Kamis, 24 Oktober 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KAIN KURSI BUS BERBAU WANGI?
 
01 April 2013


(Jakarta – haltebus.com) Kain pelapis kursi atau jok pada bus sepintas lalu hanya menjadi pelengkap agar kursi terlihat menarik. Siapa sangka dari kain ini ada berbagai hal yang menarik untuk diketahui. Salah satunya diungkapkan oleh Sales and Marketing Assitant Manager PT. Ateja Multi Industri, Galuh Harjaka di sela-sela Pameran Indonesia International Bus and Truck, di Jakarta Jumat (29/3/13) lalu.

Sepintas corak dan ragam kain berbahan polyester yang dipamerkan produsen kain khusus kursi kendaraan angkutan penumpang itu sudah cukup menarik. Namun, Galuh menyodorkan contoh kain yang menghasilkan bau wangi bunga lavender, saat haltebus.com menyambangi gerainya. “Cukup kita gosok sedikit, lalu kain ini akan menyebarkan aroma-therapy,” katanya.

Benar saja, hanya dengan menggosokkan jari di atas kain, semerbak wangi lavender terasa mengalir di hidung. Menurut Galuh, inovasi kain berbau wangi ini baru mereka tawarkan di pasar Indonesia pada tahun 2013. Dia mengungkapkan, wangi aroma-therapy menjadi nilai tambah untuk konsumen baik pemilik kendaraan maupun penumpang angkutan umum.

Galuh mengklaim, bahan polyester yang mereka produksi untuk kebutuhan 80 persen kendaraan angkutan umum sudah cukup ‘bandel’. Menurut dia, bahan polyester memungkinkan sirkulasi udara diantara serat kain yang terjaga, sehingga mengurangi efek bau keringat atau bau apak pada kain. Bahan pilihan produsen kain yang berbasis di Padalarang itu juga cukup kuat. “Tingkat abrasi (keausan) bulu-bulu pada kain untuk bus, kami pilihkan bahan dengan level maksimum,” katanya.

Di Bangladesh, lanjut Galuh, ada konsumen yang menggunakan kain pelapis kursi untuk bus hingga 12 tahun. Caranya, mereka kerap mencucinya untuk beberapa waktu tertentu. Sedangkan di Indonesia, kata dia, konsumen lebih memilih mengganti corak kain pelapis tiap lima-enam tahun agar bus mereka lebih terlihat baru dan bersih. “Setiap tahun kami mengeluarkan dua-tiga desain corak kain pelapis kursi yang baru,” ujar dia.

Menurut Galuh, aplikasi aroma-therapy pada kain pelapis kursi di angkutan umum dimungkinkan karena teknologi yang mereka miliki. Meski tak menjelaskan detil teknologi yang dimaksud, dia mengungkapkan, aroma wangi bisa ‘disimpan’ di antara bulu-bulu halus pada kain. Yang menarik lagi, dia mengklaim, kain pelapis ini bisa menyebarkan bau wangi hingga dua tahun.

Ada rupa, ada harga. Pepatah ini pun berlaku untuk kain yang diperkenalkan Galuh. Kain yang mengandung aroma-therapy itu dilepas ke pasaran 20-25 persen lebih mahal dibandingkan kain-kain tak beraroma. Seorang pengusaha karoseri yang menyambangi gerai Ateja mengaku tertarik dengan kain ini. Namun, dia mengaku masih mempelajari tawaran itu. Alasannya, menunggu respon konsumen yang tak lain aadalah pemilik armada angkutan umum.

Sementara ini, menurut Galuh, baru wewangian bunga lavender untuk aroma-therapy yang mereka produksi. Namun, konsumen bisa memilih beragam corak pelapis koleksi Ateja yang bisa mengeluarkan bau wangi itu. Jika respon pasar positif, produksi wewangian pada pelapis kursi akan ditambah jenisnya, tak sekedar wangi bunga lavender.

Ateja adalah salah satu ‘pemain’ utama kain-kain untuk interior rumah dan kendaraan, baik untuk di dalam ruang maupun di luar ruang. Berdiri pada tahun 1974, sejak 1986 mulai memproduksi material pelapis untuk industri otomotif. Mereka memasarkan hasil produksinya di lima Benua Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Hingga kini, Ateja tercatat memasok  pelapis kursi untuk 15 merk mobil yang diproduksi di Indonesia. (naskah: mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013