Rabu, 12 Agustus 2020 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
DUA BUS KAYU JADI PUSAKA PANGKAL PINANG
 
20 Februari 2017


(Pangkal Pinang – haltebus.com) Dua unit bus sedang terparkir di sisi Selatan halaman Museum Timah Indonesia, Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung, Sabtu (18/2/17). Dari wajah keduanya, menunjukkan truk medium di era tahun 1980-1990-an, mungkin lebih dekat dengan minibus besar. Di bagian badannya terlihat bentuk bus yang sudah sangat langka ditemui di Indonesia. Maklum badan bus dibuat dari kayu. “Dua unit bus ini kami dapatkan dari pengusaha bus berbeda, sebagai bentuk perhatian kami untuk melestarikan sejarah di daerah ini,” kata Hikmat Slamet, Sekretaris Pengurus Museum PT. Timah menjelaskan tentang kedua bus itu.

Di masanya, bus kayu sangat popular di Pulau Bangka sebagai sarana transportasi penghubung kota-kota yang ada di sana. Mulai jurusan Pangkal Pinang – Sungailiat, Pangkal Pinang – Muntok, Pangkal Pinang – Bwlinyu sampai Pangkal Pinang – Toboali (kota paling selatan P. Bangka). Bus kayu terjauh di P. Bangka pertama kali beroperasi tahun 1953, milik PO. Sabang Jaya dengan jurusan Toboali – Pangkal Pinang. jarak tempuhnya sekitar 100 Km.

Kembali kedua bus kayu milih PT. Timah, Hikmat mengungkapkan, keberadaan bus itu adalah bagian dari program perusahaannya untuk mendorong pariwisata di P. Bangka, khususnya Kota Pangkal Pinang. Beroperasi setiap hari Sabtu – Minggu, bus yang dikenal dengan sebutan Pownis itu mengangkut pengunjung Museum Timah Indonesia secara gratis berkeliling kota Pangkal Pinang. “Pownis itu singkatan dari Perusahaan Otobus Warga Negara Indonesia Sungailiat,” ujar Hikmat.



Hikmat menjelaskan, ada keinginan yang kuat dari Direktur Utama PT. Timah, Mochtar Riza Pahlevi untuk menghadirkan bus unik sebagai salah satu ikon di kota Pangkal Pinang. Kebetulan, lanjut dia, bus Pownis yang lekat dengan sejarah perkembangan masyarakat P. Bangka itu sudah berhenti beroperasi sekitar tahun 2010. Upaya menghidupkan kembali bus Pownis ini, menurut Hikmat, diharapkan bisa menarik wisatawan dalam dan luar negeri datang berkunjung dan menikmati ke-khas-an P. Bangka.

Apa saja keunikan bus Pownis ini? Berdasarkan Surat Tanda Nomor Kendaraan, kedua bus dibuat pada tahun 1987, umurnya hampir 30 tahun. Bus sempat vakum selama enam tahun karena dihentikan operasinya pada umur 23 tahun. “Salah satu bus yang kami dapat masih sangat terawat. Pemiliknya begitu sayangnya dengan bus ini, membuat kami tak melakukan banyak restorasi kondisi busnya,” ujar Hikmat.



Melihat bus yang terbuat dari kayu, di era serba modern sekarang ini, pasti mengherankan siapapun yang melihatnya. Baik atap, dinding dan lantai semuanya terbuat dari jalinan kayu yang dirangkai dengan paku dan mur-baut. Kursi pun juga terbuat dari kayu. Agar penumpang nyaman, PT. Timah menambahkannya dengan busa tipis yang dilapisi bahan berwarna hitam. Hanya bagian kabin pengemudi saja yang mengikuti standar pabrikan, terbuat dari besi.

Setiap bagian bus kayu itu sangat khas. Di bagian pintu misalnya, rangka pintu terbuat dari kayu. Dibuat presisi sesuai dengan rumah pintu yang menyatu dengan badan bus. Di bagian dalam pintu dilapisi plat logam tipis, begitu juga di bagian luar pintu. Oh ya, bus kayu ini dibalut plat tipis di bagian luarnya. Jika dilihat dari sisi depan akan kentara bentuk dindingnya yang menggembung. Di bagian atap, ada rak barang yang cukup besar karena memanjang dari belakang kabin pengemudi hingga mencapai buritan bus.



Jendela bus tak kalah menarik. Seluruh jendela dirancang dalam posisi terbuka lebar. Jangan salah, bukan berarti tak ada penutupnya. Di bagian bawah jendela, masuk ke dalam dinding bus tersembunyi rangka penutup kaca yang terbuat dari kayu dengan pelapis plastik. Bagian atas jendela juga mengingatkan kita pada minibus besar di tahun 1980-1990-an. Ada kaca kecil memanjang yang sangat cantik tersemat di bus kayu itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkal Pinang, Akhmad Elvian mengatakan, bus Pownis ini sangat lekat dengan perkembangan masyarakat P. Bangka. Mengapa disebut Pownis? Menurut Elvian, sampai tahun 1990-an masih ada 15 ribu warga Negara asing dari China yang bermukim di P. Bangka.

Di masa lalu, warga keturuanan China yang sudah menjadi warga Negara Indonesia dan berusaha di bidang Transportasi menunjukkan nasionalismenya dengan membentuk Persatuan Otobus Warga Negara Indonesia (Pownis). “Pownis ini sangat lekat dengan sejarah masyarakat Pulau Bangka, warga peranakan yang sudah membaur di sini menunjukkan jati dirinya dalam Pownis,” ujar Elvian.

Menurut Elvian, keberadaan bus Pownis ini sangat membantu meningkatkan gairah pariwisata di kota Pangkal Pinang. Bus yang berangkat dan kembali ke Museum Timah Indonesia itu, dioperasikan bersama antara PT. Timah dan Pemkot Pangkal Pinang. Masyarakat bisa memanfaatkannya berkeliling kota dengan melewati sejumlah titik bersejarah di kota Pangkal Pinang. Setiap satu bus dikawal oleh tour guide yang tak lain staf Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahgara Kota Pangkal Pinang. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Profil    |   Sudut Halte    |   Halte Advertorial    |   Halte Manca    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013