Sabtu, 24 Agustus 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SOLUSI PABRIKAN ATASI MODIFIKASI BUS
 
28 Juni 2016


(Jakarta – haltebus.com) Jamaknya hubungan penjual dan pembeli, biasanya penjual akan mendekatkan produknya pada pilihan-pilihan yang dekat dengan pembeli, jika ingin terjual di pasar. Begitulah yang dilakukan dua pabrikan bus yang menjual chassis busnya di Indonesia. Mercedes-Benz Indonesia segera menggelar customer product forum untuk menggali informasi terkait produk yang selama ini mereka pasarkan di Indonesia. “Setelah musim mudik lebaran ini kami merencanakan untuk mengadakan customer product forum, nanti pelanggan kami diundang dan kita diskusikan hal-hal yang terkait produk,” ujar Vice President Marketing, Sales and Aftersales Commercial Vehicle Bus Operation Mercedes Benz Indonesia, Adri Budiman kepada haltebus.com, Jumat (17/6/16).

Adri menilai pihaknya membutuhkan banyak masukan tekait produk yang mereka pasarkan, sebagai acuan pengembangan produk di masa mendatang. Menurut dia, selama ini banyak masukan yang mereka terima setelah produk diluncurkan. Kebiasaan ini akan diubah, sebagai bentuk perubahan paradigma dan struktur baru Mercedes-Benz yang menginduk kepada raksasa otomotif Jerman Daimler AG.

Menurut Adri, beberapa pelanggan membuat inovasi terhadap chassis bus Mercedes-Benz yang mereka pasarkan sebagai bentuk adaptasi dengan medan operasional yang mereka lalui. Dia berharap, komunikasi yang intens baik formal maupun non-formal bisa meminimalisir masalah atas terobosan yang ditempuh pelanggan Mercedes-Benz. Dia mengungkapkan, sejak tahun 2009 pihaknya menerapkan standar pembuatan bodi bus untuk semua karoseri yang membangun bus di atas chassis Mercedes-Benz. Karoseri yang mengikuti standar itu diberi sertifikat yang diakui oleh Mercedes-Benz Global di seluruh dunia. “Kami ingin menjaga kualitas produk kami, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada chassis Mercedes-Benz kami sosialisasikan,” ujar dia lagi.



Setali tiga uang, PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) juga menggali masukan-masukan untuk pengembangan produk. Senior Executive After Sales and Sparepart PT. HMSI, Irwan Supriyono mengungkapkan, produk-produk Hino yang mereka pasarkan saat ini adalah aplikasi dari beragam keinginan pelanggan yang mereka terima. “Kami banyak menerima masukan terkait modifikasi produk, kami mengantisipasi hal-hal seperti ini. Modifikasi itu hal yang susah dihilangkan,” ujar Irwan.










Langkah-langkah yang dilakukan Mercedes-Benz dan Hino setidaknya menjawab apa yang menjadi kegundahan perusahaan bus terhadap inovasi yang mereka lakukan pada armadanya. Di awal bulan Juni, hampir dua pekan, masalah bus tidak laik jalan dan modifikasi mencuat diberitakan sejumlah media massa nasional. Dari uji petik yang dilakukan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kemenhub, ditemukan hanya 20 persen bus yang laik jalan menjelang musim mudik Idul Fitri tahun ini. “Mengecewakan, saya sedih dari semua sarana yang kita cek, paling tinggi 10 persen yang laik uji, yang lainnya payah, saya sangat kecewa," kata Kepala BPTJ Elly Sinaga seperti dikutip antaranews.com.



Sementara itu Dirjen Perhubungan Darat Pudji Hartanto terkaget-kaget dengan perubahan transmisi bus yang diubah dari manual ke otomatis. Menurut dia perubahan itu membahayakan. “Ada ditemui mengubah transmisi dari manual menjadi matik. Ini tidak boleh karena harus dilakukan laik uji lagi, kemudian diproses di Kepolisian,” katanya seperti dikutip beritasatu.com, Sabtu (11/6/16).

Aplikasi transmisi otomatis di Indonesia bukanlah hal yang baru. Ada beberapa perusahaan bus yang sudah mengaplikasikan transmisi otomatis untuk efesiensi operasional. Tahun 2012, produsen transmisi ZF Indonesia memperkenalkan produk transmisi otomatisnya ke sejumlah operator bus. Masih di tahun yang sama, pabrikan transmisi asal Amerika Serikat, Allison mengajak sejumlah operator untuk menunjukkan keunggulan transmisi otomatis di Yogyakarta. S
ejak beberapa tahun terakhir transmisi otomatis juga  diaplikasikan pada bus-bus Transjakarta.
 

Sorotan atas perubahan spesifikasi dari Kementerian Perhubungan itu membuat pabrikan juga ikut mencari solusi. “Dengan adanya kasus ini, pastinya kami nanti akan pikirkan, pasti deh. Jika nanti banyak sekali ditemukan bus yang dimodifikasi menjadi matik, bukan tidak mungkin kami bisa saja mengeluarkan bus matik,” ujar Irwan Supriyono.

Meski belum secara ekspilisit, Mercedes-Benz juga tengah mempertimbangkan untuk mengaplikasikan transmisi otomatis pada produk busnya. Khususnya bus di kelas 250-260 HP. “Seiring dengan perkembangan jalan tol di Indonesia, transmisi manual tidak banyak berfungsi. Transmisi bisa jadi sangat efektif. Kita lihat saja nanti ke depan seperti apa,” kata Adri Budiman. (naskah : mai/foto : mai/dok. haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013