Rabu, 18 Oktober 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
KETIKA PALAPA WIJAYA BERTEMU PABRIKAN BUS
 
12 Maret 2017


(Purwakarta – haltebus.com) Pelaku Angkutan Pariwisata Yogyakarta, Palapa Wijaya kembali menimba ilmu dan kekompakan, keluar dari Yogyakarta. Kali ini pengusaha yang juga anggota Organda D.I. Yogyakarta memilih PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) menjadi salah satu tempat yang mereka kunjungi. “Kami perlu mengetahui detil produk sehingga kami merasa perlu mendatangi pabrikan untuk membuka komunikasi dan diskusi dalam upaya memperbaiki pelayanan,” kata Ketua Organisasi Angkutan Darat Daerah Istimewa Yogyakarta, Agus Andrianto, Kamis (9/3/17) di PT. HMMI, Purwakarta, Jawa Barat.

Agus yang juga mengelola PO. Langen Mulyo ini mengungkapkan, banyak peluang terbuka di Yogyakarta di masa mendatang seiring dengan pembangunan Bandara Internasional di Kulonprogo. Kebutuhan alat transportasi yang nyaman dan aman dipastikan meningkat.

Kunjungan Palapa Wijaya ke PT. HMMI ini cukup menarik. Diawali dengan kunjungan rombongan keliling fasilitas produksi chassis bus dan truk. Mereka melihat dari dekat perakitan chassis bagian per bagian hingga selesai perakitan. Direktur Penjualan dan Promosi PT. Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo mendampingi rombongan. Bersama tim dari penjualan dan purna jual, Santiko berbaur dengan anggota Palapa Wijaya berkeliling pabrik.

Usai pemanasan dengan berkeliling fasilitas perakitan, diskusi yang dipandu langsung Santiko cukup hangat. Beberapa lontaran pertanyaan yang terkait produk cukup kritis. Salah satunya datang dari Direktur Utama PT. Geli Gede Maju Mandiri (GeGe Transport), V. Hantoro. “Pengalaman kami, kalau membeli bus Hino R-260 selalu memodifikasi rem, karena menurut kami rem Hino kurang pakem. Gigi persneling juga kami rasakan kurang ruang-ruangnya sehingga cepat ompong begitu,” ujarnya.

Sementara itu, Patrick dari PO. Tami Jaya juga menambahkan, persneling untuk bus medium Hino FB juga dinilai bermasalah. Menurut dia, terkadang pengemudi empat unit bus yang mereka miliki kerepotan untuk memindahkan gigi persneling. “Kalau umpamanya ketanggok (tertahan) pas ditanjakan, mau gak mau harus dibantu ganjal karena rem juga kurang pakem sementara memindahkan persneling agak susah,” kata dia.



Salah satu pertanyaan menggelitik meluncur dari Catur (PO. Parikesit). Dengan lugasnya dia bertanya, “Bisa gak pak pesanan chassis kami datangnya lebih cepat supaya bisa dipakai pas Lebaran?.”

Tutut Mulyono dari Divisi Purna Jual yang ikut hadir dalam kesempatan itu banyak mencatat masukan-masukan terkait produk chassis yang dipasarkan Hino. Dari lima penanya hamper semuanya menyinggung masalah teknis. “Kami akan pelajari pak, kami juga akan datang ke tempat bapak untuk mengetahui detil permasalahannya sebelum kami sikapi secara internal,” katanya.



Santiko Wardoyo menyatakan, kritik, saran dan masukan dari pelanggan memang sangat mereka butuhkan. Dia menilai beragam masalah yang diungkapkan itu tidak melulu karena masalah pada produk yang mereka pasarakan, tetapi juga ada masalah product knowledge. Karena itu, dia mengapresiasi usulan dari Wawan (PO. Eddy Transport) yang mengusulkan pelatihan untuk mekanik dan pengemudi bus di Yogyakarta. “Kami banyak mendapat masukan dari pelanggan setiap kami mengadakan gathering di daerah-daerah. Di setiap daerah masukan dari pelanggan berbeda-beda, bisa jadi karena karakter daerahnya berbeda,” ujarnya menjelaskan.

Pengusaha bus di Yogyakarta berharap Hino bisa memperluas pasar bus nya di daerah mereka. Selama ini menurut Hantoro, banyak yang ingin membeli produk Hino tetapi takut-takut. Dia mengungkapkan, seandainya produk Hino juga banyak ditemukan di Yogyakarta, mungkin populasinya bisa bertambah. “Biasanya kan kalau kami beli bus itu berdasarkan referensi atau nggolek kancane (cari teman lainnya), kalau ada temannya yang pakai kan enak kalau ada trouble di jalan bisa dibantu,” kata Hantoro menjelaskan argumennya.

Hantoro yang juga Ketua Unit Bus Pariwisata Organda DIY mengungkapkan, sekarang ini pengusaha bus ingin mencari cara yang efesien agar bisa bertahan. Perawatan menjadi hal yang paling diperhatikan dalam operasional mereka. Semakin mudah dalam merawat bus, maka efesiensi bisa mereka capai dengan baik. Karena itu, anggota Palapa Wijaya saling bertukar informasi juga bekerja sama agar bisa terus melayani pelanggannya. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013