Minggu, 21 Juli 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DIMULAI, ERA BUS BERSUMBU TIGA DI INDONESIA
 
02 Juni 2013


(Jakarta – haltebus.com) Diam-diam menghanyutkan. Pepatah tua ini sepertinya dipegang teguh pabrikan China yang mengusung merek Golden Dragon dalam memasarkan produknya di Indonesia. Bergandengan dengan mitranya di Indonesia, PT. Indo Dongfeng, Xiamen Golden Dragon Bus Co, Ltd. diam-diam menghadirkan chassis 3-axle, chassis bersumbu tiga. “Ini adalah unit pertama yang kami datangkan, baru selesai diuji tipe,” ujar Manager Pemasaran PT. Indo Dongfeng, Erko Sudiarsono kepada haltebus.com Sabtu (1/6/13) di Jakarta, saat memperkenalkan chassis terbarunya.

Bus bersumbu tiga ini memang baru bisa didatangkan pada tahun 2013. Sebelumnya pemerintah belum mengeluarkan regulasi tentang bus tunggal berdaya angkut besar. Namun sejak Juni 2012, bersamaan dengan keluarnya PP No. 55 tahun 2012 tentang Kendaraan, pemerintah memperbolehkan bus yang disebut sebagai bus maxi.

Dalam pasal 5 peraturan itu, disebutkan bus maxi yang dirancang dengan jumlah berat yang diperbolehkan lebih dari 16.000 kg – 24.000 kg. Ukuran panjang keseluruhan lebih dari 12.00 mm – 13.500 mm. Sedangkan ukuran lebar keseluruhan tidak melebihi 2.500 mm, tinggi tidak lebih dari 4.200 mm dan tidak lebih dari 1,7 kali lebar kendaraannya.
 
Nah, chassis Golden Dragon ber-tipe XML6145D13 yang didatangkan ke Indonesia memiliki satu sumbu penggerak dan dua sumbu pengarah dengan panjang tak lebih dari 13,5 meter, berat chassis 9,8 Ton dan berat maksimum 26 Ton. Yang dimaksud sumbu pengarah adalah sumbu yang bisa dibergerak mengarahkan bus. Sumbu utama pengarah tentu saja yang ada di depan yang dikendalikan dengan steering wheel. Sedangkan sumbu pengarah kedua ada di bagian belakang. Tepatnya sumbu ketiga yang posisinya berada di susunan paling belakang. Sumbu penggerak ada pada sumbu kedua. “Pada kecepatan 20 Km/jam, roda di sumbu yang paling belakang akan ikut mengarahkan bus sesuai dengan arah roda depan,” kata Erko.

Dua sumbu pengarah inilah yang menjadi pembeda bus bersumbu tiga dengan bus-bus bersumbu dua yang banyak beredar di Indonesia. Saat Manager Operasional Blue Star, Andreas D. Wijaya dan salah satu pemilik PO Manhattan Tjahjo Wibowo menjajal di areal garasi PO Manhattan, terihat roda di sumbu paling belakang sedikit bergeser saat berbelok. Arah roda mengikuti arah roda depan yang dikendalikan steering wheel.
 
Sistem pengarah roda belakang bus sebetulnya lazim ditemukan pada bus bersumbu tiga yang banyak beredar di negara-negara maju atau negara yang sudah mengoperasikan bus jenis ini. Sementara untuk di Indonesia sistem pengarah roda belakang masih terasa asing karena regulasi tentang bus dengan panjang 13,5 meter baru ditetapkan pemerintah pada tahun 2012 lalu. Chassis Golden Dragon termasuk gelombang pertama bus bersumbu tiga yang masuk ke negeri ini.



Pada chassis Golden Dragon ini, pengarah roda belakang dilakukan oleh rangkaian lengan hidrolik dan saluran tekanan udara. Semuanya dikendalikan secara elektronik melalui rangkaian Electronic Control Unit (ECU). “Mengemudikan bus ini sama seperti kita mengemudikan bus yang umumnya ada di sini, tidak ada kesulitan mengendalikannya. Belok juga mudah,” kata Prayitno, pengemudi yang bertugas mengawal chassis ini.

Keunikan lain ada pada mesin. Jika pada chassis-chassis Golden Dragon yang beredar di Indonesia sebelumnya mengusung mesin Yuchai, pada model XML6145D13 mengusung mesin Weichai. Mesin WP10.375 enam silinder berkapasitas 9.210 cc itu memiliki tenaga maksimum 375HP pada 1460Nm. “Mesin ini bisa menghasilkan tiga tenaga yang berbeda. Dengan hanya menekan tombol maka anda bisa mengatur tenaga yang dibutuhkan. Apakah 375 HP, 336 HP atau 290 HP,” kata Lin Chenzhong Sales Representatif Xiamen Golden Dragon Co, Ltd.

Lin menambahkan, dengan pilihan tenaga yang bisa diatur, chassis ini cocok untuk segala medan. Jika melalui jalan datar yang tak membutuhkan tenaga, pengemudi hanya tinggal mengatur tombol pada posisi 290HP. Sementara ketika melalui jalan yang menanjak dan berkelok-kelok, tenaga 336HP dan 375HP bisa dimanfaatkan, juga hanya dengan mengubah tombol.

Mesin yang mengusung teknologi gas buang Euro-III ini juga dilengkapi turbocharger dan intercooler. Xiamen memilih Voith untuk retarder yang dikawinkan dengan transmisi manual Qi Jiang QJS6-160 enam percepatan. Pada kaki-kaki, bus maxi dengan tipe penggerak 6x2 mengaplikasikan axle buatan Fang Sheng yang ditopang dengan suspensi udara yang bisa diatur ketinggiannya secara otomatis. Setiap roda dilengkapi dengan rem cakram yang mengandalkan Double loop pneumatic brake system dan Antilock Braking System (ABS) WABCO.

Otomatisasi sistem pada chassis ini tak hanya menyangkut pengaturan mesin dan sistem pengereman semata. Pemilik bus kelak tak akan direpotkan dengan penambahan atau penggantian pelumas di luar mesin secara berkala. Tak perlu menambahkan oli pelumas di kaki-kaki, misalnya. Ada alat yang secara otomatis mengisi pelumas yang tertanam pada chassis.

Sayang dibalik keunggulan dan fitur menarik itu ada sedikit kekurangan pada
chassis XML6145D13. Chassis spaceframe dengan panjang 13,310 m x 2,470 m x 1,980 m terlihat kurang rapi. Las sambungan antar besi terlihat tak seragam. Di beberapa bagian potongan besi juga tak rapi. Lengan suspensi belakang juga terlihat 'masuk' pada batang chassis. Lin mengklaim semua aman untuk operasional di segala medan.

Kekurangan itu tak mengurangi minat Wibowo, sapaan akrab Tjahjo Wibowo, yang mengaku tertarik dengan bus maxi bersumbu tiga itu. Menurut dia, dari sisi harga, cukup kompetitif. “Kalau dilihat detil teknologinya, yang mereka aplikasikan di chassis ini sama dengan teknologi pada bus-bus Eropa. Saya punya dua bus dengan chassis Golden Dragon, sejauh ini alhamdulillah tidak ada kendala,” katanya.

Strategi pemasaran PT. Indo Dongfeng didukung mitranya Xiamen Golden Dragon Bus Co, Ltd cukup berani. Tawaran yang mereka selama ini juga berhasil menggoda sejumlah operator bus di Indonesia, baik bus pariwisata maupun bus bertrayek. Tak salah jika Erko mengaku telah menjual sedikitnya 300 unit chassis Golden Dragon beberapa tahun terakhir. Bahkan, dua tahun terakhir ada operator yang memesan lebih dari 50 unit chassis. Untuk penjajakan kami menyiapkan 10 chassis 3-axle, unit pertama sudah dipesan oleh Epa Star Palembang, kata Erko.

Sekarang pertanyaannya adalah : Dengan pertumbuhan chassis yang cukup signifikan, lebih dari 2.000 unit per tahun siapkah perusahaan-perusahaan karoseri pembuat bus menyerap chassis bus baru? Apalagi chassis 3-axle sama sekali baru untuk Indonesia. Data Gaikindo hingga April 2013 mencatat produksi bus untuk kebutuhan domestik dan ekspor di kelas 10 – 24 Ton telah mencapai 1.139 unit dan bus kelas 5 – 10 Ton sebanyak 903 unit. Sementara dari sisi penjualan, ada 933 unit yang sudah terjual di kelas 10 – 24 Ton, dan 538 unit di kelas 5 – 10 Ton.(naskah : mai/foto-foto : mai/istimewa)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013