Sabtu, 15 Desember 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
AKANKAH BUS ALUMUNIUM JADI STANDAR BARU TRANSJAKARTA?
 
02 Maret 2018


(Jakarta – haltebus.com) PT. Transjakarta mulai menggunakan bus dengan bodi aluminium penuh. Tidak sekedar plat, melainkan rangka dibuat dari bahan aluminium. Penerapan bus berbahan aluminium sepenuhnya ini baru pertama kali dilakukan Badan Usaha Milik Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu. PT. Transjakarta mencoba mengikuti model bus kota berpanel alumunium yang banyak digunakan di Singapura.

Menurut Direktur Teknik dan Fasilitas PT. Transjakarta, Widjanarko, bus-bus kota di Singapura ini, banyak menggunakan bodi aluminium dan berlantai rendah. Pintu bagian depan yang bisa digunakan untuk masuk dan pintu keluar lebih lebar dari bus-bus yang dioperasikan PT. Transjakarta. “Kami merasakan flow-nya enak. Akhirnya saya dengan pak Budi bilang, ya sudah kita samakan saja dengan Singapura, modulnya juga sudah ada,” kata dia di Kudus, Jawa Tengah (13/02).

PT. Transjakarta mengajak sejumlah wartawan untuk melihat dari dekat bagaimana pembuatan bus untuk kota Jakarta. Salah satu kegiatannya mengunjungi Karoseri Nusantara di Kudus. PT. Transjakarta membuat 101 unit bus low entry Mercedes-Benz O 500 U-1725 dari 150 unit bus Mercedes-Benz yang dipesan.

Panel aluminium untuk bus yang digunakan Karoseri Nusantara Gemilang mengingatkan kita pada rangkaian atap baja ringan. Mereka menerapkan cold assembly. Tidak ada porses pengelasan untuk merangkai struktur atas, sebagai gantinya hanya panel dirangkai dengan perekat khusus atau mur dan baut. Pengelasan hanya digunakan untuk struktur bawah bus yakni pada bagian chassis. Saat dirangkai, bentuk bus lebih terlihat kotak-kotak dan persisi. Ruang kaca yang yang terbentuk juga lebar.

Sandra menjelaskan, proses perakitan bus dilakukan secara paralel. Chassis dipotong kemudian dilepas beberapa bagian seperti bagian electrical dan sambungan lainnya. Perakitan bodi alumunium dibagi menjadi tiga bagian, bodi samping kiri, samping kanan, dan atap. Sebelum memasang badan bus yang sudah dirakit, proses awal justru merangkai lantai tengah, lantai belakang, di atas ban, kemudian lantai depan di bagian kabin pengemudi.

Perakitan dilanjutkan dengan memasang body samping kiri, bagian atas mesin, body samping kanan dan terakhir atap. Pemasangan rem depan dan belakang dilakukan setelah pemasangan body bus selesai. Tahap selanjutnya adalah pemasangan kulit eksterior dan dilanjutkan interior bus, termasuk electrical.

Widjanarko mengatakan, perbedaan bobot bus menggunakan alumunium lebih ringan 800 kg dibandingkan menggunakan baja. Selisih 800 kg itu, membuat kapasitas daya angkut dari sisi beban, lebih banyak. “Dari 800 kg dibagi 60 kg ada marjin kira-kira 10-14 orang. Artinya, bus yang menggunakan alumunium dapat menampung 10 sampai 14 penumpang lebih banyak daripada bus yang menggunakan baja.”

Bus low entry berbahan aluminium ini, menurut Widjanarko, bisa mengangkut 73 penumpang. Selain bisa memuat dua kursi roda, ada 37 berdiridan 34 kursi duduk. Sedangkan bus low entry berbahan baja, kata dia, hanya mampu menampung 66 penumpang.

General Manager Karoseri Nusantara Gemilang, Sandra menambahkan kelebihan kelebihan bus alumunium yang lebih ringan. Menurut dia, berpengaruh pada sisi operasional. “Karena lebih ringan otomatis membuat bahan bakar lebih hemat dan ban lebih awet. Penggunaan bahan bakar yang lebih irit,” jelasnya.

Widjanarko menjelaskan ada dua hal yang mereka perhatian dari bus berlantai rendah yang mereka aplikasikan di Jakarta. Selain bahan baku aluminium yang ringan, konsep pintu depan yang bisa digunakan dua lajur memudahkan penumpang ketika naik dan turun. “Terus terang kami tidak punya ide, jadi hanya copy paste dari Singapura,” ujarnya

Bus low entry, memiliki perbedaan ketinggian. Dari pintu depan hingga pintu tengah lantainya rendah, sedangkan pada bagian belakang, mulai satu meter menjelang as roda belakang ada tangga sehingga lantai bagian paling belakang posisinya lebih tinggi dari bagian depan. Konsep ini diaplikasikan di banyak kota besar dunia. Bagian dek belakang yang didesain lebih tinggi untuk tempat duduk penumpang dengan tujuan terjauh. Sedangkan, dek depan yang lebih rendah untuk penumpang dengan tujuan dekat, baik dalam posisi duduk maupun berdiri.

“Di dek tinggi, penumpang tidak diperbolehkan berdiri sebab jika bus mengerem, dia akan terjatuh karena dek di depannya lebih rendah,” ujar Direktur Utama Transjakarta, Budi Kaliwono yang ikut dalam perjalanan itu.

Dia menambahkan, pada saat Mass Rapid Transit (MRT) beroperasi, bus-bus Transjakarta berlantai rendah akan difungsikan sebagai feeder. Penumpang dengan tujuan tempuh dekat bisa berdiri di dek depan sehingga memudahkan mereka keluar-masuk.

Soal ketahanan bus alumunium, Budi menerangkan, salah satu kelebihan alumunium adalah tidak bisa bekarat. Semakin tua semakin tebal karena bisa menciptakan lapisan baru. Namun jika mengacu pada peraturan pemerintah daerah DKI Jakarta, badan bus harus diganti setelah 10 tahun.

“Di Singapura itu bisa bertahan hingga 17 tahun. Kita yakin bisa bertahan hingga 15 tahun,” ujarnya. “Dan body bus yang sudah tidak terpakai bisa didaur ulang, dilebur, kemudian dijadikan alumunium lagi untuk dirakit kembali menjadi bus,” kata dia menambahkan. (naskah : baw/foto : lak)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013