Minggu, 21 Juli 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KETIKA PENGEMUDI BUS (TAK) MENDAPAT PEMBEKALAN
 
28 April 2013


(Jakarta – haltebus.com)
Sebuah bus terparkir hingga dua jam lebih di salah satu sudut kota Yogyakarta Senin (15/4/13). Kru bus terlihat kebingungan. Sesekali melihat ke arah ban kanan belakang-nya bagian dalam yang kempes. Firman Fathur yang memperhatikan keberadaan bus itu langsung menghampiri. Bersama kru bus Scorpion Holidays-nya, dia membantu. Tak lebih dari satu jam, bus itu bisa kembali jalan. “Kasihan, mereka gak punya peralatan untuk membuka ban. Saya perhatikan sejak kami datang sampai kami mau berangkat, kok sepertinya gak tertangani. Kasihan penumpangnya,” kata pemilik Scorpion Holidays ini.


Firman mengungkapkan, saat mereka membantu mengganti ban bus, ada pengakuan yang cukup mengejutkan dari pengemudi bus. Rem bus tidak berfungsi optimal, kita kerap menyebutnya dengan ‘tidak pakem’. Kondisi itu sudah dirasakan sejak bus berangkat dari Jakarta.

Usut punya usut, ternyata bus ber-chassis Hino R-260 lansiran tahun 2013 itu hanya membutuhkan penyetelan saja. Caranya pun mudah, cukup dengan memutar sebuah mur dengan obeng, kerapatan dan kerenggangan kanvas rem bisa diatur dengan mudah. Nah, yang dialami oleh bus berkelir kuning yang dibantu Firman adalah kanvas rem terlalu renggang. “Kan sebetulnya mudah ya untuk nyetel rem Hino R-260, cukup pakai obeng. Bus baru kan fitur-fiturnya mudah,” ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Apa yang ditemui Firman, mungkin saja sering dialami oleh operator bus. Kru bus yang tak antisipatif terhadap kemungkinan kendala yang terjadi di jalan, hingga yang tak mengenal bus yang mereka operasikan. Sementara mereka memiliki kewajiban mengantarkan penumpang dengan selamat hingga ke tempat tujuan. Tentu kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi penumpang maupun operator bus.

Atas dasar itu, Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) menggelar pelatihan untuk pengemudi bus pada 20 – 23 Maret lalu. Menurut Ketua Umumnya, Kurnia Lesani Adnan, mereka ingin memberikan wawasan baru pada pengemudi agar bisa melayani penumpang dengan baik. Selama ini, dia dan teman-teman pengusaha bus merasa pengemudi bus belum sepenuhnya memahami tugasnya sehari-hari. “Kami ingin mereka memahami bahwa tugas mereka tak sekedar mengemudi, ada beberapa aspek lain yang harus diperhatikan,” kata dia.

Pria yang akrab disapa Sani ini menjelaskan, pelatihan selama tiga hari di Pusat Pendidikan Latihan Tempur TNI AD di Klaten itu juga disertai pengenalan kedisplinan. Tujuannya, selain mereka memahami tugas, juga bisa mengetahui pentingnya disiplin dalam menjalankan tugasnya.

Adapun materi yang diberikan adalah materi yang terkait dengan tugas mereka sehari-hari. Pengurus IPOMI yang juga memberikan materi pelatihan menyampaikan misi pelayanan terhadap penumpang, bagaimana menjalankan tugas sehari-hari. Pelatihan ini, menurut Sani, untuk mengembalikan perlaku pengemudi ke tugas pokoknya. “Supaya mereka menyadari bahwa mereka tidak hanya sekedar memutar kayu bulat (stir) yang ada dihadapannya, namun harus mengantarkan penumpangnya yang memasrahkan nyawanya pada pengemudi bus,” kata dia.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Soeroyo Alimoeso, yang melepas pelatihan pengemudi bus menyambut baik ide pelatihan yang diinisiasi pengusaha. Dia meminta operator bus lebih memperhatikan keselamatan penumpang dari pada sekedar mencari keuntungan. “Jangan lagi ada kecelakaan, harus dikurangi. Saya berterima kasih, di tengah kesadaran masyarakat yang rendah terhadap keselamatan, masih ada anak-anak muda yang punya perhatian,” ujarnya.(naskah : mai/foto: mai/dok.haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013