Selasa, 25 Juli 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DIMULAI, ERA ROBOTIK KENDARAAN NIAGA
 
09 Oktober 2015


(Jakarta – haltebus.com) Sejarah baru tercatat di China. Bus pertama yang bisa beroperasi secara otomatis berhasil diujicoba di jalan raya umum antara Zhengzhou – Kaifeng, 29 Agustus lalu. Informasi ini baru dirilis situs resmi salah satu pabrikan bus besar di negerti itu, Yutong, Sabtu (2/10/15). “Banyak orang pernah mendengar mobil otomatis (tanpa pengendara) tetapi tidak banyak yang tahu tentang bus yang beroperasi tanpa pengendara, lahir baru-baru ini,” demikian pernyataan yang dirilis Yutong.

Bus berjalan sejauh 32,6 Km di jalan raya yang menghubungkan Zhengzhou dan Kaifeng dengan total 26 lampu pengatur lalu-lintas. Selain berhasil diujicoba di jalan yang ramai, bus Yutong tanpa pengemudi ini juga lolos sejumlah tes yang rumit. Ada uji coba perubahan jalur, menyalib dan merespon lampu pengatur lalu-lintas secara mandiri. Ya, semua uji coba itu dilakukan tanpa campur tangan pengemudi.

Sepanjang uji coba, bus otomatis ini mencapai kecepatan terttinggi 68 Km/jam. Yutong menyebut, berdasarkan pengamatan para ahli, kendaraan yang beroperasi secara otomatis bisa meningkatkan standar keselamatan di jalan. Bahkan, keuntungan yang besar dari kendaraan mandiri itu bisa mengeliminir kecelakaan di jalan raya.

Semua itu bisa dicapai setelah riset yang digelar selama tiga tahun. Yutong bekerja sama dengan sejumlah ahli yang fokus mempelajari kendaraan tanpa pengemudi, Li Deyi dari Chinese Academy of Engineering. Bus otomatis ini menjadi bus otomatis pertama yang beroperasi di dunia.
 
Apa ya yang membuat bus bisa berjalan secara otomatis? Semua itu dimungkinkan berkat perangkat canggih intelligence driving system. Perangkat ini terdiri dari tiga bagian. Ada intelligence master controller (pengontrol utama pintar), intelligence sensing system (sistem sensor pintar) dan intelligence control system (sistem kontrol pintar). Ketiganya beroperasi layaknya otak, mata, telinga dan kaki yang membawa bus melangkah maju. “Mereka bekerja sangat terkoordinasi sehingga bisa membuat kendaraan beroperasi dengan halus tanpa pengemudi sama sekali,” demikian pernyataan Yutong.

Kerja intelligence sensing system, misalnya, bisa dimungkinkan karena adanya radar berbasis laser dan kamera di keempat sisi bus. Pandangan yang luas sangat diperlukan saat melalui jalan raya yang padat dengan kondisi yang kompleks. Nah, sistem kemudi sepenuhnya dikendalikan oleh master controller. Pengendali utama ini mengirim perintah akselerasi dan deselerasi hingga berhenti, saat bus melewati lampu pengatur lalu-lintas.

Dalam keadaan darurat, Yutong driverless (tanpa pengemudi) akan melalui model pengereman bervariasi sesuai kondisi di jalan untuk menghindari tabrakan. Radar laser mendeteksi kecepatan relatif dan jarak terhadap kendaraan bergerak lainnya. Informasi yang diterima radar diproses menjadi perintah untuk pengontrol utama bus menghindar dengan cara yang paling aman.

Kebiasaan mengemudi yang baik secara efektif, asumsi yang berlaku umum pada pengoperasian bus, dapat mengurangi konsumsi energi. Dengan Yutong driverless bus cara mengemudi terbaik bisa dicapai lebih cepat bila dibandingkan dengan pengemudi yang harus belajar dari pengalamannya. Perangkat pintar yang tertanam pada bus, menawarkan keunggulan lain yakni bus ramah lingkungan yang kompetitif.

Menurut Deputy General Engineer Yutong, Tang Wang, pihaknya masih harus menguji bus dengan tiga tahap pengembangan. Ada kontrol gerakan dasar, uji kondisi jalan raya rata-rata dan kondisi mengemudi di jalur yang cepat. Penelitian dan pengembangan teknologi mengemudi otomatis di China dilakukan bersama. Ada produsen kendaraan, universitas dan lembaga penelitian terkait baik di dalam maupun luar negeri. Ada lima produsen kendaraan di China yang terlibat dalam pengembangan mobil tak berawak. Yutong mengklaim sebagai pelopor teknologi bus otomatis/tak berawak China.

Saat ini, paradigma energi yang menipis membuat pabrikan kendaraan komersial di dunia berlomba-lomba menghadirkan teknologi terbaru. Aplikasi pengontrol kendaraan pintar juga dikembangkan Mercedes-Benz. Pabrikan asal Jerman itu mengaplikasikannya pada truk mereka, Actros.

Perkenalan truk otomatis di depan awak media itu dilakukan Sabtu (2/10/15) di jalur yang menghubungkan Denkendorf dan Stuttgart. Daimler mengklaim Actros yang mereka perkenalkan menjadi seri pertama truk yang dioperasikan secara otomatis di dunia yang diproduksi massal. Board Member of Daimler AG yang bertanggungjawab pada truk dan bus, Dr Wolfgang Bernhard bersama
Prime Minister Baden-Württemberg Winfried Kretschmann mencoba truk otomatis itu di jalan raya.

Ujicoba itu menandai dikeluarkannya ijin untuk truk yang dilengkapi sistem pengemudi otomatis oleh pemerintah setempat. Artinya, truk diperbolehkan mengoperasikan sistem otomatis di jalan raya. Truk ini lolos uji kendaraan berdasarkan undang-undang jalan raya di Jerman, §19/6 StVZO (German road traffic type approval law). Lembaga Rhineland German Technical Inspection Authority telah menguji truk ini dan membuat rekomendasi teknis. Konsil regional Baden-Württemberg memberikan persetujuan berdasarkan peraturan §70 StVZO yang berlaku. “Perjalanan perdana hari ini langkah maju yang penting untuk memulai pasar truk dengan sistem pengendara otomatis yang aman dan berkelanjutan untuk angkutan darat di masa depan,” kata Daimler Board Member, Wolfgang Bernhard.

Apa yang tertanam pada truk ini adalah generasi terbaru untuk sistem multi sensor pengendali kendaraan. Daimler menyebutnya Highway Pilot System. Perangkat itu memungkinkan Wolfgang Bernhard melepaskan tangannya dari roda kemudi karena sensor yang memantau situasi di depan yang mengambil alih kendali.

Head of Development Daimler Trucks, Sven Ennerst tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya atas perjalanan perdana di jalan raya ini. “Kami sangat senang karena Baden-Württemberg mengijinkan tes ini untuk kami. Tentu saja ini sekaligus meneguhkan semangat untuk mendemonstrasikan kami menjadi yang pertama. Kami juga berterima kasih pada German Technical Inspection Authority yang mengkonfirmasi keamanan sistem yang kami buat,” ujar Ennerst.

Bernhard membawa Actros dari sebuah bengkel masuk ke jalan raya menuju Karlsruhe. Begitu truk memasuki lajur kanan Highway Pilot mode diaktifkan. Seketika perangkat pengendali otomatis berfungsi dan mengambil-alih tugas pengemudi. Pengemudi bisa memilih tombol Highway Pilot untuk mengaktifkan sistem atau memilih mengendarai sendiri. Saat uji coba perdana ini, truk Actros tetap berada di jalurnya dan menjaga jarak maksimal dengan kendaraan di depannya. Sistem yang dibangun Mercedes-Benz juga mengantisipasi jika ada kendaraan kecil memotong jalur secara tiba-tiba. Nah, saat tiba di jalur keluar yang mengarah pada jalan yang lebih ramai, sistem memberi tahu pengemudi untuk mengambil-alih kemudi dan menyarankan untuk memencet tombol Highway Pilot untuk menonaktifkan sistem.

Daimler mengungkapkan, Highway Pilot System adalah sistem pengendali level satu yang mereka rancang. Sejak Juli 2014 lalu, pabrikan itu mengumumkan dimulainya rintisan truk full otomatis yang terkoneksi dan bisa dikendalikan lewat tablet. Truk otomatis level tiga rencananya bisa dilepas ke pasar pada 2025 dan kendaraan konsepnya telah diperkenalkan pada Juli tahun lalu dan bulan Mei 2015. Actros yang menjadi truk demonstrasi ini dilengkapi Mercedes PowerShift 3, Predictive Powertrain Control (PPC), Active Brake Assist 3, Proximity Control, Drowsiness Detection dan Fleetboard vehicle computer. Keseluruhan fitur terkoneksi pada sensor yang ada pada Highway Pilot, yang dilengkapi radar dan kamera stereo.

Meski bisa mengambil alih tugas pengemudi, Daimler menegaskan, bahwa Highway Pilot tidak bisa menggantikan pengemudi secara penuh. Sistem ini hanya mengoreksi perilaku pengemudi untuk menjaga keselamatan, seperti menjaga jarak, antisipasi gerak kendaraan lain dan membantu pengemudi selama mengoperasikan truk. Salah satu dari kebanyakan kecelakaan di jalan raya atau jalan tol yang panjang dan monoton adalah human error akibat kondisi fisik pengemudi.

Beberapa sistem yang tertanam di truk Mercedes-Benz juga bisa ditemukan pada bus-bus yang mereka produksi. Sayang tak ada penjelasan apakah perangkat Highway Pilot yang bisa mengambil alih kemudi otomatis akan diaplikasikan pada bus. Bukan tidak mungkin bus-bus produksi Mercedes-Benz dan Setra akan dilengkapi pengontrol otomatis.

Kompetisi untuk menghadirkan teknologi terbaik di masa mendatang di antara pabrikan kendaraan niaga kini mulai bergeser. Dominasi pabrikan Eropa yang memiliki beragam teknologi canggih mulai diimbangi pabrikan China. Tentu saja, kompetisi ini mengarah pada dua isu utama, menghasilkan operasional kendaraan yang ramah lingkungan di satu sisi dan keselamatan di jalan raya di sisi lain. Dan era robotik di dunia transportasi pun dimulai. (naskah : mai/foto : daimler.com/yutong.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013