Kamis, 14 November 2019 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PELATIHAN OMNIPLUS MERCEDES-BENZ UNTUK PENGEMUDI DI INDONESIA
 
01 Desember 2016


(Jakarta – haltebus.com) Mercedes-Benz Indonesia kembali menggelar pelatihan untuk pengemudi bus. Namun, pelatihan pengemudi kali ini agak berbeda dari biasanya. Instrukturnya didatangkan dari Divisi Training Omniplus (layanan purnajual Evobus), Jerman. Pelatihan dengan instruktur Omniplus itu baru pertama kali dilakukan dengan peserta berasal dari pengemudi bus pelanggan Mercedes-Benz.

“Kami ingin menanamkan kepercayaan kepada pelanggan bahwa produk-produk yang kami hadirkan teruji keandalannya. Lewat pelatihan ini kami ingin memberikan pengetahuan, tanpa mengetahui cara mengemudikan bus yang baik, optimalisasi operasional juga sulit tercapai,” ujar Deputy Director of Aftersales Commercial Vehicle Mercedes-Benz Indonesia, Eko Setiyodiwarno di Ciputat, kepada haltebus.com, Selasa (29/11/16).

Sejumlah operator bus mengirimkan pengemudinya dalam pelatihan ini. Ada dari PO. Lorena, PO. Marissa Holiday, PO. NPM, PO. Harapan Indah, PO. Gunung Harta, PO. Putera Mulya, PO. Manhattan, PT. Transjakarta, PO. Mega Mas, PO. Garuda Mas, PO Haryanto dan PO. Gunung Harta. Pelatihan digelar dalam dua hari, masing-masing hari diisi oleh pengemudi dan perusahaan yang berbeda.



Instruktur Omniplus, Joachim Sauer, menularkan ilmu bagaimana mengoperasikan bus Mercedes-Benz. Diawali dengan pengetahuan dan teori yang terkait dengan pengoperasian bus, hingga praktek di lapangan. Menurut dia, metode yang disampaikannya di Indonesia sama dengan yang digunakan melatih pengemudi di negara-negara lain berbasiskan modul pelatihan standar Evobus. Perbedaannya hanya pada kelas dan tipe bus yang dipasarkan di masing-masing negara.

Secara runut Joachim menjelaskan dasar-dasar pengetahuan tentang bus Mercedes-Benz. Di sesi pertama, lebih kepada pengenalan produk bus Mercedes-Benz, fitur keamanan dan keselamatan serta berbagai hal yang terkait. Sesi kedua pengenalan cara mengemudi yang efektif untuk mencapai tingkat keekonomian maksimal dalam pengoperasian bus. Dan sesi ketiga praktek bagaimana mencapai tingkat efesiensi saat mengemudikan bus.

Banyak pertanyaan menarik terkait pengalaman pengemudi peserta pelatihan. Tasripin dari PO. Manhattan wisata misalnya mempertanyakan posisi yang pas untuk perpindahan gigi. “Kalau untuk 1836 kan harus 1500 Rpm, nah terkadang ada terasa seperti kehilangan tenaga. Kan saya juga biasa bawa 1526 dan 1626, itu kalau di 1600 Rpm dipindah cukup dapat tenaganya,” begitu yang dilontarkan Tasripin.



Pertanyaan Tasripin ini tak serta merta dijawab Joachim. Satu per satu filosofi operasional mesin dia jelaskan. Mulai dari torsi mesin, putaran mesin dan tenaga yang dihasilnya dijabarkan dengan runut dan visualisasi yang mudah dipahami. Saat masuk ke topik kinerja OM906hLA dan OM457hLA, barulah dia menjawab pertanyaan itu. “Di putaran mesin 1600 Rpm untuk OM906 hLA masih memungkinkan, tidak masalah perpindahan gigi persneling dilakukan, yang terpenting saat gigi sudah berpindah dan putaran ada di 1300 Rpm anda harus memahami karakter mesin. Dimana titik puncak tertinggi. Yang lebih aman yang konstan di 1500 Rpm,” ujar Joachim yang dibantu Daniel Hutabarat, dari Divisi Training Center Mercedes-Benz Indonesia yang menerjemahkan penjelasannya.

Yang cukup menarik dalam pelatihan adalah saat masuk ke sesi praktek. Sambil menghubungkan alat pengukur ke konektor penganalisa mesin yang ada di dashboard O 500 R-1836, Joachim menunjukkan bagaimana cara mengemudi yang baik. Salah satu instruktur Mercedes-Benz Indonesia, Sulasno sempat kikuk untuk mempraktekkan apa yang diinginkan Joachim. “Injak kopling dan anda masukkan persneling ke posisi gigi satu, maju tanpa menginjak pedal gas, cukup lepas kopling perlahan,” kata pria Jerman itu.

Hal yang sama juga dia tunjukkan saat bus dalam posisi gigi mundur. Beberapa variasi cara menginjak pedal gas dan mempertahankan putaran mesin juga dipraktekkan. Alat pengukur yang dibawa Joachim menunjukkan tingkat konsumsi bahan bakar. Di titik tertentu, saat mesin berakselerasi, tingkat konsumsi bahan bakar bisa tinggi, tetapi saat putaran mesin stabil konsumsi bahan menurun dan cenderung konstan.

Joachim sempat luput menginformasikan posisi duduk yang baik saat termin pertama praktek. Ketika salah seorang peserta mencoba duduk dibalik kemudi, barulah dia mencontohkan posisi duduk yang baik. Menurut dia, posisi duduk harus santai, posisi tangan bisa menjangkau titik terjauh roda kemudi dan menjaga pandangan keluar yang pas dengan posisi duduk. Tujuannya agar pengemudi bisa leluasa mengendalikan busnya.

Ketika peserta mencoba mempraktekkan cara mengemudi yang diinstruksikan terlihat beberapa kesalahan yang dikoreksi Joachim dan menjadi bahan diskusi dengan peserta yang lain. Misalnya, peserta terlihat kikuk memindah persneling dan melepas kopling tanpa menginjak pedal gas. Begitu pula saat mundur. Joachim menunjukkan bagaimana pengemudi memulai pergerakan bus dari gigi persneling pada posisi satu dan memindahkannya dengan cepat ke posisi gigi kedua.



“Bus harus mulai bergerak dengan gigi persneling satu, jangan pernah langsung ke posisi kedua. Kalau mengikuti langkah yang kami anjurkan dengan memulai pada posisi satu umur bus anda bisa mencapai 100 persen dari yang seharusnya. Begitu diawali dengan posisi kedua, hanya 18 persen umur bus anda,” kata dia mengingatkan.

Arahan instruktur Omniplus itu membuat cara mengemudikan bus tak ubahnya seperti mengemudikan sedan. Perpindahan gigi yang halus disertai memperhatikan perputaran mesin bisa mencapai hasil yang optimal. Tak hanya bus O 500 R-1836 yang menjadi sarana praktek, bus OC 500 RF-2542 milik PO. Marissa Holiday juga ikut dalam pelatihan. Pada seri OC 500 RF-2542 transmisi semi-otomatis ZF Astronic sudah diaplikasikan.

Meski tak mengetahui karakter pengemudi di Indonesia pada umumnya, Joachim optimistis metode yang mereka terapkan di Omniplus bisa mudah diserap peserta. Bus-bus berkapasitas besar seperti O 500 R-1836 dan OC 500 RF-2542 dari Mercedes-Benz belum banyak dikenal di kalangan operator bus di Indonesia.

Fitur keamanannya yang tinggi yang dilengkapi Anti-lock Braking System (ABS), Retarder, Anti-Slip Regulation (ASR), Electronic Stability Programme (ESP) dan kontrol elektrik di beberapa pengoperasian mesin memerlukan pemahaman pengemudi yang baik. Tasripin bahkan mengaku memencet tombol ASR saat melalui jalan berkelok di saat hujan. Joachim pun langsung bereaksi begitu mengetahui tombol itu dipencet, “Ketika tombol dipencet, justru fitur ASR-nya mati. Itu salah. Fitur ini bekerja otomatis saat mesin dihidupkan. Dalam pandangan saya sebaiknya jangan dimatikan selama anda berkendara.” Fitur ASR ini menjaga kestabilan bus bersamaan dengan fitur ESP, agar bus tetap pada jalurnya.

Menurut Eko Setiyodiwarno, berdasarkan pengalamannya dalam melatih pengemudi, sebagian besar pengoperasian bus dengan fitur-fitur yang tergolong canggih belum maksimal. Informasi bagaimana mengemudikan bus yang baik dan benar, serta pengenalan fungsi fitur-fitur itu kerap menjadi kendala optimalisasi pengoperasian. Efesiensi opersional, lanjut dia, menjadi isu utama di kalangan pengusaha bus. “Seringkali kami temui pengemudi itu belum mengetahui fungsi-fungsi yang ada pada chassis, sehingga ada saja keluhan dari pemilik bus. Nah kami mencoba mengambil jalan terbaik dengan transfer pengetahuan melalui pelatihan semacam ini,” kata Eko menutup pembicaraan. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013