Kamis, 24 Oktober 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MENGUJI KETAHANAN BUS EROPA DI JALAN SUMATERA
 
29 Desember 2014


(Bengkulu – haltebus.com) Merek Scania telah teruji ketangguhannya di Eropa. Melalui PT. United Tractors pabrikan asal Swedia ini mulai serius menggarap pasar Indonesia. Di tahun 2012, pusat perakitan chassis dibangun di Cakung dan mengawali pemasaran Scania K360IB-4x2 yang dinilai cocok dengan medan di Indonesia. Meski telah masuk ke Indonesia sejak tahun 2002 Namun, bus belum teruji ketangguhannya. Tantangan untuk Scania datang dari PO. Siliwangi Antar Nusa (SAN). “Di masa depan teknologi bus semakin berkembang. Saya harus bisa mengimbangi, repotnya medan kami terlalu berat untuk dilalui bus,” kata pimpinan PO. SAN, Hasananuddin Adnan pada haltebus.com, Minggu (21/12/14), di kantornya, di Bengkulu.


Apa yang diungkapkan Hasanuddin tak main-main. Medan yang dilalui trayek bus-busnya di pesisir Barat Lampung kurang menguntungkan. haltebus.com mencoba menyusuri jalur yang dilayani PO. SAN Jakarta – Bengkulu. Berangkat Jumat (19/12/14) pagi jam 10.00 dari Pulomas, Jakarta, bus pertama PO. SAN dengan Opticruse Transmission yang berkarakter semi-otomatis menempuh 28 jam ke Bengkulu. Jarak tempuh kedua kota yang tercatat 815 Km, tidak termasuk penyeberangan Selat Sunda yang ditempuh dalam waktu tiga jam.

Lepas pelabuhan Bakauheni, Kepala Mekanik PO. SAN, Abdul Rahman yang mendampingi perjalanan langsung mengetes kemampuan Optricruise di tanjakan pertama yang terkenal panjang. Dia meminta Dasrial, pengemudi pertama, menggunakan mode otomatis. Di saat menanjak, terlihat pergerakan angka posisi persneling di layar pada panel dashboard. Dari posisi lima saat pertama masuk tanjakan, bergeser hingga ke posisi tiga dan empat. “Coba aktifkan kontrol manualnya,” kata Abdul seraya diikuti oleh Dasrial.

Dasrial sempat sedikit kerepotan di tanjakan terakhir karena sedikit terlambat mengantisipasi tenaga yang menurun sementara dia melihat kesempatan menyalib sebuah truk. Maklum, bus diisi penuh 38 penumpang dengan empat kru. Pada tes tanjakan pertama Abdul mulai membaca karakter Opticruise. “Yang penting menjaga putaran mesin, gak apa-apa terlambat, yang penting kita tahu sejauh mana kemampuannya,” ujarnya.

Tantangan berikutnya menghadang di seputar Kota Agung, ibukota Kabupaten Tenggamus, Lampung. Di jalan yang mengarah ke Barat itu, cuaca sedikit gerimis. Jalan berkelok dan berlubang mulai terlihat. Kali ini, Sutono yang ada di balik kemudi. Dia tak kesulitan melahap medan berliku menjelang masuk Kota Agung.

Lepas kota itu, barulah tanjakan dengan 30-70 derajat dihadapinya. Di sebuah kelokan dengan kemiringan sekitar 60 derajat, dua truk terparkir. Satu truk diparkir di tepi jalan di sisi kanan tepat di jalan yang berbelok ke kiri. Satu truk lagi terlihat sedang diperbaiki 50 meter di depan truk pertama. Jalan terasa sempit karena di sisi kiri ada jurang. Berhasil melewati truk, Tono harus konsentrasi menghindari lubang. Kondisi jalan semakin terlihat tak bersahabat karena air menggenangi lubang-lubang itu. Pria berperawakan kecil ini sesekali menghentikan busnya, sambil setengah berdiri melongok ke depan mencari celah di antara jalan berlubang yang bisa dilalui.



Lubang-lubang itu demikian banyaknya tersebar di antara Kota Agung – Krui hingga perbatasan Bengkulu. Di sinilah letak kesulitan medan yang dilalui bus-bus PO. SAN di rute Bengkulu – Jakarta. Selepas Kota Agung jam 21.30, bus baru bisa masuk wilayah Provinsi Bengkulu pukul 06.00, waktu tempuh yang cukup lama untuk jarak 300-an Km. Perjalanan jelas menjadi lebih lambat dengan jalan berlubang. Tak tanggung-tanggung jalan berlubang pada posisi menanjak atau menurun yang tak jarang juga berkelok-kelok. Tantangan lain, jalan yang cukup sempit untuk ukuran bus. Setiap berpapasan dengan truk sedang, salah satu harus mengalah berhenti dulu, apalagi jika berpapasan dengan truk besar. Di beberapa titik ada pula jalan mulus, sangat bertolak belakang dengan jalan yang rusak.

Tim PT. United Tractors yang ikut mendampingi perjalanan dibuat heran dengan kondisi jalan yang ada. Beberapa kali, Instruktur Teknik PT. United Tractors, Suparji mengarahkan pengemudi untuk menggunakan mode Manual, Automatic Power, Automatic Economic dan Automatic saja. “Dengan kondisi jalan seperti ini pengemudi kami arahkan untuk pemilihan mode transmisi agar bisa tercapai titik effesiensi bahan bakarnya,” kata Suparji yang hari itu ditemani Mekanik Herry Kuswanto dan Bussines Consultant M. Taufik Irmansyah.


 
Tes transmisi Opticruise itu berakhir pada tanjakan yang dikenal dengan tanjakan Mamah Neneng. Tanjakan dengan gradasi 30 derajat yang panjangnya lebih dari 500 meter dengan dua kelokan. Sebelumnya ada tanjakan curam dan kelokan tajam yang mengawali. Posisi persneling pun berpindah dari angka 3 menjadi angka 1. Di kelokan pertama, Dasrial mencoba fitur Hill-hold, sambil meraba-raba perbedaan yang terasa antara transmisi Opticruise dengan Comfort Shift pada bus yang pernah menjadi tanggungjawabnya sebelum ini.

Meski melalui medan yang berat, ada sedikit keuntungan sebab baik Dasrial maupun Sutono sudah familiar mengemudikan Scania K360IB-4x2. Mereka terlihat cukup menguasai medan kondisi jalan maupun kemudi. Dasrial juga beberapa kali mencoba pengetahuan baru pada Opticruise ini. Saat masih di jalan tol menuju Merak, dia memainkan jari kirinya dan melepas pijakan kaki. Kecepatan bus 100 Km/jam dan putaran mesin ada di posisi 1500 RPM.

Namun, pada satu titik, Dasrial harus mengaku kalah melawan beratnya medan. Di sebuah jembatan menjelang kota Krui bagian bawah mesin bergesekan dengan aspal. Untungnya ada besi pelindung yang menyelamatkan mesin dari kerusakan. Dalam dan lebarnya lubang membuatnya pasrah. “Mau bagaimana lagi? Kita sudah pelan-pelan tetapi memang kondisi jalannya seperti ini. Beginilah kondisi jalan kami sehari-hari. Harus banyak-banyak sabar di jalan,” ujarnya.


Direktur Marketing PO. SAN Kurnia Lesandri Adnan menyatakan, kendala terbesar yang mereka hadapi untuk rute Bengkulu – Jakarta adalah jalan yang kerap rusak, terutama di musim hujan. Dia harus bekerja ekstra untuk menarik penumpang di Pesisir Barat yang dilalui bus-busnya. “Yah memang jalannya seperti itu, kami harus berhitung dengan biaya operasional dan resiko yang dihadapi di jalan. Semoga dengan bus baru, kami bisa melayani pelanggan kami lebih baik lagi,” katanya.



Dilihat sekilas, terobosan berani PO. SAN terbilang nekat. Namun, jika dicermati ada sisi lain yang masih menimbulkan harapan jajaran manajemen operator yang berbasis di Bengkulu itu. Indikatornya mudah saja. Rekaman perjalanan yang ada dalam fitur Scania K360IB-4x2 menunjukkan bagaimana manajemen PO. SAN melatih kru-kru busnya. Dari sisi pengemudi, dalam perjalanan pertamanya duet pengemudi Dasrial dan Tono mencatat skor 100 persen bisa menjaga putaran mesin bus di angka 1500. Handling pengereman mereka tanpa injakan pedal rem dinilai 90 persen dan pengaturan jarak aman pengereman mendapat nilai 51 persen. Konsumsi bahan bakar? 2,38 Km/liter dari target 3 Km/liter. Satu-satunya nilai yang rendah adalah pengendalian di jalan tanjakan dan turunan, terkait perpindahan persneling dan injakan throttle.

Hasannuddin Adnan yakin, suatu saat nanti jalan tol akan menghubungkan kota-kota di Sumatera dan Jawa, termasuk trayek yang dilayani PO. SAN. Pada saat itu terjadi, lanjut dia, pihaknya sudah siap dengan beragam kemajuan teknologi bus yang masuk ke Indonesia. Hanya satu yang menjadi senjata andalannya, mendidik pengemudinya menghasilkan keuntungannya bagi perusahaan walaupun hanya dengan mengatur injakan pedal gas dan rem. “Tanpa inovasi, kami sudah terlibas dengan kondisi medan seperti yang anda lihat sendiri,” katanya sambil tersenyum penuh arti.(naskah : mai/foto : mai)   
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013