Selasa, 16 Juli 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DILEMA KOMPETENSI PENGEMUDI BUS
 
15 April 2013


(Jakarta – haltebus.com) Kenaikan pendapatan pengemudi bus Transjakarta menjadi diskursus yang menarik untuk dibahas. Kenaikan itu menjadi preseden baik untuk meningkatkan kompetensi pengemudi bus, tidak hanya bus Transjakarta, tetapi bus pada umumnya. “Kami memulai untuk mengubah pola manajemen Transjakarta agar lebih mengedepankan pelayanan,” kata Konsultan PPM Manajemen, Djoko Rebowo kepada haltebus.com, Jumat (23/3/13).

Model pengelolaan bus Transjakarta yang mengedepankan pelayanan, menurut Djoko, tentu mengharuskan pengemudi menjadi ujung tombak di lapangan. Kenyamanan penumpang tergantung dari kecakapan pengemudi. Pengemudi menjadi fokus perhatian pembenahan ini.

Menurut Djoko, dia bersama manajemen BLU Transjakarta menggelar berbagai diskusi di lapangan untuk memulai titik awal pembenahan. Sampai akhirnya, mereka menemukan masalah interval antar bus yang terlalu lama. Ujung-ujungnya perilaku, kebiasaan, dan sikap pengemudi harus dievaluasi. “Kami memulainya dengan grup-grup kecil, dan berpikir untuk mencatat segala sesuatu yang menjadi kendala dan memperbaiki,” ujar dia.

Lalu bagaimana perbaikan ini dimulai? Direktur Transjakarta Koridor I dan VIII DAMRI Joni Hendri mengakui, pihaknya menjadi salah operator yang menerapkan gaji Rp. 7,47 juta untuk pengemudi Transjakarta. Menurut dia, sebelum pengemudi menerima bayaran Rp. 7,47 juta dengan catatan 25 hari kerja, mereka secara selektif menyaring pengemudi. “Kami menggunakan jasa konsultan psikologi untuk menyeleksi para pengemudi kami,” kata dia.

Kenaikan pendapatan pengemudi Transjakarta 3,5 kali Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta, sesuai dengan kontrak yang disodorkan BLU Transjakarta. Ini berarti, ada kenaikan kualifikasi pengemudi dibandingkan pengemudi bus-bus umum lainnya.
“Bus kami bus gandeng dibutuhkan kualifikasi khusus, karena itu kami masih menambahkannya dengan pelatihan,” katanya.

Sayangnya, meski kenaikan pendapatan pengemudi bus Transjakarta telah diterapkan namun belum ada lembaga pendidikan khusus pengemudi bus. Di Dublin, Irlandia, misalnya, seorang pengemudi bus kota harus menjalani pelatihan secara khusus. Mereka juga dilatih mengemudikan bus di beberapa ruas jalan yang diawasi secara khusus seorang instruktur. Mungkin kita bisa menyamakannya dengan kursus mengemudikan mobil yang banyak tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Sekolah untuk pengemudi bus di Dublin ini bahkan tidak hanya ditujukan untuk calon pengemudi, tetapi juga pengemudi bus yang sudah berpengalaman. Setiap pengemudi yang sudah berpengalaman, wajib mengikuti kelas penyegaran untuk mempertahankan akreditasinya.


Direktur Operasional Transjakarta Lorena Grup, Donny A.S. Saragih, mengungkapkan seharusnya ada lembaga semacam sekolah atau kursus untuk pengemudi bus. Dia menilai, sudah selayaknya Organda, Kementerian Perhubungan dan Kepolisian duduk bersama untuk membahas masalah ini. Dia mengaku, cukup kesulitan mencari pengemudi yang cakap. “Apalagi kami juga mengoperasikan bus gandeng yang tidak ada tempat belajarnya,” kata dia.

Kepala BLU Transjakarta, M. Akbar pun mengakui bahwa lembaga pendidikan pengemudi bus diperlukan untuk mencetak pengemudi bus yang sesuai kompetensinya. “Sudah ada pemikiran kami ke arah sana,” ujarnya.

Apa saja yang harus dikuasai pengemudi sebelum benar-benar mengoperasikan bus? Manager Training & Publication Dept. Service Division PT. Hino Motor Sales Indonesia Roffi Tresmawan mengungkapkan, seorang pengemudi bus harus hafal bus yang dioperasikannya. Menurut dia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorang pengemudi. “Sebelum menyalakan mesin, mereka harus melakukan inspeksi, mulai dari kaca depan, sisi kiri, belakang, sisi kanan hingga kembali ke depan,” katanya.

Di setiap sisi pengemudi wajib mengecek kondisi bus yang kasat mata. Di sisi kiri misalnya, seluruh ban harus diperiksa. Di bagian belakang, jika mesin bus terletak di belakang, minimal wajib memeriksa radiator, indikator oli serta memastikan kondisi mesin secara kasat mata tak ada keanehan.

Roffi menambahkan, saat pengemudi menyalakan mesin bus, mereka harus mengetahui karakter bus yang mereka kemudikan. Misalnya jarak pengereman yang aman, tenaga mesin, hingga beban muatan. “Seringkali kita mendengar istilah rem blong saat kecelakaan, karena rem tak berfungsi. Padahal jika diteliti lebih jauh tidak melulu kegagalan pengereman karena faktor kerusakan rem. Tidak sedikit karena jarak pengereman juga,” kata dia.

Pada tingkat lanjutan, lanjut Roffi, pengemudi juga diperkenalkan cara mengemudikan bus yang ekonomis. Dia mengatakan, pengemudi diajarkan cara mengemudi yang bisa menghemat bahan bakar. Keuntungannya, tak hanya effesiensi bahan bakar yang tercapai, tetapi umur mesin bus juga lebih terjaga.
   

Apa yang diungkapkan Roffi hanya sebagian kecil pengetahuan teknis tentang bus. Masih banyak lagi bagian-bagian lain yang harus dipahami seorang pengemudi bus. Karena itu, Pengamat Transportasi Rudy Thehamihardja menyatakan, sudah saatnya pemerintah, khususnya jajaran yang bertanggungjawab pada kewenangan perhubungan, mulai memikirkan kompetensi untuk pengemudi bus.

Menurut Rudy, lembaga pendidikan yang menjamin kecakapan si pengemudi sangat diperlukan. Dengan berbagai unsur yang harus dikuasai pengemudi bus, dia mengibaratkan pengemudi, layaknya pekerja yang membutuhkan ketrampilan khusus yang terakreditasi. “Seperti kita ketahui, ada sekolah untuk pilot, ada sekolah pelaut, nah adakah sekolah untuk pengemudi?,” katanya bersemangat.



Rudy mempertanyakan, siapa yang bertanggungjawab mendidik pengemudi? Bagaimana tanggungjawab pabrikan dalam menjaga agar produknya digunakan secara benar. “Berapa pengemudi di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikat keahlian mengoperasikan mesin (kendaraan) yang diproduksi oleh pabrikan?,” tanya dia lagi.

Pelatihan pengemudi untuk bus, lanjut dia, sudah selayaknya disebar ke seluruh Indonesia. Menurut Rudy, sangat aneh jika kriteria kemampuan pengemudi bisa diungkapkan, tapi pelatihan pengemudi tidak menjadi kewajiban dari semua pembeli produk kendaraan. Dia mengumpamakannya dengan konsumen yang membeli produk-produk yang berteknologi tinggi, yang kerap menjadikan pelatihan operator dalam satu paket pembelian.

Dia menegaskan, seharusnya ada yang bertanggung jawab untuk mendidik kecakapan pengemudi bus. Selain itu, Rudy yang sehari-hari juga terlibat dalam transportasi bus mengemukakan, harus ada pula yang bertanggungjawab mendidik calon pengemudi agar menjadi pengemudi Angkutan umum yang profesional di jalan raya. Dan yg paling penting, kata dia, siapa yg bertanggung jawab atas keahlian menjadi pengemudi angkutan umum di Indonesia.

Titik beratnya adalah, apa tanggung jawab dari pihak yang melakukan test keahlian. Jika indikatornya jelas, maka soal kepatutan antara kecakapan profesionalis pengemudi bus dan gaji yang diterima bisa diukur. “Bagaimana jika dilihat dari kacamata polisi, bagaimanapula di mata Dishub, atau pengguna jalan lain. Tanggapan masyarakat bagaimana?,” ujarnya.

Menurut Rudy, perlu ada pengawasan yang ketat atas hasil pendidikan yang menyangkut kompetensi. Setelah mengikuti pendidikan, lanjut dia, pengawasan diperlukan untuk menjaga kompetensi agar sesuai dengan standar minimal. “Tuntutannya mungkin berat untuk pengemudi, karena itu harus ada rewardnya juga. Misalnya asuransi yang bisa menjamin kesejahteraan mereka,” ujar dia.(naskah: mai/foto-foto: mai/dok.haltebus.com/
irishbusses.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013