Sabtu, 16 Desember 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
MENGUKUR STANDAR KESELAMATAN LEWAT KOMPETISI PENGEMUDI
 
10 Agustus 2017


(Putra Jaya – haltebus.com) Scania South East Asia menggelar kompetisi pengemudi kendaraan komersial, bus dan truk se-Asia Tenggara untuk pertama kalinya. Ajang itu digelar di Malaysia Argo Exposition Park, Serdang, Putra Jaya, Kamis (3/8/17) dan diikuti 19 peserta dari lima negara di ASEAN. “Scania memiliki perhatian untuk masalah keselamatan di jalan raya dan juga penggunaan bahan bakar yang hemat dengan kemampuan pengemudi yang baik,” kata Managing Director Scania South East Asia, Marie Sjödin Enström saat upacara pembukaan.


Menurut Marie, Scania telah mengadakan kompetisi ini untuk pertama kalinya dan diawali di Eropa pada tahun 2003. Sejauh ini sudah 350 ribu pengemudi di 50 negara mengikuti Scania Driver Competitions, yang menjadi kompetisi pengemudi terbesar di dunia.

Dalam kompetisi di regional ASEAN lima negara yang terlibat adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Myanmar dan Filipina. Hadiahnya uang tunai dan trofi, peserta terbaik akan mendapatkan 10 ribu Ringgit Malaysia sekitar Rp. 32 juta (1 RM = Rp. 3.200). “Anda yang menjadi peserta di sini menurut saya sudah menjadi pemenang, karena anda semua terpilih sebagai yang terbaik dari masing-masing negara,” ujar Enström.



Dilihat sekilas kompetisi ketrampilan dan kecakapan pengemudi itu terlihat sederhana dan mudah. Namun jika diikuti betul, ketentuan yang berlaku dalam penilaiannya cukup ketat. Ada dua tes yang harus dilalui peserta. Pertama Knock the King, dimana setiap peserta harus menjatuhkan tiang merah di antara dua tiang biru dengan kendaraan besar yang mereka kemudikan.

Di tes kedua, ada Boardwalk, dimana pengemudi harus menginjak dua lembar papan di dua titik yang berbeda, baik dalam posisi maju maupun mundur. Manuver kendaraan dibatasi dengan kerucut dalam areal yang boleh dibilang sempit untuk ukuran kendaraan besar. Di akhir manuver, pada tes kedua ini, peserta harus menginjak balon sampai meletus dengan roda kanan depan yang berada tepat di bawah dan sedikit ke belakang posisi pengemudi.



Kedua tes dalam Scania Driver Competitions membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Peserta Indonesia yang mengikuti kompetisi ini tidak asing dengan kedua tes yang mereka lalui di Putra Jaya itu. Namun, ada satu posisi yang berubah dalam tes jika dibandingkan dengan kompetisi yang mereka ikuti April lalu di Jakarta. Dalam tes Knock the King posisi tiga tiang yang ada di sudut belakang dalam Scania Driver Competitions South East Asia berbeda. Walau perbedaannya sedikit, posisi tiang merah dan biru yang terlihat menyulitkan siapapun.

Dalam tes di Jakarta posisi tiang merah ada pada sudut 45° di dua titik di sudut kotak manuver. Sementara posisi di Putra Jaya tiang merah tidak membentuk sudut, melainkan sejajar dengan garis batas belakang area manuver kendaraan. Jangankan untuk peserta yang mengemudikan truk trailer, untuk pengemudi bus saja tidak semua peserta bisa menjatuhkan tiang merah dengan akurat. Apalagi posisinya di sudut sempit dan berbatasan dengan garis area manuver.



“Posisi ini sangat sulit, memposisikan bus dan menjatuhkan tiang yang ada di belakang yang tidak terlihat, sementara di sisi samping ada garis batas yang gak boleh dilewati,” kata Feriyanto Gini Lomi, pengemudi bus PO. Rosalia Indah yang mewakili Indonesia.

Kesulitan yang dihadapi Feriyanto tak seberapa dibandingkan dengan Kukuh Hendrawan dari PT. United Tractors Semen Gresik yang mewakili Indonesia untuk kategori truk. Dia harus mengendalikan truk trailer sepanjang lebih dari 12 meter, meliuk-liuk menyelesaikan target yang ditentukan. Kukuh mengaku hanya mengandalkan insting dalam menjatuhkan tiang maupun meniti papan sampai menginjak balon dengan roda truk. Selama mengikuti perlombaan Kukuh terlihat tegang, nyaris tanpa senyum.

Business Development Director di Scania South East Asia, Ian Tan mengungkapkan, kompetisi ini menunjukkan bahwa seorang pengemudi harus memiliki kemampuan yang komplit. Kompetisi antar pengemudi, lanjut dia, menunjukkan pengemudi kendaraan komersial tidak jauh berbeda dengan komplesitas yang harus dihadapi profesi lain seperti pilot, nakhoda maupun masinis.



Menurut dia untuk mengendalikan kendaraan yang besar, pengemudi harus menyatu dengan kendaraan, selain harus memahami aturan lalu-lintas, mereka juga harus menjaga kondisi badan yang prima. Saat bertugas di jalan raya, pengemudi kendaraan komersial dituntut mengantar muatan, baik penumpang maupun barang dengan selamat.

“Tidak sekedar insting, mereka harus mengenal betul kendaraannya dan mampu mengendalikan serta cakap dalam mengontrolnya di jalan raya. Orang yang melihat kompetisi ini pasti beranggapan itu sangat mudah, hanya maju atau mundur dan mereka berpikir : saya pun bisa. Jika mereka mencoba pasti akan merasakan kesulitannya,” kata Ian.



Ian berharap kompetisi yang diikuti negara-negara ASEAN ini bisa berkembang. Negara-negara yang menjadi peserta juga dapat bertambah, sehingga mereka bisa mengetahui karakteristik pengemudi di negara-negara ASEAN. Menurut Ian, kompetisi pengemudi menjadi tolok ukur kita melihat bagaimana standar pengemudi di negara-negara ASEAN dan membentuknya ke arah yang lebih baik.

“Saya mengajak para pengemudi untuk ikut kompetisi ini. Keluarlah, ikutlah ambil bagian. Hanya dengan cara seperti ini anda akan mengetahui kemampuan anda, dan kita semua bisa mengetahui apa yang harus kita perbuat untuk membuat standar keselamatan, keamanan dan kenyamanan yang baik. Kali ini kami belum mengujikan kecakapan mengemudi di jalanraya, apa yang dilakukan oleh PT. United Tractors dengan tes di jalan raya sangat baik, kami akan pertimbangkan untuk kompetisi berikutnya,” kata Ian bersemangat. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013