Kamis, 24 Oktober 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
GOYANGAN DARI MALANG UNTUK TREK SUMATERA
 
11 Desember 2013


(Malang – haltebus.com)
Pertengahan Oktober lalu, dua unit chassis tengah dioperasi di Karoseri Tentrem. Chassis SanChai SC280-61A berwarna hijau terlihat kokoh dengan rangkaian besi hollow penopang yang menghubungkan bagian depan dan belakang. Sebulan lamanya chassis itu diutak-atik hingga siap dibuatkan baju, pada Minggu (24/11/13). "Kami merangkai suspensi udara yang kami modifikasi bersama Karoseri Tentrem sesuai keinginan kami," kata pendiri PO. Siliwangi Antar Nusa Hasanuddin Adnan kepada haltebus.com di Karoseri Tentrem, Malang saat mengecek kedua chassis-nya.


Suspensi udara masih menjadi barang mewah di kalangan pengusaha bus di Indonesia. Fitur ini ada untuk menjaga kenyamanan penumpang selama perjalanan. Hasanuddin ingin bereksperimen meramu suspensi udara khusus untuk medan jalan di Sumatera yang dikenal sulit. Chassis SanChai SC280-61A adalah salah satu hasil karya PO. SAN yang mereka rakit sendiri.

Hasanuddin rela merogoh kocek lebih dalam untuk modifikasi ini. Suspensi udara hasil karya Karoseri Tentrem yang berbanderol Rp. 75 juta masih ditambahnya dengan fitur elektris pengatur ketinggian balon udara dari Wabco yang menghabiskan dana lebih dari 30 juta untuk kedua chassis.

Apa saja keunggulan dari fitur yang ditanamkan di suspensi udara itu. Penanggungjawab Operasional Karoseri Tentrem, Yohan Wahyudi menjelaskan, adanya pengatur ketinggian balon udara memudahkan pengemudi untuk melalui jalan berlubang atau yang bisa menyebabkan bagian bawah bus membentur jalan. "Ketinggian bisa diatur naik dan turun sekitar 7 cm dari posisi normal (43 cm dari tanah) hanya dengan menekan tombol yang ada di dashboard," ujarnya.

Fitur tombol naik-turun balon udara pada dua chassis itu tidak sama. Balon udara yang dipasang pada chassis pertama hanya diatur bisa naik-turun secara bersamaan. Sementara untuk chassis kedua, pengaturan ketinggian untuk dua sisi bisa dilakukan terpisah. Sistem pengaturan suspensi ini dikenal dengan Electronically Controlled Air Suspension (ECAS). Chassis bisa miring ke kiri jika tiga balon udara di sisi kiri diturunkan dan tiga balon di sisi kanan pada ketinggian normal, begitu juga sebaliknya. "Kalo pabrikan Eropa kan, di sana mereka bisa buat bus secara otomatis bergoyang ke kiri atau kanan menyesuaikan kontur jalan yang berbelok atau tidak rata, kita baru belajar ke arah sana. Baru sebatas goyang karena pencet tombol," kata Hasanuddin sambil tertawa lepas.

Sistem suspensi udara elektrik untuk bergaya? Soal pengaturan ketinggian ini, menurut Hasanuddin, cukup penting, tidak main-main. Tak hanya membuat bus terjaga dari benturan akibat jalan yang tak sama ketinggiannya, tetapi juga membuat awet suspensi. Dia mengaku kerap mengalami kendala operasional karena bagian bawah mesin terbentur tanah atau lainnya. Banyaknya lubang di musim hujan tentu menjadi ancaman. Coba bayangkan, bagaimana mungkin bumper depan atau bumper belakang bus bisa terlepas? Di Sumatera itu sangat mungkin terjadi.
 



Ancaman lain terkait ketinggian permukaan adalah saat menyeberang di Selat Sunda. Pasang-surut air laut dan gelombang tinggi kerap membuat kapal penyeberangan labil. Belum lagi jika tinggi permukaan kapan tak sama dengan permukaan dermaga. Di dalam kapal pun, lanjut Hasanuddin, belum tentu aman. Goyangan kapal akibat ombak juga masih mengancam. Pengaturan ketinggian suspensi dia yakin dapat mengamankan kendala-kendala itu. Setidaknya dia telah berupaya.

Karena kebutuhannya itulah, Hasanuddin mengaku sengaja memasang suspensi udara di Karoseri Tentrem karena balon udara di bagian belakang ditempatkan di atas axle. Satu lagi, dia bisa ikut memodifikasi dengan tambahan stabillizer dan memperkuat konstruksi suspensi rancangan Yohan dan timnya agar sesuai dengan medan di jalur Sumatera.



Kemampuan PO SAN untuk merakit chassis sudah dimulai sejak eksperimen mereka di tahun 2005-2006. Tahun ini, mereka mencoba mengawinkan suspensi rancangan Karoseri Tentrem dengan SanChai SC280-61A. Satu lagi, dua SanChai bersuspensi udara itu juga dilengkapi retarder Telma. "Ini sengaja kami pasang untuk membantu pengereman, kanvas rem lebih awet dan tak mudah panas, sehingga lebih safety untuk penumpang" kata Hasanuddin.

Kolaborasi karoseri dan operator bus memang hal yang biasa. Kerjasama PO. SAN dengan Karoseri Tentrem, menurut Hasanuddin, hanya sarana berbagi ilmu dalam upaya mencari formula yang pas untuk spesifikasi bus yang nyaman dan cocok untuk kondisi di Indonesia. Penasaran apa rasanya suspensi udara kreasi mereka? Sepertinya anda harus bersabar menunggu tiga bulan ke depan, menunggu busnya selesai dibuat. (naskah : mai/foto: mai/dok.Karoseri Tentrem)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013