Rabu, 20 Juni 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SENSASI TENAGA RESPONSIF SKS ASC SF 350 PS
 
07 Februari 2018


(Jakarta – haltebus.com) Sebagai pendatang baru, bus SKS mengundang penasaran banyak orang. Sejak pertama chassis SKS ASC SF bertenaga 350 HP milik PO Manhattan datang di Jakarta, kemudian dirakit sampai bus selesai dibuat di Karoseri Laksana, haltebus.com mendapatkan kesempatan mengikutinya dari dekat.

Menurut Direktur Teknik dan Operasional PT. Metro Multi Transportasi (MMT), Tjahjo Wibowo, mereka sengaja mendatang chassis ini sebagai alternatif mencari bus baru. Mereka ingin menghadirkan bus yang nyaman untuk melayani pelanggan mereka yang rata-rata sangat loyal. “Kami mencoba segala jalan yang bisa kami lalui untuk mendapatkan bus dengan karakter yang kami inginkan sehingga pelayanan untuk pelanggan bisa optimal,” ujar pria yang akrab disapa Bowo ini di Semarang, Senin (22/1/18).

Perjalanan SKS ASC SF 350 HP yang dipilih PT. MMT cukup panjang. Mulai dari PT. MMT melakukan penjajakan, hingga memutuskan untuk mendatangkannya dari Malaysia. Ketika pertama datang, Desember 2016 chassis masih dalam bentuk setengah jadi, setelah dirakit, kemudian menjalani uji tipe. Barulah pada pertengahan 2017 chassis itu bisa dikirim ke Karoseri Laksana.



Saat haltebus.com pertama kali melihat chassis SKS ASC SF, kesan pertama bentuk dan tampilannya tak kalah dari bus-bus bertenaga besar yang beredar di Indonesia. Karakternya menyerupai bus-bus Eropa. Bermodalkan chassis space-frame, ber-suspensi udara, mesin yang besar dan bentuk kaki-kaki mengikuti bus-bus bertenaga besar yang kini tengah menjadi perhatian banyak pengusaha bus negeri ini. “Saat pertama kami di Malaysia, begitu melihat bentuknya kami langsung penasaran. Kami pun berkesempatan mencoba bus yang sudah jadi. Karakternya sangat baik, bertenaga besar, stabil, teknologinya terbaru,” kata Bowo.

Bowo yang mengikuti detil perkembangan sejak bus datang hingga bus jadi merasa puas bisa mewujudkan langkah awal PT. MMT dalam menyiapkan bus terbaik. Namun, pria lulusan Teknik Mesin ITS ini mengaku masih memonitor perkembangan bus dalam operasional sehari-hari dengan medan jalan Indonesia yang khas. Apalagi PT. MMT dengan merek dagang PO. Manhattan itu melayani bus wisata dengan karakter operasional di beragam. Medan yang harus dilalui mulai jalan perumahan hingga jalan menanjak berliku di pegunungan yang menjadi lokasi wisata.

Sayangnya saat bus memulai perjalanan perdana menuju garasi utama PO. Manhattan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan dari Ungaran, Bowo tak ikut serta. Sebagai gantinya salah satu pimpinan PO. Manhattan Ribby Raharto yang ikut memantau perjalanan. Tiga pengemudi yang ikut serta dalam perjalanan itu juga mengambil kesempatan mengujicoba bus asal Malaysia.

Ridwan Lesmana, pengemudi senior di PO. Manhattan mendapat kesempatan pertama menjajal kemampuan SKS ASC SF bertenaga 350 HP itu. Keluar dari Karoseri Laksana, bus tidak langsung ke kanan kea rah Semarang/Jakarta, melainkan memilih ke kiri ke Bawen. Perjalanan menjelang pukul 23.00 ini diwarnai kekhawatiran akibat beberapa kegagalan mendeteksi masalah di awal tes jalan pertama dengan Karoseri Laksana, sore harinya. Bus bisa dipastikan berangkat setelah dicek ulang koneksi elektrifikasi dan pasokan bahan bakar menuju mesin dipastikan aman.

Di jalan arteri menuju Bawen yang menanjak, walaupun dengan kecepatan sedang, tenaga mesin sangat terasa. Ridwan beberapa kali melakukan adaptasi dan menerapkan pengalamannya membawa Mercedes-Benz O500R-1836 yang menjadi tanggungjawabnya sehari-hari. Dengan kecepatan 50-70 Km/jam dan posisi persneling menunjukkan angka 5-6 di box Allison Transmission, putaran mesin di tachometer ada di kisaran angka 1.100-1.300 RPM. Mesin Hino P11C-UJ yang menjadi pendorong SKS ASC SF sangat halus terdengar. “Tenaganya besar juga ya, mirip ini dengan bus yang saya bawa sehari-hari,” kata Ridwan.

 

Ujian pertama Ridwan untuk SKS dimulai saat bus lepas dari gerbang tol Bawen ke arah Semarang. Perlahan namun pasti dia mulai menekan pedal gas, seiring dengan itu putaran mesin dan kecepatan bus meningkat. Di satu titik, bus meluncur dengan kecepatan di atas 125 Km/jam pada posisi putaran mesin antara 1.500-2.000 RPM saat jalan menurun. Walau melewati jalan berbelok panjang di beberapa titik, kestabilan bus masih terjaga berkat Electronically Controlled Air Suspension (ECAS). Ada kompresor udara dua silinder yang menjaga pasokan tekanan angin yang diperlukan sistem yang tertanam pada chassis.

Tidak berhenti sampai di situ, Ridwan juga membiarkan bus melaju saat menuruni beberapa turunan panjang. Sesekali menginjak pedal rem, retader belum sepenuhnya berfungsi karena pengecekan menyeluruh terhadap bus dilakukan di Jakarta.
Ribby yang mengemudikan bus kedua dan sempat tertinggal di beberapa tanjakan, sempat memberikan isyarat lampu. Ridwan yang tak menyadari terus memacu busnya hingga di gerbang Tol Krapyak di menepikan bus dan mengecek hasil tes pertamanya itu. “Wah agak ngebul ya remnya. Mungkin karena terlalu lama di karoseri. Tapi kemampuan rem dan bus masih stabil tadi saat saya pacu agak kencang,” kata Ridwan.

Chan Wai Kiong, Teknisi Utama SKS yang merakit dan mengawasi ujicoba itu langsung mengecek keempat roda bus. Hanya satu pelek roda di sisi kiri depan yang terasa panas, selebihnya normal walaupun ada sedikit kepulan asap. “No problem, masih normal nanti kami cek ulang lagi,” ujar dia.

Pada perjalanan berikutnya dari Semarang, giliran Sumarjan yang mengemudikan bus itu. Di tangan pria berkumis ini, bus terasa lebih kalem, karakter kesehariannya ini membuat seisi bus terlelap. Tanjakan Alas Roban, beberapa tanjakan di seputar Subah, Banyuputih dan sekitarnya dilahap dengan santai. Awalnya dia sempat melontarkan nada kekhawatiran akan perpindahan transmisi dari posisi netral dan posisi diam. “Wah sya kira kalo lepas pedal gas gak bisa langsung jalan, ternyata bisa. Tenaganya terasa nih,” katanya sambil diiringi tawa kecil.

Giliran Ali Akbar yang mengemudikan bus yang tingginya 3,85 meteran itu, tak jauh berbeda. Jika Sumarjan bisa menempuh Semarang – Wiradesa, Pekalongan tak sampai dua jam, Ali yang sering membatasi kecepatan di angka 90 Km/jam ini melahap Wiradesa – Pejagan hanya sekitar dua jam pula. Di tangan Ali kemampuan di jalan datar SKS ACS SF bertenaga 350 HP itu terlihat. Hanya di putaran mesin di bawah 1.500 RPM bus melesat di angka 80 Km/jam. Sesekali Ali menginjak pedal gas dan bus melampaui 110 Km/jam dan jarum RPM tak melebihi angka 2.000 RPM. Torsi maksimum mesin Hino P11C-UJ berada di angka 1.460 Nm pada putaran 1.100 RPM.



Lima orang dari PO. Manhattan yang mengemudikan SKS ASC SF berkomentar sama. Ditto Birawa yang mendapat giliran keempat tidak terlalu terkejut karena pernah ikut ujicoba di Malaysia. Perbedaannya, kata dia, bus yang di Malaysia sudah dalam kondisi siap operasional. Sementara SKS milik PO. Manhattan belum sepenuhnya disetel kinerja mesin dan fitur-fiturnya. “Saya yakin kalo sudah disetel kemampuannya bisa lebih dari yang kita rasakan saat ini. Seperti ini saja sudah sangat stabil, bertenaga, suspensinya empuk, walaupun tidak seempuk Scania,” ujar pria yang banyak menangani promosi PO. Manhattan.

Sementara Ribby Raharto yang mendapat giliran terakhir justru menghadapi tantangan kemacetan khas Jakarta. Secara keseluruhan perjalanan Semarang – Jakarta hingga batas Cilangkap menghabiskan waktu 8 jam 30 menit. Catatan waktu yang lumayan baik, mengingat bus lima kali berhenti sekedar minum kopi maupun ke kamar kecil. Di satu titik saat jalan lengang kerja mesin diuji Ribby hingga 2.000 RPM dengan kecepatan melampaui 125 Km/jam di Tol Cikampek-Jakarta.



Walaupun harus merasakan kemacetan sekitar s
atu jam lebih 20 menit terakhir menjelang masuk ke garasi, Ribby terlihat nyaman dibalik kemudi SKS. Bodi bus Legacy Sky SR2 XHD Prime yang besar, tak merepotkan dia mencari celah di antara deretan truk. Berkat tenaga dan transmisi yang responsif, sedikit demi sedikit ruang yang tersisa bisa dilalui. “Wah enak banget ini untuk kondisi macet, kita masih bisa dapat (ruang) lah. Tenaga mesin sangat membantu,” begitu dia berkomentar.


Perjalanan singkat Semarang – Jakarta mungkin tak seberapa dibandingkan situasi pada kondisi operasional sehari-hari. Bus dengan konfigurasi kursi 2-2 dan kapasitas 47 penumpang itu yang dioperasikan untuk bus wisata memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Jalan yang dilalui mulai perumahan dengan kondisi jalan yang sempit sampai jalan di pegunungan yang menanjak-menurun-berliku yang banyak menjadi titik kunjungan rombongan wisata.

Uji operasional sesungguhnya di PO. Manhattan, bisa menjadi penentu masa depan chassis bus yang sudah banyak beredar di jalur antar Malaysia – Singapura. Bukan itu saja, masih ada tantangan, dimana salah satu pabrikan bus di Indonesia juga mengusung mesin dengan merek yang sama namun tipe yang lebih besar. Persaingan yang harus ditembus SKS ASC SF cukup berat. Namun Bowo, yang mengaku siap menghadirkan chassis itu jika ada yang berminat, masih berkeyakinan sekecil apapun peluang tetap ada. “Semoga bus ini punya masa depan yang bagus di Indonesia,” katanya. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013