Selasa, 19 Juni 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
PT. MOBIL ANAK BANGSA PERKENALKAN PROTOTIPE KEDUA
 
02 April 2018


(Jakarta – haltebus.com) Kehadiran bus listrik dari PT. Mobil Anak Bangsa (MAB) banyak menarik perhatian masyarakat. Bukan hanya karena ada Jenderal (Purn) Moeldoko yang menjadi inisiator kelahiran bus listrik itu, tetapi penampilan dan spesifikasinya mengundang penasaran banyak pihak. “Banyak orang mengira bus listrik Mobil Anak Bangsa ini masih baru konsep, mereka kaget, begitu diundang dan melihat langsung, ternyata busnya sudah ada wujudnya. Lebih kaget lagi ketika mencoba ternyata sangat baik,” kata Moeldoko, Sabtu (3/3/18) di sela-sela pameran Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) di Jakarta Convention Center.

Moeldoko mengungkapkan, cita-citanya membuat bus listrik tak terlepas dari Eko Fajar. Menurut Moeldoko, Eko adalah, salah satu orang Indonesia yang berkarir di Sony dan menjadi salah satu tenaga ahli baterai untuk perusahaan elektronik itu. Dari Eko, Moeldoko mengaku banyak belajar tentang teknologi baterai. Idenya berkembang, saat mulai tidak aktif di TNI dan bercita-cita agar Indonesia memiliki kemandirian teknologi dan memiliki bus listrik buatan bangsa sendiri.

Hanya dalam kurun waktu setahun, Moeldoko dan tim yang dibentuknya membuat terobosan besar. Dua prototipe langsung digelar ke public. Prototipe pertama, dijadikan ujicoba membentuk rangkaian bus listrik sistem pengisian tenaga, baterai penyimpan tenaga listrik, motor listrik dan sistem pendukung lainnya. Selesai dengan prototipe pertama di tahun 2017 lal, tim PT. Mobil Anak Bangsa kemudian langsung berlari dengan prototipe kedua.



Desain bus prototipe dua sudah lebih tegas dari prototipe pertama. Mengambil model low entry untuk kebutuhan bus kota, desain bus memperlihatkan desain khas bus-bus Eropa. Atap yang tinggi, lantai yang rendah, pandangan keluar juga bebas berkat kaca yang cukup lebar. Alhasil, kesan kabin penumpang menjadi sangat lapang untuk ukuran bus kota. Bodi bus yang dibuat di Karoseri New Armada itu, dipesan khusus menjadi baju kebesaran mobil listrik dengan seri model MD255-XBE1.

Komponen bus, lebih dari 50 persen diimpor dari luar negeri. Salah satunya adalah baterai model LiFePo (Lithium Ferro Phosphate) yang masih dipasok China Trustful dari Shanghai. Motor listrik model Permanent Magnetic Synchronous Motor dan beberapa komponen elektrikal juga masih dipasok dari luar negeri. Moeldoko bercita-cita semua komponen bisa dibuat di Indonesia dan transfer teknologi bisa dilaksanakan 100 persen, “Untuk Baterai saya minta mereka memproduksinya di Indonesia, tidak di sana,” kata Moeldoko.



Saat haltebus.com memperhatikan bus dari dekat, beberapa indikator bus modern perkotaan bisa terlihat. Panel tachometer pada dashboard sudah full digital. Fungsinya sebetulnya sama dengan yang ada di panel tachometer bus bermesin diesel, hanya tampilannya sedikit berbeda. Ada dua penunjuk utama di tachometer, yakni kecepatan dan putaran motor listrik saat bus bergerak. Ada pula panel penunjuk posisi daya listrik yang tersimpan pada batere.

Menurut Direktur Teknik PT. MAB, Bambang Tri Soepandji, mereka membuat bus listrik benar-benar dari nol untuk prototipe kedua ini. Pada prototipe pertama, mereka menguji rangkaian komponen kendaraan listrik. Sedangkan pada prototipe kedua, mulai bogie/chassis, bodi hingga rangkaian komponen listrik yang diperlukan sudah didesain sendiri. “Kalo saya bilang ini 100 persen buatan Indonesia nanti saya dibilang bohong, yang jelas semua desain, bagaimana membuat bus ini hasil karya anak bangsa. Sementara ini kami belum sepenuhnya menggunakan komponen buatan Indonesia, tetapi kami menuju ke arah sana,” kata pria yang akrab disapa Ongky ini.



Bus listrik, menurut Ongky, dipilih PT. MAB karena relatif mudah dan bisa direaslisasikan lebih cepat dibandingkan dengan kendaraan penumpang jenis mobil. Selain itu, lanjut dia, untuk pengembangan untuk menjadi sebuah pabrikan otomotif, pembuatan bus juga lebih sederhana dibandingkan dengan mobil. Dia menjelaskan, Indonesia harus berani menunjukkan kemampuan membuat kendaraan listrik kepada dunia. Apalagi, kata dia, tren industry otomotif dunia mengarah pada kendaraan yang mulai meninggalkan bahan bakar fosil.

Bus MD255-XBE1 ini bisa melaju hingga 70 Km/jam. Dari sisi desain, kabin penumpang yang lapang menjanjikan kenyamanan untuk bus perkotaan. Ada suspensi udara yang bisa diatur ketinggiannya secara otomatis untuk menambah kenyamanan penumpang. PT. MAB mempercayakan urusan penopang beban kendaraan hingga sumbu roda pada ZF. Sementara pengisian batere hanya membutuhkan waktu dua-tiga jam untuk setiap rentang jarak operasional 200-300 Km. “Pada prototipe pertama rancangan kami sudah teruji hingga 4.000 Km, untuk yang kedua ini baru kami selesaikan dan langsung ikut pameran,” ujar Ongky.



Kehadiran bus listrik memang banyak menarik perhatian orang. Selama pameran GIICOMVEC bus yang dipajang persis di pintu masuk ruang pameran banyak dikunjungi. Tidak sedikit yang penasaran dengan spesifikasi busnya. Bukan hanya pengunjung biasa, beberapa perwakilan instansi swasta dan pemerintah juga silih berganti melihat-lihat bus, tak terkecuali beberapa petinggi pabrikan otomotif dalam dan luar negeri. (naskah : mai/foto : mai)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013