Kamis, 24 Oktober 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PENGELOLA TRANSJAKARTA HARUS DIBERI KELELUASAAN
 
22 Maret 2013


(Jakarta – haltebus.com) Bus Rapid Transportation di Jakarta, Transjakarta, menjadi tumpuan dan harapan semua kalangan bisa menjadi angkutan yang nyaman. Sayangnya, ada berbagai hal yang menjadi kendala dalam pengoperasiannya. “Sejak kelahirannya, BRT yang bernama Transjakarta diwarnai ketidaksiapan bentuk kepengelolaannya. Sejak tahun 2004 berubah-ubah dari UPT, Badan Pengelola hingga BLU,” kata pengamat transportasi Alvinsyah dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (20/3/13).

Menurut Alvin, pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mencari terobosan yang tepat agar pengelola Transjakarta bisa effektif. Dia mengungkapkan, ada berbagai aturan yang harus diperhatikan sehingga manajemen Transjakarta tak terbelenggu dan bisa melayani warga Jakarta dengan baik. Dia mencontohkan, meski diserahi tanggungjawab mengelola Transjakarta, Badan Layanan Umum yang ada saat ini masih harus tunduk pada kewenangan yang ada pada Dinas Perhubungan.

Dalam catatan haltebus.com, konsensus untuk mengubah status BLU Transjakarta menjadi BUMD atau badan lain yang sifatnya berdiri sendiri pernah diungkapkan Akbar akhir tahun 2011. Pada peresmian Transjakarta Koridor XI Kampung Melayu – Pulogadung Januari 2012, Gubernur Fauzi Bowo saat itu juga menyatakan tengah menyiapkan rancangan peraturan daerah tentang status BLU Transjakarta. Alvin mengaku mendapat informasi ada dua rancangan peraturan daerah yang menunggu finalisasi terkait pengelolaan Transjakarta ini.

Sekretaris Center for Transportation Studies Universitas Indonesia ini menilai, rencana Pemprov DKI Jakarta untuk mengubah BLU Transjakarta menjadi BUMD patut diapresiasi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana keleluasaan BUMD dalam pengelolaan Transjakarta. Dia menyatakan, kondisi manajemen pengelolaan Transjakarta cukup kritis. Sejak kelahirannya, lanjut dia, pola manajemen pengelolaannya masih belum mencapai titik ideal. “Jangan sampai nanti disuruh lari tetapi kakinya tetap dirantai,” kata Alvinsyah lagi.

Salah seorang peserta diskusi, Sarlito Wirawan sempat mempertanyakan banyaknya bus Transjakarta yang rusak. Bahkan saat diskusi berlangsung, dia membaca informasi melalui situs jejaring social ada dua unit bus Transjakarta yang mogok di sekitar Jl. Kwitang, Jakarta Pusat, tak jauh dari tempat diskusi. “Apa tidak ada perawatan pak? Kopaja yang seperti itu tak pernah terdengar terbakar kalo Transjakarta kok banyak ya?,” ujar dia sambil mengarahkan pertanyaannya ke Kepala BLU Transjakarta M. Akbar.

Akbar mengakui, ada beberapa kendala operasional di lapangan. Namun bukan berarti pihaknya tak melakukan perbaikan-perbaikan. Untuk kasus-kasus seperti kecelakaan atau kebakaran, ada prosedur yang disepakati antara BLU Transjakarta dengan operator. Jika ada pelanggaran, operator dikenai sanksi sesuai kontrak yang mereka tandatangani bersama BLU Transjakarta. “Kami melihatnya secara kasus per kasus agar jelas permasalahannya, dimana letak kesalahannya,” ujarnya.

Menurut Akbar, harapan yang besar terhadap Transjakarta membuat sorotan masyarakat begitu tajam mereka rasakan. Setiap kesalahan, meskipun kecil bisa menjadi topik yang di berbagai forum diskusi, juga di media massa. Sementara di sisi lain, beban operasional yang harus mereka jalani cukup berat. “Jam empat pagi bus sudah siap beroperasi, nanti bus kembali lewat jam 23.00 bahkan jam 24.00…begitu setiap hari. Tapi apapun semua masukan kami terima untuk perbaikan,” kata dia.(naskah : mai/foto : mai/dok)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013