Jumat, 15 Desember 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SEBERAPA BAHAYA DEBU VULKANIK UNTUK BUS?
 
17 Februari 2014


(Jakarta – haltebus.com) Hingga hari kedua sejak letusan Gunung Kelud, sejumlah daerah di Jawa Tengah masih terselimuti debu vulkanik. Besarnya material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Kelud dan turun sejak Jumat dinihari itu menyebabkan volume debu terpapar di udara terbilang lama. Tak hanya penerbangan yang terganggu, angkutan darat juga mengalami hal yang sama, utamanya jarak pandang. Meski masih bisa beroperasi, bus-bus yang mengangkut penumpang di tengah pekatnya debu menghadapi bahaya laten. "Jangan sampai debu masuk ke mesin. Kalau debu masuk ke mesin, pasti ring piston dan cylinder liner akan aus," ujar Executive Officer Service and Sparepart PT. Hino Motor Sales Indonesia (HMSI), kepada haltebus.com, Jumat (14/2/14).


Debu vulkanik yang relatif halus memang rentan masuk ke mesin. Besarnya kapasitas mesin bus, membuat udara yang dibutuhkan saat pembakaran di mesin juga banyak. Hisapan melalui air inlet juga besar. Karena itu, kata Irwan, setiap bus yang melalui jalan atau daerah berdebu wajib diperiksa saringan udaranya lebih dari pemeriksaan.

Menurut Irwan, pembersihan saringan udara ini untuk memperkecil kemungkinan debu masuk ke dalam mesin. Dia menjelaskan, masuknya debu ke mesin dan bercampur dengan oli bisa menggerus ring piston dan cylinder liner karena sifat debu menjadi seperti amplas. Jika ini terjadi, oli merembes ke ruang pembakaran yang menyebabkan pembakaran tak sempurna. "Bisa dilihat cylinder liner atau boring-nya baret-baret," ujarnya lagi.

Apa tanda-tanda bus mulai terdampak oleh debu? "Tenaganya habis, keluar asap putih dari knalpot sebagai tanda ikut terbakarnya oli di ruang pembakaran," kata Irwan.

Soal bahayanya debu untuk mesin juga diungkapkan Fleet Customer Consultant Divisi Aftersales PT. Mercedes-Benz Indonesia, Donny Kadarusman. Menurut dia, debu vulkanik tidak sama dengan debu biasa dari tanah. "Mengandung silika, jadi lebih tajam dari debu biasa. Dampaknya ke mesin tidak boleh diremehkan, bisa-bisa overhaul," kata dia.

Baik Donny maupun Irwan menyarankan pemeriksaan saringan udara yang mengarah ke mesin diperiksa sesering mungkin. Kerapatan pemasangan saringan udara juga harus diperhatikan, setelah dibersihkan. Irwan menambahkan, saat melewati jalan yang berdebu, sebaiknya bus tidak dipacu dengan kecepatan tinggi atau berjalan dengan putaran mesin tinggi walau berjalan lambat. Putaran mesin yang tinggi, lanjut dia, membutuhkan hisapan udara yang besar, otomatis debu yang bercampur udara juga dengan mudah masuk. Dia menyarankan agar bus dijalankan dalam posisi putaran mesin yang rendah.

Namun, Hasanuddin Adanan dari PO. Siliwangi Antar Nusa punya pengalaman tersendiri. Saat debu vulkanik Gunung Kelud menyebar, armada yang beroperasi dari dan ke Blitar dan Tulungagung diperiksanya. Alhasil, di saringan udara debu menumpuk cukup tebal. Dinding tabung juga harus dibersihkan. "Saya terpaksa mengganti saringan udara tidak kurang dari delapan bus kami. Padahal semua armada PO. SAN air inlet-nya diatap," kata dia.

Hasanuddin juga mengaku terpaksa menutup atap semua armadanya di garasi busnya di Sukoharjo dengan terpal. Sebab, tak hanya saluran udara pada mesin yang terdampak, bus yang terparkir juga rentan rusak. Selain mesin, kata dia, blower pendingin udara/AC di atap bus juga harus diperhatikan. Saat bus diam maupun bergerak, bagian ini sangat mudah dimasuki debu.



Sementara itu, Sekretaris Divisi Engineering PO. Rosalia Indah Sriyanto mengakui banyak masalah yang ditimbulkan dampak menyebarnya debu vulkanik Gunung Kelud. Selain mesin dan AC, ada masalah lain yang tak bisa diremehkan. "Kaca bus jadi baret-baret karena saat dibersihkan dengan wiper ternyata debunya tajam, motor penggeraknya juga bisa rusak," ujar dia.


Hasanuddin dan Sriyanto dengan garasinya di Sukoharjo dan Karanganyar ini cukup merasakan dampaknya debu vulkanik. Mereka harus menyemprot busnya demi menyapu debu yang menempel di sekujur bus. Itupun tak mudah, sebab debu menjadi sangat lengket. Menurut Sriyanto, mereka menyemprotkan air bertekanan tinggi untuk membersihkan blower AC, bagian bawah bus dan ruang mesin. Sementara jika dibersihkan dengan kompresor, debu justru semakin menyebar di udara. Sriyanto mengirimkan beberapa foto kepada haltebus.com yang menunjukkan tebalnya debu di garasi PO. Rosalia Indah Ngringo, Jaten, Karangangyar.



Walau terbilang tak jauh dari Gunung Kelud, PO. Harapan Jaya masih bisa membersihkan bus-busnya dengan kompresor angin dan semprotan air bertekanan tinggi. Menurut Manager Workshop PO. Harapan Jaya, Bintoro, debu vulkanik di Tulungagung tak seberapa dibandingkan dengan Kediri, Solo, Yogya dan sekitarnya. Menurut dia, setiap sekali perjalanan pergi-pulang semua busnya harus dibersihkan secara ekstra. Beberapa jalur yang dilalui bus-busnya baik Antar Kota Dalam Propinsi maupun Antar Kota Antar Propinsi nya cukup berdebu. “Saringan udara dibuka, debunya lengket. Saya juga meminta mekanik untuk membantu membersihkan radiator, banyak debu yang menempel di kisi-kisi,” katanya.

Kekhawatiran Bintoro cukup beralasan. Sifat debu vulkanik yang lengket saat terkena air, misalnya air hujan di perjalanan, berpotensi ikut menyimpan panas lebih pada radiator. Menurut dia, banyaknya debu bisa mengganggu sistem pendingin mesin. Dia mengaku harus mengingatkan kru dan jajaran mekaniknya untuk bekerja lebih dari operasional normal agar pelayanan pada pelanggan tak terganggu. (Naskah : mai/foto : dok. PO Rosalia Indah/mai)
 
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013