Sabtu, 25 November 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PT. TRANSJAKARTA BEBASKAN BEA ADMINISTRASI ISI ULANG KARTU ELEKTRONIK
 
03 Januari 2017


(Jakarta – haltebus.com) PT. Transportasi Jakarta, Transjakarta mempermudah transaksi non-tunai. Sejak 30 Desember 2016 lalu, perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta itu membebaskan bea administasi pengisian ulang kartu elektronik (top up) dengan kartu debit. “Transaksi non tunai lebih hemat, efektif, efisien serta aman dibandingkan aktivitas keuangan menggunakan uang tunai,” demikian disampaikan Direktur Utama PT. Transjakarta, Budi Kaliwono, Sabtu (30/12/16) menjelang tutup tahun 2016 lalu.

Menurut Budi, pihaknya ingin memberikan layanan kepada masyarakat agar lebih mudah menggunakan armada bus Transjakarta. Penghapusan bea administrasi itu diharapkan bias meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan cara pembayaran non-tunai dalam layanan bus Transjakarta. Targetnya, masyarakat bisa terbiasa dengan sistem pembayaran yang relatif baru ini.

Budi menambahkan, penghapusan bea administrasi ini bisa diterapkan setelah ada kesepakatan antara PT. Transjakarta dengan pihak perbankan. Sejak yang telah bekerja sama untuk transaksi non-tunai di seluruh Koridor Transjakarta. Sebelumnya setiap top up yang tersedia di halte-halte Transjakarta tertentu itu dikenai biaya administrasi Rp. 2.000.

Semasa Gubernur DKI Joko Widodo, di tahun 2013, penggunaan transkasi non-tunai via kartu elektronik dimulai. Saat itu, PT. Transjakarta menjalin kerja sama dengan BRI, BNI, Bank Mandiri, BCA, dan Bank DKI untuk transaksi non tunai. “Naik Transjakarta lebih mudah, adanya E-ticketing bisa mengurangi antrean,” kata Joko Widodo saat peresmian di Koridor Blok M-Kota.

Selain mempermudah pelanggan, kata Budi, pembebasan biaya bagi pelanggan Transjakarta untuk pengisian ulang kartu elektronik, juga untuk mendukung program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan Bank Indonesia (BI) pada 2014. Sejalan dengan penerapan kemudahan pembebasan biaya administrasi itu, PT. Transjakarta juga akan meniadakan transaksi di halte mulai pukul 22.00. Layanan akan kembali beroperasi pada pukul 05.00. “Penutupan transaksi pada kurun waktu tersebut bertujuan meningkatkan aspek keamanan di halte Transjakarta,” lanjut Budi.

Mulai September 2016 lalu, PT. Transjakarta juga menerapkan ujicoba sistem tap in (masuk) dan tap out (keluar) di semua Koridor Transjakarta. Sementara ini penumpang masih bisa menggunakan kartu orang lain untuk tap out (keluar). Namun, PT. Transjakarta sudah memproyeksikan rencana untuk satu kartu berlaku untuk satu penumpang. Setiap pelanggan Transjakarta harus memegang kartu untuk dirinya sendiri. Kartu itu digunakan untuk masuk dan keluar halte. Saat masuk satu kartu yang dipindai akan dikurangi nominalnya sesuai tarif bus Transjakarta, Rp. 3.500.

Jadi, cara tap in (masuk) dan tap out (keluar) yang berlaku di setiap halte Transjakarta sama dengan yang berlaku di stasiun kereta untuk KRL.
Sistem tap in dan tap out itu memungkinkan PT. Transajakrta merekam data pelanggan yang keluar-masuk halte untuk menggunakan layanan bus Transjakarta.

Sejalan dengan kemudahan bertransaksi, PT. Transjakarta juga ingin meningkatkan jumlah penumpang yang bisa dilayani di seluruh koridor. Dari data PT. Transjakarta, selama Januari – November 2016 tercatat 111,7 juta pelanggan terangkut di seluruh jaring transportasi yang dikelola mereka. Pelanggan di 12 Koridor Transjakarta tercatat 99,2 juta pelanggan, sedangkan di non Koridor ada 9,2, juta pelanggan dan hampir 3 juta pelanggan menikmati layanan gratis mulai bus tingkat wisata hingga pemegang kartu subsidi.

Sejak dipimpin Budi Kaliwono, PT. Transjakarta juga gencar menargetkan kapasitas angkut armada bus Transjakarta agar bisa mengangkut 1 juta pelanggan per harinya. Catatan PT. Transjakarta masih jauh dari target itu. Prestasi tertinggi untuk tingkat okupansi pelanggan ada pada Agustus 2016 di Koridor 1 (2,192 juta pelanggan) dan Koridor 9 (1,283 juta pelanggan). Dalam beberapa kesempatan Budi sempat menyebut kendala penambahan armada dan berujar, “Kedatangan chassis dan proses pembuatan di karoseri yang memakan waktu.” Namun, dia menegaskan pihaknya berupaya keras menambah armada sesuai target yang sudah ditetapkan. (naskah : mai/foto : dok.haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013