashboard. Terminal pertama berfungsi mengatur kontrol setiap peralatan yang dikendalikan secara elektris. Di terminal pertama ini ada alat pemutus hubungan listrik jika terjadi hubungan arus pendek pada kabel-kabel yang ada pada bus. Terminal kedua berfungsi sebagai pengatur lalu-lintas informasi yang ditampilkan, mengingat banyaknya fitur yang dikendalikan secara otomatis.

Untuk keadaan darurat, ada beberapa perlengkapan yang bisa membantu penumpang. Di luar maupun di dalam bus, ada tombol darurat untuk membuka pintu otomatis. di luar bus terletak di sisi kiri, di daerah seputar ‘moncong’ bus, tepatnya di samping pintu depan sebelah kiri. Sementara di dalam bus ada di masing-masing pintu. Perlengkapan sensor untuk pemadam api juga tersedia di dalam kabin mesin. Ada tiga titik yang bisa mendeteksi api yang kerap muncul saat mesin berbahan bakar CNG mengalami panas berlebihan, seperti kebakaran yang kerap dialami bus Transjakarta saat beroperasi. Masih ada pula tabung pemadam yang tersedia di masing-masing ‘gerbong’, dan dua buah tabung di samping pengemudi.

Secara umum bus Zhongtong tak jauh berbeda dengan bus-bus gandeng yang dirakit di Indonesia. Pabrikan Zhongtong meramu berbagai komponen yang juga sebagian digunakan oleh bus-bus gandeng buatan Indonesia. Namun, Agus menekankan, perbedaan terbesarnya adalah standar emisi gas buang Euro V yang mereka gunakan. Menurut dia, bus DAMRI Transjakarta menjadi bus pertama yang menggunakan standar emisi yang dikeluarkan Uni Eropa tahun 2008 silam. Bus-bus yang beredar di Indonesia memang masih berstandar emisi gas buang Euro II dan Euro III.

Kinerja mesin Doosan berkapasitas ditopang transmisi otomatis Allison T375R dengan 7 speed, bus terasa mulus saat berjalan maju atau mundur. Tenaga maksimum 340 HP dicapai pada 2200 rpm dan torsi maksimal = 160 Nm/1260 rpm. Kecepatan maksimal bisa mencapai 90 Km/jam. Berdasarkan informasi di situs resmi Doosan, mesin GL11K ini memiliki standar emisi gas buang yang ramah lingkungan. Emisi gas buang yang dihasilkan mesin ini adalah untuk Nitrogen Oxide mencapai 0.037 g/bhp-hr, Non-methan Hydrocarbon tercatat 0.07 g/bhp-hr, Methan ada di kisaran 0.10 g/bhp-hr dan Nitrous Oxide ada di level 0.10 g/bhp-hr.



Sayangnya, Agus S. Subrata mengakui, selama mengoperasikan bus gandeng di Koridor XI Pulogebang – Kampung Melayu, standar bahan bakar gas yang mereka gunakan tak seragam. Menurut dia, ada saja material yang tercampur dalam bahan bakar yang masuk ke dalam mesin. “Ya begitulah kondisi bahan bakar kita, tetapi yang jelas kami berkomitmen menghadirkan yang terbaik untuk Transjakarta,” katanya serius.

Kehadiran bus buatan pabrikan China memperkaya beragam teknologi bus yang ada di Indonesia. Beragam jenis dan karakter bus, diperkirakan memasuki pasar Indonesia tahun 2013 ini. Apalagi, keran untuk bus dengan tiga gandar juga telah dibuka melalui Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2012 tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan.

Kini, bus Indonesia tak hanya diwarnai dengan fitur suspensi udara saja, tetapi juga fitur-fitur yang mengarah pada era baru yang lebih canggih. Tentu saja kita berharap, semoga industri bus di dalam negeri tak hanya sekedar membuat bus, tetapi juga merakit bus luar dalam sehingga Indonesia tak kalah bersaing di era pasar bebas ini. (naskah: mai/foto: mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013