Minggu, 21 Juli 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
RASA SAYANG YANG MEMBUAT PENUMPANG NYAMAN
 
10 Februari 2015


(Jakarta – haltebus.com) Sudah jadi rahasia umum, jika jenis pelayanan di setiap jurusan yang dilayani operator jasa transportasi bus, bisa mencerminkan sikap dan perilaku masyarakatnya. Hal ini bisa kita lihat dari tampilan eksterior maupun interior. Salah satu operator bus yang memperhatikan perilaku masyarakat di daerah yang dilayaninya adalah PO. Rasa Sayang. "Kami bisa bertahan selama ini karena masyarakat Bima memiliki kebiasaan yang spesifik. Mereka tidak senang busnya ngebut, maunya nyaman dan yang penting selamat," ujar Penanggung jawab Operasional PO. Rasa Sayang di Jakarta, Rudy Kumbara Putra kepada haltebus.com, (31/1/15).

Di beberapa jurusan, keinginan naik bus yang nyaman yang penting sampai di tujuan dengan selamat bisa jadi wajar. Penumpang seperti ini bisa mudah ditemui di bus-bus jarak menengah seperti Jakarta – Solo dan Jakarta – Yogya. Untuk ukuran bus jurusan Jakarta – Bima yang menyeberangi tiga selat tipikal layanan seperti itu terbilang cukup mengherankan. Biasanya penumpang ingin cepat sampai di kota tujuan. Berlama-lama di bus juga bukan sesuatu hal yang menyenangkan.

Berangkat dari kondisi seperti itu, PO. Rasa Sayang memberikan nilai lebih untuk pelanggannya. Jarak antar kursi dibuat lebih lebar, di perjalanan disediakan ruang merokok, juga fasilitas karaoke. Kapasitas angkut busnya dibuat untuk 32 penumpang dan tiga kursi tambahan di ruang merokok. "Kami sengaja membuat penumpang bisa duduk dengan nyaman karena lamanya perjalanan," kata Rudy.



Duduk di atas kursi buatan PT. Rimba Kencana, Malang, terasa nyaman. Jarak antar kursi yang longgar memungkinkan penumpang memanjangkan kaki alias selonjor. Tak perlu khawatir terdesak sandaran kursi di depannya karena kursi cukup direbahkan sedikit ke belakang, posisi duduk sudah setengah tidur. Kontur sandaran kursi cukup ergonomis.

Tidak hanya sampai disitu, ada beberapa peraturan ketat yang menjaga kru bus bisa lebih memperhatikan tugasnya. Kru bus dilarang menaikkan atau menurunkan penumpang di luar agen, tidak boleh minum minuman keras dan berjudi, serta harus memperhatikan kenyamanan penumpang selama perjalanan.

"Salah sedikit saja mereka (penumpang) bisa mengadu ke perwakilan, setiap pengaduan ditindaklanjuti. Misalnya soal ngebut, orang Bima tak suka pengemudi yang ngebut, begitu ada laporan pasti diproses pak Arief Wijaya," ujar Rudy dengan mimik serius.

Peraturan yang ketat itu tak hanya berlaku untuk pelayanan terhadap penumpang. Aturan untuk barang-barang paket kiriman pelanggan yang dibawa oleh kru bus tak kalah ketatnya. Rudy menjelaskan, dibutuhkan empat slip tanda terima sebagai alat pengontrol barang. Ada slip untuk pengirim, satu slip untuk kru, satu slip untuk kontrol di perwakilan Surabaya dan satu lagi untuk alamat tujuan.

Namun kerasnya aturan itu, juga diiringi perhatian pada pengemudi. Menurut Rudy, Arief Wijaya yang tak lain pemilik PO. Rasa Sayang cukup perhatian pada pengemudi. Ada keluasaan pada pengemudi agar bisa merasa nyaman mengemudikan busnya. Seperti yang disaksikan haltebus.com. Dua orang pengemudi yang mendapat kepercayaan mengoperasikan dua unit bus baru diperkenankan mendandani busnya. Ada kamera yang dipasang di bus. Posisinya dimana, pengemudi yang menentukan. "Supaya mereka nyaman mengemudi dan kameranya berguna untuk mereka," kata Rudy lagi.

Bagaimana soal bahan bakar? Safrin, salah seorang pengemudi menyatakan, mereka diberi kepercayaan penuh dalam hal pengisian bahan bakar. Setidaknya untuk Jakarta – Bima pengisian bahan bakar dilakukan empat kali. “Pertama isi di Jakarta sampai Rp. 1,2 juta, nanti di Pekalongan, di Surabaya, terakhir isi di Mataram rata-rata mengisi sekitar 700-800 ribu,” katanya sambil menjelaskan nominal itu berlaku saat solar masih Rp. 5.500.



Ada satu hal yang terlihat dari dampak ketatnya aturan dan keinginan penumpang yang tak suka busnya kebut-kebutan itu. Bus-bus PO. Rasa Sayang tergolong awet. Teknisi manapun tak akan membantah, bus yang dijalankan tanpa memaksa kinerja mesin berlebihan pasti lebih awet. Nyatanya, baru lima tahun terakhir PO. Rasa Sayang mulai meremajakan bus-busnya.

Rata-rata umur chassis yang mereka operasikan sebelumnya antara 10 – 15 tahun. Setidaknya ini terlihat dari bus yang tersisa di garasi perwakilan Jakarta. Bus berbaju Evo-C dari Karoseri Rahayu Santosa masih beroperasi hingga kini. Ditilik dari plat nomornya, setidaknya bus itu keluaran tahun 2001. “Bus kami biasanya dua kali ganti karoseri baru dijual. Sekali ganti sekitar lima tahunan lebih,” ujar Rudy.

Mulai melayani Jakarta – Bima sejak 1992, atau 23 tahun, membuktikan PO. Rasa Sayang cukup mendapat tempat di hati pelanggannya. Selama menyusuri jalan di ketiga pulau yang menghubungkan kedua kota itu, tak sedikit kompetitor. Namun, hanya mereka yang bisa bertahan. Kiat lain menggaet penumpang adalah dengan mengandalkan staf-staf pemasaran asal Bima. Dia mengungkapkan, para pelanggannya sangat senang berbahasa daerah. Mereka nyaman dengan operator bus yang mengerti apa yang mereka sampaikan dalam bahasa daerah. Kepercayaan penumpang, kata dia, dimulai dengan bahasa daerah Bima.

Tanpa keuletan dan strategi yang tepat, operator bus yang memiliki warna khas hijau dan merah tua ini tak akan mudah bertahan. “Ongkos kami Rp. 750 ribu, kemarin solar sempat naik, tarif naik menjadi Rp. 850 ribu, kalau kami tak pandai melayani pelanggan, susah juga kami bertahan,” ujar Rudy. (naskah : mai/ foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013