Senin, 21 Agustus 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
BANGGA MENJADI PENGEMUDI BUS
 
24 April 2015


(Klaten – haltebus.com) Lima puluhan orang terlihat sumringah du salah satu bangunan barak Komanda Pendidikan dan Latihan Tempur Kodam IV Diponegoro, di Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Hari itu, Kamis (16/04/15) mereka menyelesaikan Pelatihan Character Building pengemudi bus selama tiga hari yang dilaksanakan Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI). “Senang pak bisa ikutan pelatihan seperti ini. Senang kami merasa diperhatikan pengusaha bus,” kata Nasril Batubara dari PO. Gunung Harta.

Nasril dengan bangganya menunjukkan sertifikat yang diperoleh. Dia dan teman-temannya juga mendapatkan pin tanda bahwa mereka telah mendapatkan pelatihan karakter sebagai pengemudi. Mereka yang telah mengikuti pelatihan, tak lagi mau disebut sopir melainkan pengemudi.

Mengapa? Karena IPOMI menerapkan standar acuan untuk para pengemudinya yang membedakan dari pengemudi bus pada umumnya, yakni tanggungjawab. Pelatihan yang dimulai Senin (13/04/15) itu, difokuskan agar pengemudi sadar akan tanggungjawabnya dalam menjalankan tugasnya. Di tangan mereka, keselamatan nyawa sedikitnya 30 penumpang dipertaruhkan di dalam bus.

Dari Sumatera perusahaan yang mengirimkan pengemudinya antara lain : PO. NPM, PO. Medan Jaya, dan PO. Siliwangi Antar Nusa. Dari Jawa Barat dan Jabodetabek ada PO. Semanta, PO. Berdikari, PO. Agramas, PO. Sinar Jaya, PO. Scorpion Holiday, PO. Marita, dan PO. Gapuraning Rahayu. Sementara dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ada PO. Tri Star, PO. Sumber Alam, PO. Maju Lancar, PO. Rosalia Indah, PO. Sedya Mulya dan PO. Trikaya Transport. Peserta dari Jawa Timur berasal dari PO. Menggala, PO. Kalisari, PO. Gunung Harta divisi Malang dan PO. Medali Mas.



Dalam tiga hari pelatihan, pengemudi diperkenalkan standar yang ingin dicapai IPOMI. Organisasi yang baru berdiri empat tahun lalu ini bercita-cita mencetak pengemudi yang tak hanya melayani penumpang dengan sepenuh hati, tetapi juga bertanggungjawab. Menurut Ketua Umum IPOMI, Kurnia Lesani Adnan, materi kedisiplinan dan bela negara yang diberikan Dodiklatpur, diharapkan bisa menjadi bekal pengemudi untuk bisa mendisiplinkan diri dan bertanggungjawab. Di sesi terakhir, panitia pelatihan menyentuh kesadaran masing-masing dari sisi psikologi yang dibawakan oleh Febri Hapsari Dipokusumo.

Salah seorang peserta, Atim Supriyatna mengaku senang bisa mengikuti pelatihan semacam ini. Dia mengungkapkan, selama karirnya lebih dari 20 tahun menjadi pengemudi, tak pernah mendapat pelatihan secara khusus. Segala bentuk pelatihan, walau harus meniti tambang dan menuruni bukit terjal yang cukup menguji nyali, dijalaninya dengan penuh semangat. “Senang sekali, kalau ada kegiatan lagi saya ingin ikut terlibat,” kata pengemudi PO. Berdikari itu sambil tersenyum lebar.

Rasa kebersamaan di antara peserta cukup terasa. Mereka tak segan-segan saling bahu-membahu saat para instruktur memberikan instruksi berkelompok, mulai membersihkan barak hingga merapikan barisan. Kekompakan dan kebersamaan dalam korps pengemudi bus anggota IPOMI sangat kental.

Kebersamaan itu juga diakui Rinto Nugroho. Pengemudi PO. Sinar Jaya yang tergolong senior mengaku senang bisa mengikuti pelatihan. Hanya saja, dia sedikit mengeluhkan materi pelatihan. “Sesi psikologi menurut saya yang paling bagus, sangat menyentuh kami. Sayangnya seusia saya, agak kerepotan jika harus mengikuti latihan fisik,” ujar pria berumur 57 tahun ini.

Rinto mengaku kerap mengikuti pelatihan pengemudi. Mulai pemilihan pengemudi teladan, pelatihan disiplin berlalu-lintas hingga pelatihan perawatan dan perbaikan ringan saat bertugas menjalankan bus. Dia menyarankan agar panitia bisa menambahkan materi-materi teknis terkait tugas pengemudi.

Kurnia Lesani Adnan mengungkapkan, sebelum menggelar pelatihan pengemudi anggota IPOMI, mereka mencari bentuk yang pas. Akhirnya, mereka memutuskan untuk fokus pada Pelatihan Character Building. Sebab, tidak banyak yang menyentuh karakter pengemudi. “Saya berharap bekal yang didapat bisa disebarkan pada pengemudi yang lain. Bagaimana seharusnya menjadi pengemudi yang baik. Ingat setelah selesai pelatihan ini anda semua adalah pengemudi bukan sopir,” kata dia dalam sambutan penutupan pelatihan.



Selama ini memang tidak ada lembaga pelatihan khusus pengemudi bus yang bisa melatih keterampilan mengemudikan bus. Pemerintah belum menyediakan sekolah khusus pengemudi bus yang mengajarkan pengetahuan teknik mengemudi, mengenal karakter bus, disiplin berlalu-lintas hingga membentuk karakter pengemudi yang sadar akan tugasnya.

Padahal, menurut Deputy Director Central Trainning Mercedes-Benz Indonesia, Eko Setyodiwarno, tanggungjawab pengemudi bus sangat besar. Sering kali masyarakat mengecilkan arti pengemudi hanya sebagai orang yang menjalankan bus. Di balik kemudi, merekalah yang menentukan arah dan nasib penumpang bus. “Pengemudi itu dipasrahi bus yang nilainya semiliar lebih, nyawa penumpang juga ditangan mereka. Dalam pandangan saya, mereka ini manajer di dalam bus, bukan orang sembarangan,” katanya.

Eko mengungkapkan, dalam setiap pelatihan pengemudi yang dilaksanakan Mercedes-Benz Indonesia, dia selalu menekankan fungsi manajer pada seorang pengemudi. Seorang pengemudi harus mengerti tugasnya, khususnya dalam hal menghargai tugas dan tanggungjawab yang dibebankan pada mereka selama perjalanan.

Dihubungi terpisah, Deputy General Manager of Training & Dealer Development PT. Hino Motors Sales Indonesia, Roffi Tresmawan menekankan pentingnya pengetahuan teknis pengemudi. Menurut dia, saat seorang pengemudi mengetahui batasan-batasan kemampuan bus baik dari sisi mesin, maupun penguasaan di jalan.

Roffi mengungkapkan, pengetahuan teknis operasional bus bisa menjaga keawetan mesin sekaligus keselamatan di perjalanan bisa terjaga. Dia mencontohkan, saat di jalan menurun perpindahan gigi persneling dari tinggi ke rendah selain menginjak pedal rem. “Ada batas RPM, yang otomatis akan membatasi kecepatan. Ada juga hal lain pada bus yang harus diperhatikan dengan ketat agar bus selalu dalam kondisi prima. Sehingga tak hanya membuat nyaman penumpang, tetapi keselamatan juga terjaga,” kata dia.

Teknologi bus yang semakin berkembang, mau tak mau memaksa pengusaha untuk selalu memperhatikan kemampuan pengemudinya. Di tangan pengemudilah, biaya produksi, pelayanan dan keselamatan penumpang bisa terjaga. Jika ada pepatah tak kenal maka tak sayang, dalam dunia transportasi bus ada istilah : Pengemudi tak kenal busnya maka bus makin tak awet, apalagi pelanggan, akan semakin menjauh. (naskah : mai/foto mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013