Senin, 21 Agustus 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
RAGAM CARA MENGAKALI NAIKNYA HARGA BBM
 
03 Desember 2014


(Nusa Dua – haltebus.com) Naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditetapkan pemerintah menimbulkan beragam reaksi dari pengusaha jasa transportasi, khususnya angkutan bus. Ada yang secara spontan menaikkan tarif, ada yang mogok, ada pula yang baru menghitung ulang biaya operasional yang dikeluarkan dan beberapa reaksi yang cukup membuat dunia transportasi di Indonesia cukup gaduh. Namun, tidak demikian halnya dengan pengusaha angkutan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. “Kami menerapkan cara bertahap, dan sudah kami perkirakan tiga bulan sebelum pengumuman,” kata Wakil Ketua Organda D.I. Yogyakarta, Hantoro kepada haltebus.com di sela-sela acara temu pemilik bus PT. Mercedes-Benz Indonesia di Nusa Dua, Bali, (27/11/14).


Menurut Hantoro, banyak pengusahatransportasi wisata di Yogyakarta resah saat polemik kenaikan harga BBM menjelang pengambilan sumpah Presiden Joko Widodo. Untuk meredam keresahan itu, pengurus Organda D.I.Y menyiapkan berbagai langkah. Mulai menghitung ulang tarif jika harga BBM naik, formulasi kompensasi hingga bagaimana menghadapi konsumen agar tetap menggunakan jasa mereka.


Tak lama setelah diumumkan, Organda D.I.Y bisa menyatukan pendapat pelaku usaha angkutan wisata dalam satu tarif. Mereka sama-sama menetapkan kenaikan dengan perhitungan yang ditetapkan organisasi. “Alhamdulillah pelanggan kami tidak banyak protes. Kami menetapkan tarif sewa wisata naik, tetapi untuk pelanggan yang sudah memesan Desember ini diberi potangan. Tarif baru berlaku Januari,” katanya sambil tersenyum.


Hantoro mengaku heran dengan sejawatnya yang berpolemik di seputar harga BBM dan tarif angkutan. Menurut dia, saat ada kenaikan harga BBM semua biaya operasional yang selama ini menjadi beban pengusaha bisa terkoreksi. Kuncinya, kata dia, setiap pengusaha harus mengetahui perhitungan detil berapa biaya operasional mereka masing-masing. “Coba bayangkan setiap tahun ada kenaikan harga karoseri, suku cadang, AC, kursi penumpang dan lain-lain. Apa pelanggan mau tahu kalau harganya naik tiap tahun? Pastinya ndak mau karena mereka tidak merasakan kenaikan itu,” ujar pemilik bus GeGe Transport.

Lain Hantoro, lain pula cara beberapa pengusaha bus mengakali naiknya harga BBM. Empat pengusaha bus menandatangani kesepakatan penetapan tarif untuk bus Jurusan Jakarta – Kudus – Jepara. Masing-masing pemilik armada dari keempat PO itu tandatangan langsung. Di jalur ini persaingan cukup sengit. Begitu ketatnya, hingga ada saja perusahaan yang menjual tiket kurang dari tarif bawah.


Cara-cara bersaing seperti itu tentu saja tidak sehat. Hantoro mengusulkan, seharusnya ada mekanisme kompensasi dari pengurangan subsidi BBM agar sektor transportasi tetap diminati. Salah satu usulannya adalah keringanan untuk pajak Bea Balik Nama dalam investasi awal atau pajak tahunan. Cara ini bisa ditempuh untuk memastikan kompensasi subsidi bisa tepat sasaran. Dia kemudian mengemukakan simulasinya. Jika setahun ada pemotongan pajak Rp. 10 juta dari sekitar Rp. 50 – 60 juta pajak yang harus dibayar untuk satu unit bus, sudah sangat membantu. Artinya Rp. 833 ribu per bulan atau Rp. 27 ribu setara tiga liter solar/hari.


Pemikiran Hantoro untuk kompensasi diamini Hasanuddin Adnan dari PO. Siliwangi Antar Nusa. Menurut dia harusnya ada perhitungan yang tepat untuk pengusaha sebagai bentuk kompensasi karena pengalihan subsidi BBM. Pengusaha bus termasuk yang terkena dampak pertama karena porsi konsumsi BBM menghabiskan 30 persen biaya operasional harian. Sementara, di sisi lain dampak ikutan naiknya harga BBM adalah suku cadang yang melambung. “Kita haru pintar-pintar menghitung biaya operasional sehari-hari dan perawatan bus,” katanya.


Hasanuddin punya cara yang aman menekan biaya operasional akibat konsumsi BBM. Dia harus mengajarkan dengan disiplin pengemudi-pengemudinya. Dia hafal karakter cara mengemudi setiap pengemudi busnya. Ada batasan konsumsi BBM yang menjadi acuan kedisiplinan pengemudi. Semakin boros, bisa disimpulkan si pengemudi tak paham karakter mesin. “Setiap mesin memiliki momen puntir untuk bisa menghasilkan tenaga yang ideal dan optimal. Pengemudi saya harus paham karakter mesin, dia harus memperhatikan RPM pada dashboard-nya,” ujar dia.


Menurut Hasanuddin, jika pengemudi sudah memahami karakter seperti ini, maka ada sifat-sifat ikutan lain yang bisa menjadi positif dalam mengoperasikan bus. Dia mengungkapkan, mengatur momen puntir mesin bisa melatih kesabaran pengemudi. Tentu saja Hasanuddin berharap, pengemudi yang sabar bisa juga dilatih rasa memiliki terhadap armada yang dioperasikannya.




Hematnya, kondisi mesin terjaga, kondisi kabin penumpang juga bisa bersih. Walaupun dia mengaku masih harus mengawasi kebiasaan pengemudi, latihan yang diterapkan bisa meringankan beban perawatan. Hasanuddin juga mengungkapkan, latihan lain yang tak kalah pentingnya adalah si pengemudi harus juga memperhatikan laju kendaraan dan jalan yang dilalui. Dia menjelaskan, hal ini penting untuk menjaga keawetan ban. Maklum, ban termurah sekarang sudah hampir menyentuh Rp. 3 juta, itu pun dengan jarak tempuh relatif pendek. “Bagaimana umur ban itu bisa dipakai untuk tiga PP Pekanbaru – Solo (setara 72 ribu km),” kata dia.


Tanpa ada perhatian dari pemerintah, lanjut Hasanuddin, bisnis transportasi akan kehilangan peminatnya. Bayangkan, saat harga BBM naik mau tak mau pengusaha bus menaikkan tarifnya. Suku cadang naik, masih pula ditambah beban pembelian suku cadang akibat adanya aturan tentang Standar Nasional Indonesia. Setiap suku cadang wajib mengantongi sertifikat SNI yang biayanya tak sedikit dan dibebankan pada pembeli suku cadang.


Sesungguhnya menaikkan tarif seperti buah simalakama bagi operator bus yang jeli. Coba bandingkan harga tiket Jakarta – Surabaya, harga tiket pesawat terendah Rp. 425 – 500 ribu, sementara tiket bus eksekutif Rp. 300 ribu. Belum lagi harus berjibaku dengan tiket kereta ekonomi yang ber-AC antara Rp. 50 – 300 ribu dengan waktu tempuh hanya 10 – 11 jam saja, sedangkan waktu tempuh bus 14 jam sudah tergolong rekor tercepat. Pengusaha bus harus jeli memperhitungkan tarif bawah pesawat atau kereta yang waktu tempuhnya lebih cepat namun dari selisih harga tak berbeda jauh.

Pemerintah bisa saja berpihak pada pengusaha transportasi jika mau. Berkaca pada pengembangan jalan tol, setiap dua tahun sekali pemerintah memberikan kenaikan tarif walau disertai beragam syarat. Bagaimana dengan pengusaha bus yang mengantarkan penumpang sehari-hari?

Hasanuddin yang juga mantan salah satu Ketua Organda periode 2004 – 2009 ini berharap agar iklim usaha bus bisa lebih baik di masa mendatang. Keberadaan usaha transportasi di Indonesia, menurut dia, harus dipertahankan karena menyangkut mobilitas rakyat Indonesia. Jangan sampai usaha transportasi, khususnya bus, tergulung biaya operasional yang tinggi. (naskah : mai/foto : mai/dok. PO. BejeU)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013