Jumat, 18 Agustus 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
ATASI PELEMPARAN KACA BUS, KEMENHUB AKAN KOORDINASI DENGAN KEPOLISIAN
 
12 Juni 2017


(Jakarta – haltebus.com) Kementerian Perhubungan menggelar pengecekan fasilitas penunjang dan angkutan mudik 2017. Mulai pecan ini, pengecekan terhadap kelayakan angkutan bus sudah dimulai, baik bus angkutan regular maupun angkutan wisata yang diperbantukan untuk arus mudik. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Bambang Prihartono menyatakan pemerintah akan mengupayakan secara maksimal kecelakaan di jalan raya selama musim mudik lebaran.

“Kami mulai pengecekan baik di terminal maupun tempat-tempat pemberangkatan pemudik. Bus-bus yang digunakan untuk mudik gratis juga termasuk yang kami periksa,” kata Bambang saat berkunjung ke Terminal Bus Terpadu Pulogebang, Sabtu (10/6/17).

Bambang mengungkapkan, masalah keselamatan angkutan mudik Idul Fitri 2017 menjadi perhatian pemerintah. Semua sektor dilibatkan, tidak hanya Kementerian Perhubungan, ada Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kepolisian juga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Dia menyatakan, pemerintah mengantisipasi agar kejadian mudik tahun lalu tidak terulang kembali di tahun ini.



Saat melihat jalur keberangkatan bus di Terminal Terpadu Pulogebang, Bambang sempat terkejut menemukan bus yang menggunakan tameng kawat di kaca depannya. Menurut dia, seharusnya tameng kawat itu tidak dipasang di kaca depan karena membahayakan keselamatan. Pengemudi bisa dengan mudah kelelahan karena dibutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi saat mengemudi. Halangan kawat, kata dia, bisa menghalangi pandangan dan menyulitkan pengemudi mengantisipasi situasi di depannya.

“Wah kok dikasih kawat begini pak?,” begitu dia bertanya kepada pengemudi. Yusuf, pengemudi PO. Putra Pelangi (PT. Putra Pelangi Perkasa) yang ditanya dengan spontan menjawab, “Kaca kami sering dilempar pak.” “Siapa yang melempar?,” tanya Bambang. “Entahlah pak, mungkin orang mabuk, mungkin orang frustasi, entahlah tiba-tiba saja mereka melempar tanpa sebab,” jawab Yusuf.

Bambang sempat penasaran terhadap jawaban Yusuf. Saat bertugas di Medan, dia mengaku sering menggunakan bus ke Jawa dan tidak pernah menemukan bus yang menggunakan tameng kawat. “Ah masak pak? Pelemparannya dimana? Saya dulu sering naik bus gak ada pelemparan, sejak kapan ada pelemparan?,” ujar Bambang memborong pertanyaan.

Yusuf lalu menjelaskan kepada Bambang, bahwa daerah rawan pelemparan batu ada di sepanjang Jalan Lintas Timur Sumatera, mulai Sumatera Selatan hingga ke Medan. Titik-titik lokasi pelemparan juga tidak pernah tetap, dan polanya acak. Perusahaan tempat Yusuf bekerja terpaksa memasang tameng justru untuk melindungi bus dan demi keselamatan perjalanan. “Kalau kaca samping sudah sering dilempar, sudah banyak penumpang yang kepalanya terkena lemparan batu dan serpihan kaca. Sudah dikasih kawat pun sering juga kaca bus kami masih pecah, kapan itu kawatnya pun rusak,” katanya.

Kasubdit Pengawasan Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ, Syafrin Liputo yang mendampingi Bambang juga ikut menjelaskan. Menurut dia, beberapa kali sudah meminta agar kawat tameng dicopot, begitu dicopot dia mengakui bahwa banyak bus Sumatera yang kacanya pecah. Tadinya saat kedapatan kacanya pecah, lanjut dia, bus-bus itu segera ditindak karena melanggar aturan dan membahayakan. Tetapi akhirnya diberi kelonggaran mengingat situasinya tidak menguntungkan seperti yang diungkapkan Yusuf. “Ini bagian dari kearifan mereka pak, bagaimana mengatasi masalah di jalan,” kata Syafrin menjelaskan pada atasannya.



Mendapat penjelasan seperti itu, Bambang yang baru menjabat Pelaksana Tugas BPTJ belum genap dua minggu ini menyatakan, harus ada solusi agar tidak membahayakan perjalanan pemudik. “Saya akan berkoordinasi dengan kepolisian,” ujarnya saat ditanya solusi yang akan diambil.

Masalah pelemparan kaca bus sebetulnya bukan hanya terjadi di Sumatera. Di beberapa titik di Jalan Utama Pantai Utara dan Pantai Selatan Jawa juga kerap terjadi pelemparan. Minggu lalu, pelemparan juga terjadi di Bali. Salah seorang pengusaha bus yang kaca armada busnya kerap menerima hadiah batu dari tangan orang tak bertanggung jawab itu mengeluhkan kondisi ini. Menurut dia, harga kaca depan bus jika harus langsung diganti sangat mahal dan tak sebanding dengan pendapatan bus dalam satu hari. “Harga Kaca depan bus termurah itu Rp. 4 juta. Yang menyedihkan itu saat baru diganti, belum ada satu trip (pergi-pulang) kaca pun sudah dilempar orang lagi,” kata Hasanuddin Adnan dari PO. Siliwangi Antar Nusa, bus lintas Jawa-Sumatera.

Hasanuddin menyambut baik rencana Pelaksana Tugas BPTJ Bambang Prihartono berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Dia menyatakan siap memberikan laporan lengkap, kejadian yang dialami armada busnya yang mendapat lemparan batu. “Saya ada satu bundel tebal laporan kepolisian. Saya ada SOP, setiap kali dilempar, kru bus harus melapor ke Polsek setempat. Saya siap menyerahkannya pada pak Bambang,” ujar pemilik PO. SAN yang tak pernah memasang tameng kawat di armada busnya. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013