Rabu, 14 April 2021 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KERJA SAMA UNIK MENGHADAPI TANTANGAN USAHA
 
07 Mei 2016


(Jakarta – haltebus.com) Iklim persaingan usaha di Indonesia kini semakin dinamis. Perubahan demi perubahan terjadi begitu cepat. Ceruk pasar yang sempit di antara kendaraan niaga, memaksa pabrikan pelaku bisnis transportasi bus mencari cara baru mendekatkan diri ke pasar. Salah satunya yang dilakukan PT. United Tractors Indonesia, membuka service point bersama dengan pelanggannya, PT. SAN Putera Sejahtera. “Memang ini model kerja sama baru, mungkin pertama kali di Indonesia, pertama bagi kami, juga Scania,” ujar Sales Director PT. United Tractors, Iman Nurwahyu kepada haltebus.com, Kamis (3/3/16) di Sukoharjo, Jawa Tengah.

PT. UT meresmikan service point atau bengkel servis di luar struktur organisasi perusahaan mereka. Bekerja sama dengan PT. SAN Putera Sejahtera, salah satu pelanggan Scania, mereka sepakat mengoperasikan bengkel mitra dengan standar operasional PT. UT. Semua mekanik karyawan PT. SAN Putera Sejahtera disertifikasi dan dilengkapi dengan peralatan serta suku cadang yang diperlukan untuk perawatan bus Scania.

Hubungan bisnis antara penjual dan pembeli yang lazim biasanya terjadi adalah sang penjual melayani pembeli. Hukum kelaziman itu tidak berlaku sepenuhnya untuk PT. United Tractors (UT), Agen Pemegang Merek Scania di Indonesia. Di tahun 2016 ini mereka menerapkan hubungan yang lebih seimbang, bahkan cenderung mengajak pelanggan berada di posisi mereka atau malah sebaliknya memposisikan diri sebagai pelanggan.










“Kami mencoba pola hubungan baru dengan pelanggan, kami membuka kesempatan untuk siapa saja yang tertarik bekerja sama dengan kami, menjadi mitra service point Scania,” kata Iman.


Iman mengakui, kerja sama ini sebagai terobosan baru yang belum pernah mereka lakukan. Hal yang belum pernah dilakukan pabrikan lain, bahkan juga Scania. Dia menyadari ada beberapa resiko yang bisa jadi kerugian mereka jika kerja sama itu gagal. “Ya kami mencoba belajar dari pelanggan, kami menaruh kepercayaan kepada siapa yang ada dibalik PT. SAN Putera Sejahtera. Kami berharap kerja sama ini bisa berkembang,” katanya.



Kerja sama keduanya cukup unik. Ada resiko pada masing-masing pihak. Di satu sisi PT. UT menitipkan seluruh suku cadang, sementara di sisi PT. SAN Putera Sejahtera ada resiko kerusakan dan kehilangan barang titipan itu. Hal ini diakui oleh Komisaris Utama PT. SAN Putera Sejahtera, Hasanuddin Adnan. “Ada polemik di internal manajemen terkait kerja sama dengan PT. UT, tetapi kami percaya kerja sama kedua belah pihak bisa saling menguntungkan,” kata dia.

Beban yang ditanggung PT. SAN Putera Sejahtera tak bisa dibilang kecil. Mereka harus mengikuti pendidikan untuk mekanik-mekaniknya. Ruang workshop harus dibuat standar sesuai yang berlaku di PT. UT, begitu pula dengan ruang suku cadang. Beberapa penyesuaian itu juga menimbulkan biaya yang tak sedikit. Namun, Hasanuddin dan jajaran manajemen tetap yakin pengelolaan workshop bisa mendatangkan hubungan saling menguntungkan. Setidaknya PO. SAN tidak dipusingkan dengan perawatan delapan unit bus Scania milik mereka. Begitu pula dengan rencana penambahan armada bus dengan chassis Scania akan lebih muda dalam perawatannya.

Di beberapa negara Eropa, seperti Jerman, perawatan bus yang dilakukan oleh pihak ketiga di luar bengkel perawatan yang di luar pabrikan jamak ditemui. Banyak bengkel/workshop yang memiliki peralatan dan layanan lengkap sudah di sana. Workshop semacam ini menyediakan pelayanan perawatan bus mulai perawatan rutin, perawatan kerusakan berat pada chassis/mesin hingga sekedar mencuci dan mengecek kondisi bus. Sementara untuk perawatan bodi, ada beberapa bengkel/workshop khusus perbaikan bodi.

Sistem semacam ini membuat manajemen operator bus bisa fokus untuk mengelola keuangan mereka. Operator bisa leluasa memikirkan strategi marketing, mengatur pengeluaran dan pemasukan serta merencanakan investasi jangka panjang.

Baik Iman maupun Hasanuddin optimis kerja sama mereka menghasilkan pola bisnis baru untuk pengelolaan transportasi bus. Di satu sisi operator bus bisa dimudahkan dalam perawatan, di sisi lain kepercayaan operator bus pada pabrikan bisa semakin tinggi dengan layanan semacam ini. “Minimal operator bus di seputar Solo bisa lebih akrab dengan Scania, dan kami senang membantu siapapun yang ingin mendorong kemajuan transportasi bus di Indonesia,” kata Hasanuddin mantap.(naskah : mai/ foto : mai/dok. haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013