Sabtu, 24 Agustus 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
TREN ATAP BUS TANPA KUBAH PENDINGIN UDARA AKAN BERULANG?
 
23 Agustus 2016


(Tangerang Selatan – haltebus.com)
PT. Adiputro Wirasejati mulai mengembangkan produk Jetbus 2+ Super High Deck yang diperkenalkan tahun lalu. Di ajang yang sama, Gaikindo Indonesia International Auto Show, karoseri pembuat bus yang berbasis di Malang ini memamerkan varian baru dengan perbedaan di beberapa sisi. Sekilas terlihat tak jauh berbeda, namun jika dicermati ada beberapa perubahan di eksterior, interior dan rancang bangun.

“Kami menawarkan hal baru dalam dunia pembuatan bus. Ada perubahan letak mesin AC, ini terobosan pertama yang kami buat, semoga bisa diterima pasar dengan baik,” kata David Jethrokusumo dari Karoseri Adiputro kepada haltebus.com, Kamis (18/8/16).

Perbedaan utama yang terlihat jelas pada bodi penampilan ada di atap. Di bagian ini tidak ada badan AC yang menonjol dan menambah ketinggian. Atap rata. Mirip di tahun 1990-an, ketika bus-bus menggunakan AC dengan mesin dan kompresor terpisah alias tidak di ruang mesin bus seperti sekarang.

 

Dimana letak mesin outdoor AC itu disimpan? “Ada di bagian belakang tepat di atas ruang mesin. Kami menyiapkan ruang untuk menempatkan AC,” begitu penjelasan David.

Penempatan mesin AC cukup mempengaruhi penampilan. Pertama, tinggi keseluruhan bus terpangkas ± 25 cm. Kedua, bus terlihat berbeda namun tetap elegan dengan atap yang polos. Ketiga, berat AC yang dipindah ke belakang membantu pendistribusian titik beban bus. Berat AC yang terpasang di atap mencapai 150-200 kg. Keempat, dari sisi kabin penumpang, untuk bus dengan
Gross Vehicle Weight (GVW) chassis 15-16 Ton, ruang istirahat pengemudi menjadi lebih sempit karena ada komponen AC di bagian belakang bus. Sementara untuk bus dengan GVW chassis 18-24 Ton ada ruang di samping pengemudi yang bisa digunakan untuk tidur.

Menurut David perubahan pada posisi AC itu bagian dari pengembangan produk Jetbus 2+ Super High Deck. Berdasarkan informasi yang diperoleh haltebus.com dari beberapa operator bus, produk Adiputro yang satu ini dihantui isu kestabilan, khususnya untuk bus dengan GVW 15-16 Ton. Perubahan letak komponen AC diharapkan bisa mendistribusikan beban secara merata. Bus berwarnya oranye yang di pamerkan itu dibangun di atas chassis Hino RK8J R-260.

Sementara secara terpisah Head of Product Planning PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Prasetyo Adi Yudho menyambut baik perubahan ini. Dia berharap pengembangan produk Karoseri Adiputro sesuai dengan yang diharapkan. Menurut dia, PT. HMSI tak merekomendasikan apapun terkait dengan perubahan teknis yang dilakukan Karoseri Adiputro. “Kami dimintai pendapat terkait hal teknis, sepanjang tak mengganggu kinerja chassis Hino kami berikan beberapa pendapat. Kami tak mengeluarkan rekomendasi tertulis,” kata Prasetyo saat berbincang dengan haltebus.com di arena GIIAS.

Prasetyo mengungkapkan, dari hasil uji yang dilakukan timnya, perubahan letak komponen AC itu tidak berpengaruh pada kinerja chassis. Yang menarik, lanjut dia, meski diletakkan di belakang, distribusi hawa dingin yang dikeluarkan melalu louver AC tersebar merata.

Manager R & D Karoseri Adiputro, Eko Widianto menjeleaskan, mereka hanya menarik posisi AC dari atap ke belakang. Secara teknis, perpindahan AC ini lebih menguntungkan karena letak komponen blower dan evaporator AC lebih dekat dengan mesin, kerja kompresor AC menjadi lebih ringan. “Sepanjang perjalanan dari Malang ke Jakarta yang dilakukan siang hari, tidak ada keluhan dari pengemudi soal AC yang tidak dingin,” kata dia.

Agus Tjahjono dari PO. Subur Jaya, pemilik bus oranye yang dipamerkan, mengaku masih memerlukan waktu untuk bisa menilai perubahan ini. Menurut dia, yang menjadi perhatiannya adalah penempatan mesin AC di bagian belakang bus. Dia masih penasaran untuk membuktikan bahwa kinerja pendinginan udara tidak ada penurunan dibandingkn dengan saat penempatan AC di atap Dan itu, kata dia, baru terjadi saat bus sudah beroperasi untuk melayani pelanggan. “Saya masih melihat dulu ini, apakah berhasil atau bagaimana? AC-nya dingin gak di bagian depan. Kalau berhasil tentu saya akan menambah armada dengan yang seperti ini,” ujar dia sambil melepas senyuman.



Selain atap apa lagi yang berubah? Sebenarnya ada perubahan di bagian lain bus. Namun, sekilas perubahan di sisi interior tidak terlalu menyolok. Hanya pelanggan saja yang bisa mengenali perubahan itu. “Ini bagasi atasnya kok gak sama dengan yang saya pesan ya? Begitu Dora dari bus wisata White Horse bertanya. Staf penjualan Karoseri Adiputro, Jimmy, lantas menjawab, “Iya bu tidak sama. Yang ini model baru, ada handle untuk membuka dan menutup bagasinya. Pelapis dashboard juga baru, sekat pengemudi dengan penumpang juga baru.”

Perubahan dinamis yang dilakukan Karoseri Adiputro dalam rangka mengikuti perkembangan pasar. Pengembangan produk juga ditujukan agar pelanggan setia mereka tak sempat berpaling ke lain hati. Selama pameran GIIAS 2016, David mengaku cukup bersyukur. Diluar perkiraannya, walau pengunjung tak seramai tahun lalu, pemesanan yang dilakukan di saat pameran tahun ini cukup signifikan. “Puji syukur, kami gak mengira tanggapan pelanggan cukup lumayan. Tahun ini sepertinya SPK (surat perintah kerja) lebih banyak dari tahun lalu,” katanya. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013