Rabu, 12 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
INISIATIF ITU DATANG DARI PENGUSAHA BUS
 
17 Mei 2013


(Jakarta – haltebus.com)
Enam puluh orang memenuhi sebuah ruangan di salah satu bangunan di kompleks Depo Pendidikan Latihan Tempur Resimen Kodam IV Diponegoro di Klaten, Jawa Tengah. Mereka tertunduk sambil menutup mata. Sebagian terlihat tenang. Sebagian lagi terlihat larut dalam emosi, airmata mulai merembes dari sudut mata. Sejurus kemudian, terdengar suara orang sesenggukan menahan tangis. Di tengah-tengah mereka, seorang perempuan dengan kalimat yang tertata menyampaikan kalimat-kalimat yang menyentuh. “Bayangkan anak, istri, bahkan orang tua anda.....ingatkah anda pada mereka saat menjalankan tugas mengemudi? begitu kalimat yang meluncur dari bibir R.A.Y Febri Hapsari Dipokusumo, dari FHD Motivation and Personal Development.


Apa yang dijalani para pengemudi dari Perusahaan Otobus yang tergabung dalam Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) itu adalah salah satu sesi dari berbagai sesi pelatihan. Mereka adalah angkatan pertama pelatihan singkat pengemudi bus yang diadakan IPOMI 20-22 Maret lalu. Menurut Ketua Umum IPOMI, Kurnia Lesani Adnan, mereka ingin menunjukkan komitmen diantara anggotanya untuk meningkatkan pelayanan pada penumpang bus dengan melatihan pengemudi.

Kurnia yang akrab disapa Sani ini menyatakan, organisasi yang terbentuk karena persamaan persepsi itu ingin mengubah paradigma yang sering mengaitkan bus dengan kecelakaan. Padahal, kata dia, kecelakaan adalah hal yang paling mereka hindari. “Kalau bus terlibat kecelakaan, bukan saja penumpang yang dirugikan, pengusaha dan khususnya pengemudi juga ikut dirugikan,” ujarnya.

Menurut Sani, pelatihan ini sengaja digelar untuk menggugah pengemudi agar memahami tugas-tugasnya. Tak salah, sebab, Tanggungjawab yang dibebankan pada pundak mereka cukup besar, yakni mengantarkan penumpang hingga ke tempat tujuan dengan selamat.

Pelatihan yang dilepas secara simbolis oleh Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimoeso ini adalah pelatihan yang pertama kali diprakarsai oleh sekumpulan pengusaha bus. “Saya senang ada pengusaha yang masih muda-muda mau ikut memikirkan bangsa ke depan,” ujar dia.

Seperti gayung bersambut, para pengemudi yang ikut pelatihan mengaku senang dengan adanya acara ini. Markidi dari PO. Maju Lancar menyatakan, belum pernah mengikuti pelatihan pengemudi. “Kalau ada pelatihan lagi saya mau ikutan lagi. Saya senang karena selama ini saya orangnya seenaknya kalau bekerja, ndablek (masa bodoh),” katanya.

Markidi merasa apa yang dijalaninya selama ini mengabaikan tugas-tugas pengemudi yang seharusnya. Dia mengaku menjalani pekerjaannya tanpa tanggungjawab pada orang lain dan juga keluarga.

Sementara, Yusran Nasution dari PO. NPM mengaku pelatihan itu memberikan gambaran apa yang harusnya dilakukan sebagai pengemudi. Dia merasa senang ada perhatian dari para pemilik bus pada pengemudinya. “Pas renungan, banyak juga yang menangis...terkenang keluarga di rumah, bagaimana kami hidup di jalan. Kami ini tidur pun tak teratur, makan tak teratur, saat pelatihan kami diajarkan disiplin,” ujar Yusran.

Yusran yang sehari-hari mengemudikan bus Jurusan Bukittinggi-Bogor menyatakan, meski pelatihan itu cukup asing bagi kehidupan seorang pengemudi bus, pada akhirnya dia bisa menikmatinya. Biasanya kehidupan mereka tak teratur. Jangankan jam tidur, dimana mereka harus tidur saja tak pernah dipastikan. Dia berterima kasih pada IPOMI karena mendapat pengalaman dan pengetahuan baru, disamping teman-teman baru.



Lalu materi apa saja yang diberikan pada para pengemudi ini? Kurnia mengatakan, selama pelatihan tiga hari itu, mereka menggembleng pengemudi dengan latihan kedisiplinan, tugas-tugas pengemudi. Pengisi materi teridiri dari Kepolisian, Dinas Perhubungan, juga dari jajaran pengurus IPOMI yang tak lain juga pimpinan masing-masing pengemudi. Ada pula pengetahuan tentang menangani persalinan di perjalanan. Di akhir pelatihan ada sesi motivasi yang disampaikan oleh Febri Hapsari. “Pokoknya kami gugah mereka, agar bisa menularkan apa yang seharusnya dilakukan pengemudi pada pengemudi lain,” ujarnya.

Komandan Depo Pendidikan Latihan Tempur, Letkol Heri Setiyono menyatakan kebanggaannya atas apa yang dilakukan oleh IPOMI. Dia mengaku senang bisa bekerja sama dengan pengusaha-pengusaha muda. “Saya heran, mereka masih mau memikirkan pengemudinya. Biasanya kan mereka sibuk dengan usahanya, tapi IPOMI mau memikirkan yang terbaik untuk masalah keselamatan,” katanya.



Menurut Hery, kegiatan pelatihan yang dilakukan IPOMI masih dalam lingkup tugas pembinaan teritorial TNI. Salah satu materi tentang kedisplinan dan bela negara menjadi materi yang mereka ajarkan dalam pelatihan kali ini. Peserta harus menjalani jurit malam, dibangunkan tengah malam, bersiap apel malam. Setiap pagi dibangunkan pagi-pagi untuk ibadah salat subuh, olahraga, juga apel pagi.

Bekal pelatihan seperti yang diadakan IPOMI, menurut pemerhati transportasi Rudy Thehamihardja tak cukup. Seharusnya Kemenhub memiliki modul berstandar nasional untuk melatih kecakapan pengemudi bus. Saat ini, lanjut dia, telah terjadi krisis pengemudi bus baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Pertumbuhan jumlah armada bus yang ada dari tahun ke tahun tak dibarengi dengan penambahan jumlah pengemudi. Bahkan, kerap kali terjadi pengemudi yang belum memiliki pengalaman mengemudi yang cukup mengemudikan bus yang mengangkut lebih dari 30 nyawa penumpangnya.

Dia mengatakan, adalah hal yang tak wajar jika pengusaha mengadakan pelatihan pengemudi sendiri. Padahal, kewenangan untuk mengatur urusan perhubungan yang diberikan UU nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan ada pada Kementerian Perhubungan. Pengusaha bus adalah operator yang mengoperasikan bus, karena itu menurut Rudy, pemerintah sebagai regulator berkewajiban mengatur operator.  “Pengusaha yang seperti ini harus diberi insentif dari pemerintah? Pemerintah harusnya tanggap dengan menyediakan modul berstandar nasional sebagai acuan pelatihan pengemudi,” ujar dia.


Rudy berharap, pemerintah menyediakan sekolah pengemudi untuk mendidik pengemudi yang memahami tugas dan tanggungjawabnya dalam mengoperasikan bus. Masalah keselamatan tidak boleh dianggap remeh. Apalagi pemerintah telah mencanangkan dekade aksi keselamatan di jalan raya. (Naskah : mai/foto : mai/istimewa)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013