Jumat, 15 Desember 2017 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PERUSAHAAN BUS SEGERA HARUS MENGUBAH POLA PEMASARAN
 
15 November 2017


(Jakarta – haltebus.com) Pengusaha bus harus mengubah pola pemasaran untuk meraih pasar yang lebih luas, agar tak kalah bersaing dengan moda angkutan lain. Menurut Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengungkapkan, di era serba digital saat ini sudah waktunya pengusaha bus menerapkan transaksi digital. “Saya kira jika perusahaan bus tidak mengubah pola pemasarannya, maka bisa semakin tertinggal,” katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (30/10/17) lalu.

Tulus mengungkapkan, berdasarkan hasil survey terhadap pelanggan, angkutan bus termasuk yang banyak dikeluhkan masyarakat. Pola kejar setoran, mengabaikan pelayanan sampai kualitas kendaraan yang buruk menjadi hal yang sering dikeluhkan. Menurut dia, harus ada standar baru agar pengusaha bus bisa bersaing dengan moda angkutan lain.

Dia mencontohkan kasus bentrok antara taksi konvensional dan taksi online yang belakangan banyak terjadi di berbagai kota. Kemudahan-kemudahan yang dirasakan masyarakat yang sudah akrab dengan dunia digital melalui gawai, membuat taksi online sangat cepat digemari, dan menjadi bagian kebutuhan mereka.
 

Dorongan agar pengusaha bus menggunakan sistem penjualan tiket digital melalui internet juga diungkapkan Pelaksana Tugas Dirjen Perhubungan Darat, Hindro Sutarman. Menurut dia, pemerintah menargetkan tahun 2017 ini semua pengusaha bus sudah memiliki jaring penjualan tiket melalui internet. “Perubahan itu sesuatu yang tidak terelakkan, dan tiket online sudah harus segera diterapkan,” katanya.

Menurut Hindro, peluang pengusaha transportasi bus terbuka lebar seiring dengan pembangunan infrastruktur jalan tol. Peluang itu, lanjut dia, harus disikapi dengan peningkatan pelayanan. Salah satunya dengan menyiapkan akses yang luas kepada pelanggan melalui sistem penjualan tiket melalui internet. Dia mengakui, pembangunan jaring penjualan tiket via internet ini menjadi
 

Di sisi lain, sejumlah pengusaha bus juga sudah memulai membangun sistem penjualan tiket melalui jaringan internet. PO. Rosalia Indah misalnya, September lalu merilis penjualan tiket melalui situs resmi milik mereka. Sementara PO. Sumber Alam yang tengah berbenah, dalam sepekan ini juga sedang mempersiapkan semua keperluan peralihan dari transaksi manual ke transaksi digital.

Sedangkan PO. Sinar Jaya, sejak Juli lalu secara bertahap menyosialisasikan perubahan sistem termasuk perubahan bentuk tiket secara internal juga ke pelanggannya. Perusahaan yang berbasis di Cibitung, Bekasi itu sudah menyiapkan ruang tunggu khusus untuk pelanggannya demi mempermudah peralihan dari transaksi manual ke digital. “Kami berharap nantinya bisa mengoperasikan anjungan tiket mandiri di ruang Sinar Jaya Lounge ini,” kata Eko Yulianto, dari PO. Sinar Jaya.
 

Presidium Masyarakat Transportasi Indonesia, Muslich Zainal Asikin mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas pelayanan. Menurut dia, beberapa perusahaan bus sudah menunjukkan komitmen mengubah pola pelayanan. Sebagian lagi, kata dia, bahkan sudah mengoperasikan bus-bus tingkat untuk antar kota antar propinsi. Sudah selayaknya, pemerintah juga mendukung para pengusaha angkutan bus agar angkutan missal bisa berkembang. “Investasi yang ditanamkan pengusaha bus sekarang ini sangat tinggi, tanpa keberpihakan pemerintah, mereka akan sulit meningkatkan kualitas pelayanan. Saya sudah melihat langsung bagaimana mereka mulai berinovasi. Saya naik bus tingkat Jakarta-Solo-Wonogiri-Jakarta,” katanya bersemangat.

Muslich menambahkan, kemudahan masyarakat untuk akses menuju dan dari terminal juga perlu diperhatikan pemerintah, jika ingin mendorong masyarakat mau naik bus. “Saya tengah malam turun dari bus di Pulogebang bingung mau naik apa. Ini riil, ini saya alami sendiri. Ini bagaimana?,” begitu dia mengungkapkan pengalamannya.
 

Fenomena angkutan konvensional yang bersaing dengan angkutan berbasis transaksi online menghantui operator bus di Indonesia. Rumus jika semakin efesien operasional perusahaan, maka akan semakin kuat dalam kompetisi kini mulai terlihat di angkutan bus. Di Eropa, Flix Bus/Mienfern Bus, salah satu perusahaan bus yang prinsip low carier bus yang berbasis jaringan internet sebagai basis manejemennya, sudah menunjukkan prestasinya. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Flix Bus memiliki 1.000 unit armada termasuk mengakuisisi perusahaan asal Jerman, Meinfern Bus. Semoga kondisi yang sama juga terjadi di perusahaan-perusahaan bus di Indonesia. (naskah : mai/foto : mai/dok. PO. Sumber Alam/dok. haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013