Minggu, 21 Juli 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PANTASKAH GAJI PENGEMUDI BUS TRANSJAKARTA RP. 7 JUTA?
 
11 April 2013


(Jakarta – haltebus.com)
Gaji pengemudi bus Transjakarta menjadi topik yang menarik didiskusikan di berbagai pertemuan maupun media beberapa pekan terakhir. Banyak kalangan lantas membandingkan pendapatan Rp. 7 juta yang diterima pengemudi bus Transjakarta dengan profesi-profesi lain. Ada yang mendukung, ada pula yang kontra. Namun, bagi Konsultan PPM Manajemen, Djoko Rebowo, angka itu adalah pendapatan yang ideal yang patut diterima pengemudi bus, khususnya bus Transjakarta. “Ada sejumlah tanggungjawab yang dibebankan pada pengemudi bus Transjakarta, utamanya bagaimana mereka bisa melayani penumpang dengan baik,” ujarnya kepada haltebus.com Jumat (23/3/13).


Djoko menilai, kenaikan pendapatan pengemudi bus Transjakarta harus dilihat dari sisi manajemen resiko operasional. Menurut dia, pengemudi menjadi ujung tombak pelayanan yang harus menghadirkan pelayanan terbaik, agar penumpang kendaraan pribadi bisa beralih ke angkutan umum seperti Transjakarta.

Dia mengungkapkan, sejumlah resiko dihadapi pengemudi. Mulai dari harus siap mengoperasikan bus sejak jam 04.00 hingga menghadapi kerasnya lalu-lintas di Jakarta. Padahal, mereka bertanggungjawab mengantarkan nyawa sedikitnya 80 orang dalam setiap perjalanannya, di jam-jam padat penumpang.

Sosiolog UI Prof. Paulus Wirutomo menggambarkan resiko operasional bus Transjakarta sebagai kegagalan kultural, struktural dan proses. Sejak awal pengoperasiannya, Transjakarta yang dicita-citakan melalui jalur tersendiri dan steril telah mengambil jalan kendaraan lain. Secara naluri, warga yang jalannya terambil tidak bisa menerima kehadiran Transjakarta. Ini terlihat dari jalur yang tak pernah sepi dari kendaraan di luar bus Transjakarta.

Secara struktural, ada masalah dalam manajemen Transjakarta yang melibatkan banyak instansi. Tidak ada ketegasan. Ketidaksterilan jalur bus Transjakarta hanya satu contoh yang sangat jelas terlihat. “Pemerintah DKI Jakarta harus segera menerapkan contraflow untuk bus Transjakarta. Dijamin jalur busway pasti steril, tidak ada lagi yang menyerobot,” kata dia.

Tidak mudahnya mengoperasikan bus Transjakarta diungkapkan seorang mantan pengemudinya, Ruriyatna. Menurut dia, sehari-hari mereka harus berjibaku dengan kepadatan lalu-lintas. Sering kali pengemudi kendaraan lain menyerobot jalur yang dikhususkan untuk mereka. “Nanti kalo ada kecelakaan, pramudi (pengemudi) yang jadi tumpuan kesalahan. Itu pasti,” ujar dia.

Ujung-ujungnya, lanjut Ruri, pengemudi diwajibkan membayar klaim atas kerusakan bus atau kerugian material kendaraan yang menjadi lawannya. Itu masih belum seberapa, jika kecelakaan menimbulkan korban jiwa, pengemudi harus menerima resiko berurusan dengan polisi. “Kalau sudah begitu gaji dipotong, siap-siap bawa pulang gaji Rp. 500-600 ribu ke rumah,” katanya.

Sementara itu, Edi Muhaidi seorang pengemudi Transjakarta yang masih aktif menyatakaan, resiko yang ditanggung seorang pengemudi cukup besar. Di saat-saat jam sibuk, bus dipastikan penuh. Dibutuhkan kesabaran ekstra dalam mengemudikan bus. Ketika bus terisi penuh, dia harus memperhatikan jarak pengereman dan titik beban penumpang yang bergerak. Setiap mengerem, karena memuat penumpang orang banyak, titik beban dinamis, bus terdorong ke depan. “Sering kendaraan lain menyerobot, sementara kami bawa penumpang dalam keadaan penuh. Ngerem harus pelan-pelan, selain karena beratnya beban bus, kasihan penumpang juga,” katanya.

Edi sedikit membuka dapurnya. Saat ini pendapatan yang diterimanya Rp. 3,2 juta sebulan. Bandingkan dengan petugas pendamping yang biasa berdiri di pintu bus yang mendapat Rp. 3 juta sebulannya. Padahal, dalam sehari, mulai pukul 05.00-14.00, dia wajib menjalankan busnya lima rit untuk rute reguler.

Sekedar gambaran, satu rit sama dengan satu perjalanan pergi-pulang. Panjang jalur yang harus dilalui satu kali jalan 14 Km. Di jam-jam sibuk jarak itu bisa ditempuh dalam waktu dua jam. Tidak jarang Edi juga menjalankan rute ekspress yang lebih panjang dalam satu shift setiap pengemudi harus menjalani tiga rit. Jarak yang ditempuhnya untuk rute ekspress sepanjang 33 Km, waktu tempuh sekali perjalanan di kala jam sibuk bisa lebih dari tiga jam.

Karena itu, Edi menyambut baik wacana peningkatan pendapatan bagi pengemudi bus Transjakarta untuk seluruh koridor. Menurut dia, selayaknya pendapatan pengemudi diperhitungkan pula dengan resiko yang harus mereka tanggung. “Kadang kami keluar bus hanya sekedar untuk ke kamar kecil dan makan, tak lebih dari 10 menit. Jika beruntung BBG habis, kami beristirahat saat antre isi BBG,” ujar dia.

Pengamat Transportasi Rudy Thehamihardja mengungkapkan, saat berkunjung ke Bogota, Kolombia, ada standar yang diterapkan untuk Bus Rapid Transit di sana. Menurut dia, suasana bekerja untuk pengemudi sangat nyaman. Ada tempat istirahat khusus yang dilengkapi kantin. Di tempat mereka istirahat ada pula ruang pertemuan seperti ruang kelas. “Di sana mereka beristirahat sambil menunggu giliran pemberangkatan. Ada pengaturan waktu keberangkatan yang jelas,” kata dia.

Kenaikan pendapatan pengemudi bus tentunya harus diiringi dengan catatan khusus, yakni peningkatan kualitas. Menurut Djoko, setelah ada kenaikan pendapatan, pengemudi diharapkan bersikap profesional. Baik dalam hal mengoperasikan bus maupun melayani penumpang. Paradigma melayani penumpang, kata dia, harus dikedepankan.

Djoko menambahkan, secara operasional bus-bus Transjakarta juga harus diperhatikan untuk menunjang kinerja pengemudinya. Dia berpendapat, jika bus tak terawat, tak hanya penumpang yang dirugikan. Pengemudi yang mengoperasikan bus pun, ikut menanggung resiko. Masalah keselamatan di jalan, juga terkait kesiapan operasional bus.

Kendala manajemen Badan Layanan Umum Transjakarta untuk menjangkau perawatan bus yang menjadi tanggungjawab operator harus dipertegas. “Di masa lalu seringkali BLU Transjakarta tak bisa berbuat banyak, kini setiap operator wajib menunjukkan kontrak perawatan dengan ATPM sebagai salah satu syarat lelang,” ujarnya.(naskah: mai/foto-foto: mai/kom/dok. haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013