Kamis, 24 Oktober 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
ADA WAJAH LAMA DALAM BUNGKUS BARU
 
07 Juni 2015


(Jakarta – haltebus.com) Nama Siliwangi Antar Nusa di tahun 1980-an belumlah beredar di jagat transportasi bus Indonesia. Nama itu kini melejit seiring dengan kemajuan teknologi bus yang ada di Indonesia dan penataan strategi jangka panjang yang mereka terapkan. Kini, untuk mengenang saat pertama kali PT. SAN Putra Sejahtera yang mengoperasikan PO. Siliwangi Antar Nusa, operator bus antar pulau yang berbasis di Bengkulu itu memperbaharui tampilan satu unit busnya dengan livery yang pertama kali mereka gunakan. “Bus ini bus besar pertama kami, kami sebelumnya mengoperasikan empat bus medium dan tiga unit mikrobus,” kata pendiri PT. SAN Putra Sejahtera, Hasanuddin Adnan kepada haltebus.com, Sabtu (6/6/15).

Bus yang ditopang chassis Mercedes-Benz OF-1113 keluaran tahun 1979 ini terlihat berbeda dari bus-bus PO. SAN yang lain. Warna dasarnya abu-abu dipadu dengan warna biru metalik yang cenderung senada dengan warna abu-abu. Kedua warna itu dipermanis dengan warna ungu yang pada akhirnya menjadi warna khas bus PO. SAN di awal mereka membuka trayek pertama, Bekasi-Bengkulu. Warna biru di bagian bawah bus ikut mempertegas padu-padan tiga warna di atasnya.

Warna-warni yang menjadi kebanggaan PO itu di tahun 1990-an terasa gregetnya dalam balutan bodi berbasis Prestise Trisakti hasil rombakan karya Satrio Motor. Model dengan aksen bodi samping yang dipopulernya SETRA dengan produk TopClass 500, di Indonesia dipopulerkan sejak Indonesia International Motor Show tahun lalu oleh Karoseri Adiputro. Begitu pula lampu depan dan belakang, juga mengikuti tren yang karoseri asal Malang itu. Walaupun tak seratus persen mirip, tampilan si SAN Retro (SANtro) ini tak kalah elegan dengan bus-bus baru. Berkat dua pasang muffler dari dua jalur gas buang yang aktif di keempat lubangnya berbeda.



SANtro sendiri dibeli Hasan dari dibeli dari Sekolah Pariwisata Tarakanita. Bus yang jarang digunakan itu akhirnya disulap menjadi bus kebanggaan PO. SAN. Mengapa? Karena kecintaan Hasan pada kehandalan produk Mercedes-Benz dan kenangannya saat masih membantu operasional PO. Bengkulu Indah. Nyaris semua yang bekerja di PO. SAN pasti mengetahui bus yang menjadi kebanggaan sang pendiri itu.

Soal jeroan SANtro, jangan ditanya. Siapapun akan sulit mengidentifikasi apa yang sebenarnya membuat bus yang berbasis Mercedes-Benz OF-1113 ini bisa memiliki stamina yang prima di 30 tahun lebih usia kerangkanya. Hasan memberikan sedikit bocoran pada haltebus.com. Dapur pacunya mengandalkan mesin Yuchai 6A 242-2003 tipe YC6108ZQB. Mesin itu memang untuk bus dengan chassis bermesin depan.

Bermodalkan ilmu teknik hasil belajar otodidak, dia meramu beragam suku cadang dan mencocokkan satu sama lain. Sebelum dicat ulang mesin di-overhaul setelah enam tahun beroperasi. “Kalau orang yang tahu bus, pasti akan bingung. Cuma satu pertanyaan yang biasanya ditanyakan, kok bisa? Saya biasanya senyum-senyum saja,” kata pria yang mengaku hanya menyandang ijazah SLTA itu.

Kemampuan Hasan sejauh ini cukup teruji. Sedikitnya 30 chassis direkondisi, baik dari konstruksi, mesin, hingga fitur-fitur pendukungnya. Hobinya bahkan lebih dari sekedar utak-atik mesin. Beberapa kali dia mengawinkan mesin baru dengan chassis lama, hingga menghitung ulang tenaga yang dihasilkan saat bus beroperasi. Terakhir, tahun 2013 lalu, dia menguji coba suspensi udara dengan perhitungan yang dibuatnya bersama Karoseri Tentrem. Semua bus-busnya itu menjalani rute Bengkulu-Jakarta-Bandung-Solo-Blitar, Pekanbaru-Bandung-Tasikmalaya-Solo-Blitar, Bengkulu-Bukittinggi-Padang dan Bengkulu-Palembang-Pekanbaru yang memiliki karakteristik berbeda-beda dengan tingkat kesulitan tergolong tinggi.

Selama enam tahun terakhir bus yang kini berjuluk SANtro ini bertugas melayani Bengkulu-Bukittinggi untuk kelas Non-AC. Setelah perubahan tampilan, kini Fergio 01, diberi label Ekonomi Plus. Perubahan tampilan dengan model kaca geser terbaru, yang tengah menjadi tren, membuat tampilan bus tak kalah dari bus-bus ber-AC. Menurut Hasan, meski memiliki bus-bus ber-AC di trayek Bengkulu-Bukittingi-Padang-Pariaman, peminat untuk bus Non-AC masih cukup banyak. “Kami menempatkan dua kipas angin model blower di depan dan belakang di dalam kabin penumpang. Ada perangkat audio-video yang terpasang di bus untuk menghibur penumpang,” ujarnya.

Merekondisi bus-bus lama menjadi baru sudah jamak dilakukan operator bus. Tak hanya di Indonesia, di negara-negara Eropa hal ini juga dilakukan. Mereka menyebutnya dengan refurbish. Memang kebanyakan hal yang dilakukan adalah memperbaiki kondisi eksterior dan interior. Namun, tak sedikit pergantian mesin juga dilakukan. Di Eropa selain pabrikan chassis banyak juga pabrikan bus yang kerap disebut body builder dalam arti mereka membuat bus sendiri. Mesin diambil dari pabrikan mesin bus, begitu pula juga dengan sistem pendukung seperti transmisi, suspensi hingga elektrifikasi. Perawatan yang ketat di benua yang sering menjadi kiblat industri transportasi bus itu bisa kita lihat dari banyaknya bus-bus berumur yang masih terlihat bagus.




Mercedes-Benz Indonesia bersama DAMRI me-remanufacturing alias mempabrikasi ulang chassis BUMN itu yang telah berusia 30 tahun. Seluruh perangkat pendukung kinerja chassis diperbaharui ulang sesuai dengan standar pabrikan. Cara ini dinilai lebih murah dibandingkan membeli bus baru, untuk kebutuhan tertentu. Kebetulan DAMRI melakukan pabrikasi ulang bus-bus yang melayani angkutan dalam kota di beberapa kota di Indonesia.

Hal serupa inilah yang dilakukan PO. SAN. Lalu bagaimana perijinannya SANtro? “Semua kami urus sesuai prosedur. Penggantian mesin juga kami daftarkan dalam perubahan STNK. Kami tak mau sembarangan,” ujar Hasan.

Salah satu cita-cita Hasan yang belum tercapai adalah membuat bus dengan tangannya sendiri. Selama ini dia sudah memulainya. Rombak chassis sana-sini demi mempertahankan jalannya usaha transportasi bus. Di usianya yang telah melampaui 60 tahun, dia ingin memberikan penanda sejarah PO. Siliwangi Antar Nusa pada penerusnya melalui SANtro.

Perkembangan teknologi bus di Indonesia sangat dia cermati. Hal ini dibuktikan dengan beragamnya mesin yang mereka rawat. Tidak hanya chassis yang direkondisi ulang tetapi juga chassis terbaru yang dibelinya PO SAN beberapa tahun terakhir, sesuai dengan kebutuhan pengangkutan penumpang dan barang di jalur yang mereka layani. Apa yang dilakukan Hasan menunjukkan bagaimana perawatan bus, menjadi kunci bertahannya transportasi bus dari segala tantangan yang dinamis.

“Tanpa perawatan yang baik, tanpa pemahaman teknis bus, sulit kami bertahan. Kami membuktikan, regulasi pembatasan umur bus bukan solusi yang tepat. Kami menghitung rasio untuk mesin, traksi dan gardan yang dibutuhkan menaklukkan jalan-jalan di Sumatera, sehingga bus kami lebih awet. Satu lagi, untuk alasan keamanan dan keselamatan kami menggunakan suku cadang asli.” kata dia. (naskah: mai/foto : mai/dok. PO. SAN)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013