Rabu, 20 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SETELAH BUS PELOPOR KESELAMATAN DAN KENYAMANAN, APA LAGI?
 
28 September 2016


(Jakarta – haltebus.com) Program pembenahan transportasi bus, khususnya bus antara kota sudah dicanangkan. Program bertajuk Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan itu diresmikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sabtu (24/0/16). “Ini penting untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang, serta peningkatan pelayanan transportasi umum,” ujar Budi Karya Sumadi seperti dikutip dari antaranews.com.

Acara pencanangan Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanaan dihadiri Organisasi Angkutan Darat (Organda), Korps Lalu-Lintas Polri dan Jasa Raharja. Dalam kesempatan itu Budi mengajak perusahaan angkutan, pengemudi, penyelenggara angkutan umum lainnya dan masyarakat mengedepankan keselamatan dan kenyamanan menumpang transportasi umum. Dia mengatakan, kehadiran dan kualitas pelayanan moda transportasi umum semakin baik dengan tarif yang terjangkau sangat diharapkan masyarakat.

Program ini, menurut Budi, adalah bagian dari pembenahan angkutan massal. Selain meningkatkan kualitas pengemudi, Kemenhub juga akan memberikan penghargaan kepada perusahaan bus yang mengedepankan pelopor keselamatan dan kenyamanan. Rencana selanjutnya, Kemenhub akan membangun feeder bus pada stasiun mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta menetapkan tarif yang terjangkau. “Kalau naik (angkutan umum) bagus kita (bisa) sambil berwisata, dengan pelopor keselamatan dan kenyamanan penumpang sehingga mendorong pengusaha juga memperbaiki armadanya,” ujar Budi.

Menhub Budi berharap, pencanangan Program Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan juga diikuti pelatihan pengemudi bus. Tujuannya, menurunkan jumlah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus.

Sementara Pengamat Transportasi Publik dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno mengapresasi langkah Kementerian Perhubungan ini. Namun dia mempertanyakan bentuk konkrit dari program yang seharusnya sudah dilaksanakan sejak lama. Maklumlah, pada tahun 2010 Indonesia sudah ikut dalam Dekade Aksi Keselamatan di Jalan Raya yang digagas World Health Organisation (WHO). Dia mengingatkan, agar program Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan yang baik itu tidak sekedar menjadi slogan. “Apa tindakan berikutnya setelah Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan?,” ujarnya bertanya.

Menurut Djoko pembenahan transportasi haruslah dilakukan dari hulu ke hilir. Dalam pandangan dia, pembenahan yang mengarah kepada pengusaha relatif lebih mudah. Pemerintah hanya perlu mengambil langkah memastikan iklim usaha yang baik, pemberantasan pungutan liar, penegakkan aturan dan menyiapkan terminal yang nyaman. “Yang terberat itu adalah, memberi pemahaman kepada Kepala Daerah betapa pentingnya transportasi umum untuk kelancaran ekonomi, mengurangi kecelakaan, mengurangi kemiskinan dan mengurangi angka putus sekolah,” katanya.

Bagaimana harapan pengusaha dengan program ini? Direktur PT. Gunung Harta Transport Solusi, I Gede Yoyok berharap program Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan bisa berjalan dengan baik. Dia berharap, pemilik kendaraan pribadi bisa berpindah memilih angkutan umum bus atau moda angkutan lain. Karena itu dia mengaku serius menyiapkan jajarannya. “Armadanya kami siapkan, pengemudi, kernet, juga termasuk semua staf kami siapkan untuk mendukung program pemerintah ini,” kata dia.

 

Bus-bus PO. Gunung Harta yang bermarkas di Malang dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti palu pemecah kaca, tabung pemadam hingga pintu darurat. Pengemudi juga mengikuti pelatihan, salah satunya yang digelar Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia. Selain itu, armada bus PO. Gunung Harta juga diperbaharui/ditambah dengan bus-bus terbaru.


Dalam kurun dua tahun terakhir, Yoyok menginvestasikan modalnya dalam bentuk armada baru. Ada enam unit Scania K360IB/4x2, delapan unit Mercedes-Benz O 500 R-1836 dan dua unit Mercedes-Benz OC 500 RF-2542. Jika diasumsikan per unit menghabiskan Rp. 2 miliar sampai Rp. 2,5 miliar, maka total nilai investasinya lebih dari Rp. 30 miliar. Karena itu, dia berharap ada reward yang sebanding dengan apa yang sudah dilakukan perusahaan bus yang ikut dalam program Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan. “Sesuai arahan pak Menteri harusnya ada ya,” kata dia.

Sementara, Hasanuddin Adnan, dari PT. SAN Putra Sejahtera menilai, tidak mudah menjadi perusahaan yang ikut dalam program Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan. “Kalau sudah iku dibaiat seperti ini kami harus mengikuti, kami harus memperbaiki semua unit kami agar laik jalan,” begitu dia menjelaskan.

Menurut Hasanuddin, ada beberapa hal yang belum sepenuhnya bisa mereka penuhi karena sejumlah kendala. Ada masalah pembatasan aturan umur, nilai investasi yang tinggi dan kendala operasional di lapangan serta pungutan tak resmi yang juga ikut menaikkan biaya yang mereka tanggung. Tantangan berat lainnya dalam mewujudkan keselamatan bus tidak hanya dari perusahaan operator bus. Di sisi lain, lingkungan sekitar juga berpengaruh. Dia mencontohkan, masih banyak orang melempar batu ke bus tanpa mengerti apa penyebabnya. Celakanya, salah satu kriteria laik jalan kaca tidak boleh dalam kondisi pecah, setiap kaca yang pecah harus diganti. Selembar kaca depan bus yang sering menjadi target pelemparan harganya mencapai Rp. 4 juta.

Hasanuddin mengungkapkan, pajak berganda yang mereka tanggung selama menginvestasikan modal dalam bentuk armada bus cukup membebani. Tak heran, lanjut dia, banyak perusahaan bus yang terlambat meremajakan armadanya. Dia menyatakan sepakat dengan Menhub Budi Karya, yang akan memberikan bintang kepada perusahaan bus yang menjadi Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan. Karena itu, sambil menyiapkan segala persyaratan yang harus dilaksanakan, dia juga berharap reward dari pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi mereka.

Melalui program Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan ini, Hasanuddin juga berharap semua elemen transportasi bergerak ke arah yang sama. Semangat perbaikan transportasi bus juga diusung instansi perhubungan di daerah. “Kami yang sebelas PO ini setuju ditunjuk menjadi pelopor, tetapi apalah kami ini, sebab untuk bisa menjadi pelopor harus juga diperhatikan hal-hal penghalang untuk keberhasilan program ini. Kebanggaan bagi kami kalau program ini berhasil dan diikuti oleh 400 lebih PO bus di seluruh Indonesia,” katanya.

Dalam diskusi menuju bus Indonesia Wow awal bulan lalu, Dirjen Perhubungan Darat, Kemenhub, Pudji Hartanto mengungkapkan, banyak aspek yang akan dibenahi terkait peningkatan pelayanan transportasi bus. Selain pencanangan Bus Pelopor Keselamatan dan Kenyamanan yang mengarah pada sisi operasional bus di jalan, pembenahan terminal juga menjadi sasaran mereka. Kondisi terminal harus bisa menciptakan kenyamanan penumpang, minimal seperti yang dirasakan masyarakat saat naik kereta api di stasiun yang bersih dan teratur.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 132 tahun 2015 yang menjadi petunjuk pelaksanaan UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan sudah mengatur bagaimana terminal ditata. Di setiap terminal ini sistem boarding seperti di Bandara sudah diatur, hanya penumpang yang bisa masuk ke area pemberangkatan maupun kedatangan. ada sistem teknologi informasi yang memudahkan manajemen terminal, mulai dari informasi kedatangan dan keberangkatan, hingga pengawasan kendaraan bus yang keluar-masuk terminal.

Selain itu, dalam peraturan yang ditetapkan semasa Menteri Perhubungan Ignasius Jonan ini, ada beragam fasilitas yang belum terwujud. Dalam pasal 22 disebutkan beberapa fasilitas yang harus tersedia di areal terminal diantaranya : bengkel perbaikan ringan, areal ramp check, ruang istirahat awak kendaraan, fasilitas penyandang cacat, ibu hamil dan menyusui, pengendapan kendaraan hingga fasilitas kesehatan. Bahkan di pasal 27 ayat 2 salah satu fasilitas dan layanan yang disebutkan adalah layanan pengaduan kehilangan bagasi. Jika dicermati, alur penanganan penumpang di Terminal sudah diatur sedemikian rupa layaknya di Bandar Udara.



Jika Kementerian Perhubungan benar-benar menata pengelolaan transportasi bus di masa mendatang, bukan tidak mungkin masyarakat kembali beralih untuk naik transportasi yang mudah dijangkau ini. Apalagi, jika seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah saling terhubungkan dengan jalan raya yang baik, populasi bus diyakini akan bertambah. Salah satu contoh misalnya, saat Jakarta – Semarang – Solo sudah terhubung jalan tol, maka jarak 500 Km Jakarta – Solo hanya ditempuh dalam waktu tak lebih dari tujuh jam dengan naik bus. (naskah : mai/foto : mai/dok. haltebus.com/istimewa)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013