Selasa, 19 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DILEMA KENYAMANAN BUS TRANSJAKARTA
 
15 Maret 2013


(Jakarta – haltebus.com) Seorang lelaki terhuyung saat bus Transjakarta Koridor IV Pulogadung – Dukuh Atas langsung tancap gas hanya beberapa detik setelah dia menginjakkan kakinya di dalam bus. Belum sempat dia berpegangan pada besi yang ada di sebelahnya bus sudah melesat meninggalkan halte Universitas Negeri Jakarta Rabu (6/3/13). Nyaris di setiap halte, ada saja penumpang yang terhuyung akibat bus yang tiba-tiba dipacu oleh pengemudinya yang menimbulkan efek menghentak bagi penumpang yang berdiri di dalam bus Transjakarta.

‘Goyangan’ seperti yang dirasakan lelaki itu sudah menjadi keseharian pengguna bus Transjakarta. “Bus Transjakarta cukup menyiksa di saat jam-jam sibuk, pengemudinya sering injak rem mendadak dan tancap gas seenaknya,” kata Nia H, seorang penumpang kepada haltebus.com.

Dalam berbagai kesempatan peresmian beroperasinya angkutan kota, tiga bulan terakhir, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo selalu mengungkapkan masalah kenyamanan armada. Targetnya, agar pemilik kendaraan pribadi berpindah ke angkutan massal. Isu perpindahan pemilik kendaraan pribadi ini menjadi isu utama yang mewarnai wacana mengurai kemacetan di Jakarta.

Sayangnya, pembenahan angkutan massal di Jakarta tak terasa menyeluruh. Secara armada, adanya armada baru dalam jajaran bus kota memang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Namun, apa yang menjadi keluhan penumpang Transjakarta di atas adalah potret salah satu aspek dari kenyamanan angkutan massal di ibukota yang sehari-hari bisa kita temukan.

Menurut pemerhati yang juga pelaku usaha transportasi, Rudy Thehamihardja, kondisi ini tentu tak menguntungkan. Tak banyak pengemudi yang memahami tugasnya saat menjalankan bus. Selain aspek keselamatan, tentu saja aspek kenyamanan harus diperhatikan. “Akan sangat sulit memindahkan pemilik kendaraan pribadi jika angkutan umumnya jauh dari nyaman, tidak hanya nyaman fisik busnya, tetapi kecakapan pengemudinya harus diperhatikan,” kata dia.

Kepala BLU Transjakarta, Muhamad Akbar mengakui, ada masalah kedisiplinan pengemudi, terutama dalam hal kebiasaan mengemudi. Secara psikologis, kondisi jalan-jalan di Jakarta dan perilaku pengemudi kendaraan lain selain bus Transjakarta cukup merepotkan. “Seringkali mereka kelelahan karena macet, jalan diserobot kendaran lain, emosi mereka terkuras. Akhirnya mereka cenderung berperilaku seperti itu,” kata dia.

Menurut Akbar, pihaknya telah memikirkan bagaimana mengarahkan pengemudi agar bisa memperhatikan kenyamanan penumpang selama di perjalanan. Dia mengaku, tengah menjalin pembicaran dengan Dinas Perhubungan dan Ditlantas Polda Metro Jaya.

Tak heran jika kita sering mendengar berita tentang kecelakaan yang melibatkan bus Transjakarta dengan kendaraan lain. Meski kecelakaan itu terjadi di jalur yang seharusnya steril dari kendaraan lain selain bus Transjakarta, belakangan ada APTB dan Kopaja jalur tertentu, diperlukan pengemudi yang tetap memperhatikan keselamatan. Dalam pengamatan haltebus.com pengemudi Transjakarta sering melanggar batas garis putih di hampir setiap lampu merah. Terlepas dari adanya penyerobotan, kita masih sering melihat bus Transjakarta dipacu lebih dari 60 km/jam. Padahal kecepatan maksimal yang diatur BLU Transjakarta adalah 50 km/jam.

Menurut Direktur Operasional Lorena Transjakarta unit usaha PT. Ekasari Lorena, Donny A. S. Saragih ada kendala yang mereka rasakan terkait pengemudi ini. Menurut dia, tidak mudah mencari pengemudi bus yang bisa diandalkan, dari sisi kecakapan mengemudi. Apalagi, Lorena tak hanya mengoperasikan single bus tetapi juga articulated bus atau bus gandeng. “Untuk single bus saja kami harus selektif biasanya kami ambil dari pengemudi bus kota atau bus pariwisata. Untuk bus gandeng? Mana ada bus kota atau bus pariwisata yang gandeng?,” ujarnya.

Akhirnya Donny mencari cara yang dinilainya cukup aman. Mencari pengemudi yang berlatarbelakang pengemudi truk gandeng penarik peti kemas. Meski karakter pengoperasian bus gandeng tak sama dengan pengoperasian truk gandeng, setidaknya dia yakin pengemudinya memiliki SIM B2.

Pemilihan pengemudi truk bergandeng ini bukan tanpa alasan teknis.
Menurut dia, pengemudi truk itu telah terbiasa mengemudikan kendaraan besar bergandengan. Donny mengatakan, yang terpenting adalah dasar mengemudikan kendaraan dengan gandengan, sehingga dia hanya tinggal menambah pelatihan tentang bus gandeng, baik secara teori maupun praktek. Karakter pengemudi truk bergandeng secara umum memiliki tingkat kesabaran yang lebih dari rata-rata pengemudi kendaraan umum lainnya. Terakhir, tinggal meng-upgrade SIM B2 biasa menjadi SIM B2 umum saja,” katanya.

Sementara itu, Direktur DAMRI untuk Transjakarta Koridor I dan VIII, Joni Henri mengungkapkan pihaknya harus menggelar pelatihan khusus. Pelatihan ini ditujukan agar pengemudi memahami tugasnya, tak hanya terkait tanggungjawabnya pada kendaraan, tetapi juga untuk penumpang. “Kami menggelar orientasi khusus teori di kelas tiga hari, ada juga praktek di lapangan,” kata dia.

Rudy Thehamihardja menilai, dalam UU LLAJ No. 22 tahun 2009 tentang disebutkan, tugas pembinaan LLAJ secara berjenjang menjadi tanggungjawab pemerintah. Pemerintah melakukan pembinaan pada operator baik secara manajemen maupun kecakapan pengemudinya. “Harusnya ada lembaga yang mendidik pengemudi secara khusus. Tak cukup dengan mengeluarkan SIM, harus ada yang bertanggungjawab terhadap kompetensi si pengemudi secara berkelanjutan,” kata dia.(naskah : mai/foto: mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013