Minggu, 20 Agustus 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
NAMANYA BUS ZHONTONG, BUKAN ODONG-ODONG
 
30 Mei 2017


(Jakarta – haltebus.com) Bus abal-abal. Begitu stigma yang menempel pada bus yang dibuat pabrikan asal China. Cap tersebut sudah dikenal luas hingga sulit membendung anggapan bahwa kualitas bus buatan China itu buruk. Padahal, kenyataannya bus-bus yang dibeli dari Zhongtong oleh DAMRI sejak tahun 2012 lalu masih beroperasi hingga kini.

“Kami memilih produk China karena saat itu ada aturan tentang GVW yang di atas 25 Ton dan berbodi aluminium. Di Indonesia saat itu belum ada bus yang sesuai dengan kriteria itu,” ujar Direktur Unit Bisnis Transjakarta Koridor 1-8 Perum DAMRI, Harry Susanto di kantornya, Kamis (25/5/17).

Harry mengungkapkan hal itu dalam diskusi dengan komunitas penggemar dan pengguna transportasi di Jakarta. Menurut dia, sepanjang mengoperasikan 66 unit bus yang didatangkan langsung dari China itu, tak pernah ada kendala yang berarti. Meski medan tugas bus-bus gandeng itu tergolong berat, namun hingga kini performa bus masih sangat baik.



Febri Tohana dari Busway Fans Community dalam pertemuan itu mengungkapkan bahwa dalam sebuah forum kualitas bus China selalu dicap jelek. Padahal salah satu operator Transjakarta, yakni DAMRI tergolong mumpuni dalam merawat bus-bus Zhongtong yang dibuat di Provinsi Shandong, China itu. “Saat ada bus mengalami masalah dan mengeluarkan asap dibilang terbakar, akibat kualitasnya jelek dan gak aman. Sekarang silahkan ditanyakan langsung di sini dengan pihak-pihak yang menangani langsung,” katanya.

Kepala mekanik DAMRI Transjakarta Koridor 1 dan 8, Nurbudi C mengungkapkan, ada beberapa hal dalam perawatan bus Zhongtong yang perlu diperhatikan. Tingginya suhu mesin diesel berbahan bakar gas dengan tingkat kesulitan yang tinggi dalam operasional, menjadi perhatian mereka.

Dalam kondisi suhu yang tinggi dengan beban operasional yang berat di Koridor 1 dan 8 Transjakarta, turbo pada mesin menjadi lebih panas dari spesifikasi normal yang diperkirakan oleh pabrikan. “Suhu kerja komponen turbo ini maksimal 720 derajat celsius, pada satu pengujian di malam hari kami pernah menemukan suhu kerja turbo 650 derajat celsius saat beban kerja tinggi. Jika di siang hari mungkin bisa di atas 700 derajat celsius,” ujar pria yang kerap disapa Budi.

Budi menambahkan, di saat beban puncak operasional dan suhu kerja turbo di atas spesifikasi bebannya, maka yang terjadi adalah turbo langsung patah. Menurut dia, tidak ada tanda-tanda awal seperti retakan maupun suara yang tak lazim. Saat patah tetesan oli yang jatuh ke mesin menimbulkan asap putih akibat terkena panasnya mesin. Kondisi ini sering disalahartikan dan dianggap terbakar.

Pihak pabrikan mesin, kata dia, yakni Doosan (Korea Selatan) sudah meneliti permasalahan ini. “Mereka mengakui bahwa kondisi kerja mesin di Jakarta tak sama dengan di Korea. Mencari solusi untuk mengganti turbo sesuai spesifikasi yang cocok dengan kondisi di Jakarta pernah kami lakukan. Ada yang cocok tapi tidak pas saat dipasangkan, harus ada biaya tambahan untuk memproduksi turbo yang pas untuk dipasang di mesin,” ujar Budi.



Akhirnya Budi mengungkapkan, pihaknya selalu meminta agar pengemudi lebih memperhatikan saat mematikan mesin. Ketika sampai di pool, bus tidak boleh langsung dimatikan agar suhu turbo bisa turun dan material komponen turbo bisa lebih awet. Dalam keadaan mesin hidup saat memasuki pool, suhu turbo ada di kisaran 450 derajat celsius, jika diberi jeda sebelum mematikan mesin suhu kerja turbo bisa turun di kisaran 200 derajat celsius.

Di luar kemampuan mesin, jika diperhatikan ada beberapa hal terkait desain bus Zhongtong yang diadopsi bus-bus Transjakarta yang banyak beredar saat ini. Dalam sebuah perbincangan, Direktur Operasional PT Multi Transportasi, Tjahjo Wibowo mengungkapkan, bus-bus China memiliki keunggulan dari sisi pengamanan sistem kelistrikan.



Standar dari pabrikan di China umumnya, kata Wibowo, bus sudah dilengkapi pemutus arus. Letaknya di sisi kanan bagian belakang bus, di depan mesin atau di kotak batere. “Saya memperhatikan bus-bus yang lain tidak seperti bus China, yang sudah dilengkapi pemutus arus sebagai standar pabrikan,” ujar pria yang bertanggung jawab merawat armada bus PO. Manhattan.

Wibowo mengaku mempelajari karakter chassis dari beberapa pabrikan. Armada PO. Manhattan sendiri terdiri dari Mercedes-Benz, Scania, Hino, Isuzu, Mitsubishi maupun Golden Dragon. Dari beragam chassis itu, alumnus Teknik Industri ITS ini mengenal karakter teknis bus, agar bisa mengidentifikasi masalah operasional bus.

Disamping informasi yang disampaikan Wibowo, secara kasat mata ada beberapa hal yang menjadi acuan untuk pengembangan spesifikasi bus Transjakarta. Boleh dibilang bus-bus China ini menjadi tolok ukur pertama bus-bus Transjakarta saat ini. Tengok plafon bus Zhongtong maupun Ankai, sistem buka-tutup yang mudah di bagian plafon AC, diisi dengan jalur kabel.

Selain memudahkan perawatan kabel, juga menjaga suhu kabel agar tetap dingin selama bus beroperasi. Bus Zhontong juga dilengkapi dengan sistem engine management CAN untuk mengontrol semua sistem kerja mekanis pada bus. Penggunaan pengaman pintu pneumatic juga dimulai di era datangnya bus-bus China. Jika ada kondisi darurat, pintu otomatis itu dengan mudah dibuka.

Menurut Nur Budi, kualitas bus-bus China yang mereka rawat cukup baik. Dia bahkan menyebut mesin diesel berbahan bakar gas Euro 5 dari Doosan menjadi pionir di eranya. “Jika ingin bus yang ramah lingkungan dan efesien mesin gas memang pilihan yang bagus, dulu memang pengisian nya bermasalah karena SPBG nya masih sedikit, kalo sekarang kan sudah banyak bertambah,” kata dia lagi.



Terlepas polemik soal kualitas bus-bus China yang kerap disebut bus odong-odong atau abal-abal oleh kebanyakan orang. Pada kenyataannya, DAMRI sudah mengoperasikannya selama lima tahun. DAMRI pun juga mengoperasikan bus-bus China berbahan bakar gas untuk bus Angkutan Bandara Soekarno-Hatta. Satu hal yang pasti, apapun mereknya meskipun memiliki reputasi dunia, tanpa perawatan yang baik bus-bus itu juga bisa jadi odong-odong. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013