Sabtu, 16 Desember 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
BUS KAYU TERAKHIR YANG MASIH TERSISA DI JAWA?
 
20 Juli 2017


(Jakarta – haltebus.com) Beragam kendaraan niaga dari berbagai pabrikan luar negeri pernah masuk sejak tahun 1920 hingga tahun 1990-an dalam bentuk utuk maupun setengah jadi. Saat Indonesia mulai membangun infrastruktur dan transportasi, tahun 1950 – 1970-an, saat itulah kebutuhan kendaraan angkutan barang dan penumpang sangat tinggi. Salah satu yang masuk ke Indonesia adalah merek asal Inggris, Austin.

Tidak banyak informasi yang didapat haltebus.com tentang jejak sejarah pabrikan ini, satu-satunya yang masih bisa ditemui adalah bus kayu berbasiskan truk Austin yang masih terpelihara dengan baik di garasi perusahaan bus Bahagia Ikhlas (BAIK). Ketika haltebus.com menyambangi bus kayu yang masih orisinil itu di garasi PO. BAIK, awal Februari lalu di Bandung, tak diduga, mesin bus masih bisa berfungsi.

Yudi, karyawan PO. BAIK yang masih setia, menunjukkan bagaimana bus itu bisa maju-mundur, parkir, serta memastikan busnya masih bisa berjalan dengan baik. “Kondisinya ketika itu lumayan kotor, lalu pak Yanto meminta saya mengecek dan membersihkannya. Begitu dicoba untuk distater setelah dirapikan, alhamdulillah mesinnya masih nyala,” katanya sambil berbinar.



Djuljanto, generasi ketiga pemilik PO. BAIK, yang akrab disapa Yanto mengungkapkan, bus itu adalah warisan kakeknya yang memulai bisnis transportasi bus di tahun 1940-an. Satu unit bus yang tersisa ini adalah bus kesayangan yang sengaja disimpan pemiliknya. “Bus ini oleh kakek saya sengaja disimpan, saat berhenti beroperasi kondisinya masih baik. Kami kaget juga ternyata cuma dibersihkan dan ganti aki, bisa hidup lagi mesinnya. Bahkan saat ganti oli, kondisinya masih bersih olinya,” kata Yanto.

Yanto mengaku tidak mengetahui persis tahun pembuatan bus Austin yang klasik ini. Dia menjelaskan, basis bus itu adalah truk Austin yang disisakan bagian kaca hingga bumper depan saja, selebihnya ke belakang dibuat dari kayu, seperti bus kebanyakan di jamannya. Dia menyebut angka tahun 1947 sebagai lansiran pembuatan truk dari pabriknya. Sayangnya, semua surat-surat bus lawas milik kakeknya tak bisa ditemukan, tercecer entah kemana dan tak ada satu pun yang tersisa.

Dilihat dari versinya, menurut pemerhati kendaraan klasik di Indonesia, Robert Permadi, bus Austin ini lansiran tahun 1950-1960. Ada ciri khas khusus untuk setiap produk otomotif mewakili eranya. “Ciri khas itu bisa dilihat mulai lampu, bumper maupun rumah roda. Kebetulan saya ada referensi model truk Austin, tahun pembuatannya sekitar tahun 1950-1960-an,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari wikipedia.com truk model ini diproduksi dalam dua bendera berbeda di bawah naungan British Motor Coorporation (BMC). Ada yang berlabel Morris GR ada pula yang menyandang label Austin. Seri type/model yang diberikan BMC adalah S203, S403 dan S503. Angka di depan menunjukkan Gross Vehicle Weight (GVW), yakni 2, 4 dan 5 ton. Diproduksi pertama kali di tahun 1955 dan berakhir diproduksi 1964.

Mesin yang disandang untuk masing-masing tipe tidak sama ada yang mesin diesel 3,1 liter, mesin diesel 5,1 liter dan mesin bensin 4 liter. Truk dengan mesin diesel 3,1 liter tidak dieskpor keluar Inggris. Dari identifikasi ini, bus Austin PO. BAIK persis dengan spesifikasi yang disebut untuk tipe S503 yang menyandang mesin bensin 4 liter dan diesel 5,1 liter yang memang diekspor keluar Inggris.

  

Bagaimana kondisi bus Austin berkelir dominan biru dan krem itu? Bus terbuat dari kayu jati yang masih terlihat kokoh. Cukup tebal untuk dibandingkan dengan papan-papan kayu yang lazim kita temui saat ini. Guratan kayu jati yang indah bisa dinikmati saat kita memasuki bus. Tidak hanya lantai, dinding dan langit-langit kabin penumpang bisa membuat siapapun yang masuk ke dalam bus pasti terpukau. “Bus ini pernah ditawar kayunya, yang menawar tahu persis nilai kayu jati yang mungkin sudah tidak ditemukan lagi di tempat lain,” kata Yudi.

Atap bagian luar juga terbuat dari kayu yang juga dilapis seng, sambungannya sangat rapi sehingga tidak terlihat ada rembesan air dari dalam kabin penumpang. Sementara, dinding bagian luar dilapis lembaran seng tipis. Tidak ada penyok di badan bus, hanya bekas baret di bagian pintu belakang, dengan cat yang terlihat kusam tetapi tetap mulus permukaannya. Catnya masih terjaga, cat pertama saat bus itu beroperasi.

Sebagai peninggalan jejak sejarah transportasi di Bandung dan Jawa Barat, bus PO. BAIK ini sebetulnya layak dipertahankan. Sepanjang catatan haltebus.com, jejak sejarah transportasi bus di Indonesia amat minim. Di musem Transportasi hanya ada tiga unit bus yang merepresentasikan sejarah bus, mulai tahun 1960, 1970 dan 1980.



Sementara untuk bus-bus kayu, sangat sulit ditemukan. Selain di Bandung, yang masih terpelihara dengan baik adalah bus Chevrolet tahun 1940-an yang dirawat oleh Jos Dharmawan, kolektor kendaraan antik di Bali. Selebihnya ada 10 unit bus kayu milik PO. Sabang Jaya di Toboali, Bangka Selatan, yang menunggu untuk direstorasi. Sayangnya, bus kayu Austin PO. BAIK pun juga harus dilepas dari pemilik yang merawatkan sejak dibeli. “Kami sudah tidak berbisnis di transportasi bus, dan bus kayu ini terpaksa kami juga karena sudah tidak ada yang bisa merawatnya,” ujar Djuljanto kepada haltebus.com. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013